
Happy Reading...
Dewa cukup tenang menjalani hari-harinya. aksi protes yang kerap di lakukan oleh Cintya karena Dewa yang sering mencuri waktu untuk menemui Elvira sudah tak ada lagi. itu karena Dewa sudah memutuskan untuk tak lagi mempedulikan Elvira yang sering mengancam akan mencelakai dirinya maupun bayinya jika Dewa tak menemuinya.
Dewa cukup menunjukkan kepeduliannya sebagai mantan Bos dari Antoni dengan cara yang profesional. santunan dalam jumlah besar dan berlangsung lama cukup layak Antoni dapatkan sebagai seseorang yang berjasa besar bagi Dewa.
Di kantor.
Dewa terlihat lelah, mempunyai dua anak kembar serta istri manja membuatnya berperan ganda. seorang suami dan ayah bagi si kembar. tapi kemanjaan Cintya padanya mengharuskannya untuk berperan sebagai ayah dan juga kakak.
Benar kata Alex, Dewa akan mengalami kesulitan Hidup. ia seperti memiliki tiga orang anak yang menuntut perhatiannya.
"Kenapa lo?" tanya Alex karena Dewa terlihat sering menguap.
"Ngantuk!" jawabnya singkat.
"Begadang lo? si kembar masih lima bulan kan?"
Apa seperti itu caranya bertanya?
"Gue ada misi punya enam anak, jadi gak masalah kan kalo gue kebut semalam." alasan yang bagus, dan cukup berhasil membuat sang Asisten untuk diam.
"Asal lo siap aja sama lima mulut tiap hari."
Tak cukup dengan pertanyaan yang konyol, Alex ternyata masih mempunyai cara untuk membuat Saudara sealirannya itu merasa harus terus menjawab.
"Gue belom miskin Lex, harta gue masih sanggup ngasih mereka makan meski kantor ini gue tutup." jawab Dewa sedikit sombong. jika tidak begitu, Alex akan tetap membuatnya harus menjawab setiap pertanyaan tak masuk akal sahabatnya itu.
"Kalo itu gue percaya, maksud gue, lo siap di cereweti bini lo yang sekarang lebih manja itu?"
Nah kan, Alex akan terus bertanya. tapi untuk kali ini, Dewa yang di buat terdiam.
"Itulah masalahnya, saat hamil dulu perasaan dia gak manja sama gue, tapi sekarang dia gak biarin gue santai. ada aja ulahnya yang bikin gue puyeng." keluh Dewa setelah ia terdiam sambil berpikir.
"Mungkin dia dendam sama lo." bisik Alex lirih, seolah obyek yang sedang mereka bicarakan ada di sana.
"Dendam gimana maksud lo?" tak kalah konyol, Dewa pun bersuara lirih sambil memajukan tubuhnya. sedikit mendekat ke arah Alex yang duduk di seberang mejanya.
Posisi mereka seperti itu sudah mirip ibu-ibu kompleks yang sedang menggosipkan penghuni baru yang memakai barang mewah namun tak bekerja atau tanpa suami. istilah kerennya adalah sugar baby.
"Kan dulu elo yang manja, mungkin dia hamil beneran seperti kata lo."
"Kapan gue bilang gitu?" spontan Dewa menjauhkan tubuhnya sebagai aksi protes atas ucapan Alex.
"Tadi lo bilang kebut semalam."Alex merotasikan matanya. persis abege yang sedang mendebatkan salah satu siswa most wanted di sekolahnya.
"Si Cherry asem itu sudah sukses bikin lu makin oon! gue gak bilang bini gue hamil. tapi gak masalah kalo itu terjadi."
__ADS_1
"Cherry gue manis ya, bini lo tu yang pedes. terus lo ngapain kaya' ayam sayur gitu."
"Si kembar gak biarin gue tidur semalem."
"Mereka gak mau tidur maksud lo?"
Dewa mengangguk.
"Kasih obat tidur beres perkara."
"Sinting!"
Berbicara soal sinting, dua manusia yang sedang dalam masa peralihan dari dunia gelap menuju terang itu mendadak merindukan sosok teman mereka yang bisa di katakan paling sinting.
Katakanlah Zack yang paling liar di anatara ketiga sahabat itu. pria itu mendadak menghilang seperti singa lepas kandang. tak ada yang tahu di mana keberadaan pria keturunan Pakistan itu mungkin ia kembali ke habitatnya di timur tengah sana atau menghilang di bawah selang kangan seorang wanita.
Berbulan-bulan lamanya tak mendengar kabar dari salah satu personil trio sableng itu, membuat Alex dan Dewa menerka-nerka, jika sahabat mereka sedang memiliki masalah.
