
Happy Reading,,, gees mumpung lagi rajin ini authornya, tak apelah jempolnya dikit. biar cepat kelar katanya, ha..ha..ha..
garing deh gue,,,
***
"Apa?"
Zack mencondongkan wajahnya lebih dekat kearah Alex yang wajahnya sudah memerah.
"Apa lu bilang barusan, elu di cium cewek, kok bisa?" Dewa menarik bahu Alex agar menoleh padanya.
Alex gagap sekaligus gugup, karena keceplosan. padahal ia sudah mati-matian menahannya. dan dapat di pastikan dua sahabat sablengnya itu akan menghajarnya habis-habisan dengan ledekan yang memekakkan telinga.
"Lex, lo budek apa tuli sih." Dewa sampai gemes lantaran Alex kembali pada mode bengong.
"Budek ama tuli sodaraan kali wa." Alex memutar bola mata, jengah.
"Tau nih, bocah!" Umpat Zack kesal.
"Bocah tua nakal maksud lo Jek?"
"Halah, kalian kebanyakan nonton sinetron Yoko."
Dewa menyela tak ingin kalah, apalagi menjadi obyek ledekan kedua temannya.
"Yoko bukan sinetron bego!"
"Dewa mah ketularan baby, sukanya nonton drakor." Zack memandang jijik pasang muka meledek.
"Yoko bukan drakor kali Jek!"
"Terus apa dong? mak rumpi? ah udah deh, kebanyakan cincong lu bedua?" jiwa kepemimpinan Dewa sepertinya sudah kembali merasukinya.
"Cerita sekarang, mumpung kuping gue lagi bener." desak Zack lebih mendekat ke arah Alex yang kembali pada mode bengong.
Untuk seperkian detik, mereka hanya terdiam menunggu cerita Alex yang masih terbengong. membuat Dewa gemes dan kembali melayangkan tangannya, menjambak rambut Alex yang sudah berantakan.
"Apa sih wa, tangan lo kurang ajar banget." Alex menepis tangan Dewa yang masih menggenggam rambutnya.
" Aset gue nih!" tangannya menyugar rambut penuh drama. membuat Zack dan Dewa mencebik.
"Lo kalo mau cerita cepetan, kalo gak gue mau pulang bini gue nungguin." sela Dewa lelah karena Alex tak juga memulai ceritanya.
"Oke, biar gue mulai."
Ketiga manusia itu saling berdekatan ketengah seperti sedang berembuk.
Dewa dan Zack pasang muka serius seperti anak kecil yang sedang menunggu dongeng si kancil.
Flashback on.
Alex menghentikan mobilnya di sebuah mini market mengingat adanya pesan lain dari bos. dengan memarkirkan mobilnya sembarangan lalu Alex masuk. hanya sebentar, pasti tak akan ada masalah dengan Mobil mahalnya.
Beberapa menit Alex di dalam mini market tersebut, Alex mulai gusar. pasalnya ia harus ikut berbaris di antrian yang sangat panjang.
"Sialan, antri lagi." umpatnya di ujung bibir, tapi masih dapat di dengar.
"Kalau gak mau antri bikin swalayan sendiri saja mas." celetuk ibu-ibu bertubuh gendut berdaster merah yang berdiri di depannya. mengingatkannya pada Lucia settingannya beberapa bulan lalu. seketika itu bibirnya tertarik membentuk sebuah cengiran bego.
"Udah gendut, cerewet pula. gue sumpahin lo gak bisa kurus. biar mirip ikan paus." gerutunya lagi dengan bibir bergumam.
"Aku dengar ya mas, asal kamu tau, gendut-gendut begini aku mantan kembang Rt. pinter goyang lagi." Cerocosnya dengan bibir maju mundur muncrat. membuat Alex memundurkan kepalanya, menjauh agar tak menjadi korban semprotan maut itu.
Oh lihatlah, bibir tebal bergincu merah itu membuat Alex ketakutan.
Lagian mana mungkin potongan seperti itu pandai bergoyang.
Dan apa tadi paus itu bilang? mantan kembang Rt?
Untungnya cuma mantan. berarti sekarang udah lengser. dan semoga penggantinya lebih baik dari pada dia.
Alex mikir apa sih. bisa-bisanya otaknya itu berpikir sampai sana.
__ADS_1
Masih bertahan dalam ekspresi bodohnya, Alex kembali di cerca.
"Gak usah mikir macam-macam, pengganti ku sekarang sangat kurus."
Alex menelan ludah, bagaiman bisa jelmaan paus itu mendengar umpatan dalam hatinya.
Entah hari apa itu. kenapa ia begitu sial.
Mencoba tak menghiraukan omelan tak berfaedah dari mulut ibu-ibu itu, Alex kembali pada posisi semula. berdiri tegak, mengantri dengan sabar seraya menampilkan senyum termanis.
Bagaimanapun, imagenya tentang pria ramah tak boleh luntur. siapa tahu ada yang kecantol dengan keindahan mata birunya dan senyum indah yang memabukkan.
Dengan sesekali melirik ke arah luar, Alex dengan sabar berjalan per satu langkah mengikuti antrian. di luar tak ada apapun atau siapapun yang mencurigakan.