Pembuat masalah biasanya akan lebih dekat dengan masalah, begitu bukan.
Di tengah percakapan mereka yang tak terlalu penting, namun menjadi penting di saat kedua manusia takut istri itu sedang menggosipkan istri mereka masing-masing.
"Lex, lo sadar gak sih kalo sebenarnya dari kita bertiga itu yang paling menderita itu gue, dan si Jeki yang sekarang berada di negara antah berantah itu paling bahagia."
"Dia aman karena belom ada yang pegang tali kekangnya, coba nanti kalo dia udah ketemu jeratnya, gue pastiin dia yang paling menderita dari kita."
Dewa dengan masalah istri dan anak kembarnya, serta Alex dengan istrinya yang sedang hamil muda.
"Jangan bilang lo nyesel nikah sama Cherry asem lo itu, gak ingat lo waktu lo cerita acara unboxing lo yang berakhir dengan tendangan maut itu?" Dewa mengingatkan bagaimana malam pertama sebagai suami istri halal yang ia lakukan bersama Sherryl.
"Gue gak akan lupa soal itu, lagi keras-keras nya malah di tendang." Alex tertawa keras.
"Nikmatnya belom seberapa, ngilunya luar biasa."
"Untung ada tante lux." ucap Alex dan Dewa bersama. kedua pria sableng itu tergelak bersama.
Di tengah gelak tawa mereka, seseorang membuka pintu, dan muncullah sosok yang mereka rindukan. Si jeki dan seorang anak lelaki berusia delapan tahun.
Alex dan Dewa menoleh serempak. tapi mereka tak mengindahkan keberadaan teman mereka di sana karena fokus mereka pada pria kecil yang sangat tampan itu.
"Gue tau kalian kangen gue, tapi gak perlu melotot seperti itu." ucapan Zack menggugah keterpakuan Dewa dan Alex.
"Lo culik anak orang Jek?" tuding Alex tiba-tiba.
"Gue bisa bikin sendiri, ngapain culik anak orang." jawab Zack sambil nyelonong masuk dan membawa anak yang ia bawa duduk di sofa ruang kerja Dewa.
"Hebat lu, ngilang beberapa bulan langsung jadi tuh bocah, gede pula." timpal Dewa.
__ADS_1
"Dia anak gue asal kalian tau!"
"Apa?" nada panjang keluar dari mulut Dewa dan Alex. menunjukkan keterkejutan mereka yang luar biasa.
"Lo gak lagi ngelawak kan Jek?" tanya Dewa tak percaya.
Mereka tahu bagaimana liarnya Zack, tapi mereka tahu jika Zack tak akan menebar benihnya sembarangan.
"Lo kira gue Standar up komedi, gue serius. kalo biasanya lo bilang seserius bulan mengitari matahari." Zack menjiplak kalimat yang sering Dewa ucapkan dulu sewaktu mereka masih sering berkumpul di markas.
"Terus selama ini lo ngilang kemana?" tanya Alex.
"Gue nyari mak-nya."
Ini nih, yang membuat Dewa dan Alex semakin melongo.
"Tunggu gue rasa ada yang salah di sini, dia anak lo dari wanita yang mana?"
"Almira."
"Apa?" Alex yang paling keras, karena Dewa tak mengenal siapa Almira. "Gila! lo ninggalin benih lo!"
"Lex, jaga ucapan lo, ada anak kecil bego!" Dewa menonyor kepala asisten nya itu karena ucapannya yang vulgar.
Alex nyengir, "Lupa gue, maafin Om Alex ya nak!" Alex mengusap pucuk kepala anak berusia delapan tahun itu.
"It's oke, I'm fine."
Alex melongo takjub mendengar jawaban anak itu. "Di kasih makan apa dia sama emak nya?"
Zack mengangkat bahu, "yang gue tahu, sekarang dia kendaliin gue."
Dewa dan Alex kompak saling pandang lalu terbahak. "ternyata sumpah lo gak berlaku buat dia Lex." ejek Dewa karena ingat Alex yang pernah menyumpahi Zack yang akan jatuh cinta pada gadis Desa.
"Lo bener Wa, jadi lo aja yang sumpahin tuh bocah. kan mulut lo ajaib, Do'a pria alim di ijabahi."
"Gitu menurut lo?"
"He'em."
"Kalo gitu gue sumpahin lo bucin sama ukhti-ukhti dari desa."
"Apa!"
Zack yang berteriak, karena Alex sudah terpingkal-pingkal mendengar Dewa menyumpahi salah satu personil Trio Sableng itu.
"Not bad!"
__ADS_1
***