Antrian sudah semakin sedikit. jaraknya dengan kasir perempuan cantik berambut sebahu hanya tinggal kurang dari dua meter.
Tapi yang Alex rasa, itu serasa berabad-abad. ia mulai gerah. kakinya mulai lelah. keringat di pelipisnya mulai meleleh. kendati di ruangan itu ada Ac-nya.
Lihat saja nanti, ia pastikan Dewa harus memberinya tips lebih atau uang tambahan jam lembur sebagai pengganti jam istirahatnya.
Tiga orang lagi yang harus ia tunggu. hingga netranya berbenturan dengan sekelompok anak muda di ujung jalan. tak jauh dari tempatnya memarkir mobil.
Sekelompok pemuda dan beberapa gadis berseragam putih abu-abu nampak bergerombol di depan mobilnya.
Alex kembali merasakan gusar. "Kenapa lama sekali" batinnya berteriak.
Hingga tinggal dirinya yang masih terbengong, menatap penuh waspada pada segerombolan remaja itu. dan tergagap cengo saat sang kasir memanggilnya.
"Selamat siang pak." sapanya sopan dengan menampilkan senyum paling manis.
"Ehem, selamat siang nona." Alex berdehem untuk mengurai rasa malunya.
"Ada yang ingin di tambahkan untuk belanjaannya?"
"Oh, itu,,, tidak!" jawab Alex tersenyum kaku.
Di liriknya kembali sekumpulan anak itu, hatinya was-was. takut jika mereka melakukan pengerusakan atau apapun pada mobil mewah yang ia pinjam.
"Oh, iya ada lagi." imbuhnya.
Kasir itu tersenyum lagi, ia pikir Alex akan serius menambahkan belanjaannya.
"Silahkan pak."
"Bisakah kau membantuku melihat google maps?"
"Hah!"
Kasir itu terperangah dengan jawaban aneh Alex.
"Karena, sepertinya aku tersesat oleh keindahan matamu."
Sempat-sempatnya ia melancarkan gombalan di saat hatinya sedang risau memikirkan nasib mobil pinjaman.
Mengerti akan dirinya yang hanya di rayu oleh Alex, lantas gadis berlesung pipit itu meneruskan pekerjaannya. menghitung belanjaan Alex yang cuma dua biji. tak sebanding dengan rayuan gombalnya yang melambungkan angan.
"Silahkan pak." kasir cantik itu menyerahkan belanjaan Alex.
"Terima kasih."
Alex menerima belanjaannya, tapi tidak uang kembaliannya.
Dengan langkah ringan Alex keluar dari mini market tersebut. dan dua langkah setelah ia menutup pintu dan berbalik, matanya harus terbelalak sangat lebar mendapati apa yang menyambutnya.
Alex mengerjab-ngerjabkan matanya. dengan degub jantung tak beraturan.
"Oh Tuhan, ini luar biasa." ujarnya dalam hati.
Di rasakannya benda kenyal yang terasa dingin menempel di bibirnya. hanya menempel tak ada pergerakan apapun.
Jiwa petualangnya segera membisikkan agar tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Berciuman dengan, seorang gadis.
__ADS_1
Salah!
Ralat!
Di cium seorang gadis berseragam putih abu-abu di tempat umum.
Tentunya Alex tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. apa lagi ia sudah lama tak melakukan aktivitas oral sejak terputusnya hubungannya dengan Rosa.
Di raihnya tengkuk gadis itu untuk menekan lebih dalam ciumannya. Tangannya yang sedang memegang plastik berwarna putih itu sama sekali tak menyulitkannya untuk meraih pinggang dan merapatkan tubuh mereka.
Alex memulai ciumannya. mengecup dan mencecap. mel*mat pelan dan lembut dengan mata terpejam. menikmati ciumannya dengan gadis nyasar untuk beberapa saat.
Hingga di rasakan tepukan di dadanya dari tangan gadis itu karena kehabisan pasokan oksigen. Alex tak melepaskan kedua tangannya. kening mereka masih saling menempel. lalu kembali memagut lebih rakus. mel*mat lebih dalam.
Alex masih tak merasakan pergerakan apapun dengan bibir yang menyabotasenya tanpa ijin. tak ingin rugi, ia pun menggigit kecil bibir si gadis untuk akses masuk, dan mengeksplor lebih dalam ke dalam rongga mulut gadis itu.
Hingga ia merasakan balasan dari gadis itu yang terasa kaku. Alex tersenyum di sela ciumannya. hingga pasokan oksigen kembali memaksa mereka saling melepaskan.
Alex merasakan gadis itu meremas kemeja di bagian dada.
"Lo yang mulai dan lo harus menuntaskannya, gue bakal cari lo." ancamnya dengan kening bertaut dan benang saliva yang masih mengantungi. nafas keduanya masih saling memburu. di usapnya bibir yang masih badah karena ulahnya itu perlahan.
Degub jantungnya menggila hanya karena sebuah ciuman dari gadis belia.
"Jangan lupain wajah gue."
Satu kecupan ia berikan di bibir mungil gadis itu sebelum ia melenggang masuk ke dalam mobil. dan meninggalkan area parkir dan gadis yang masih berdiri kaku di tempatnya.
Alex bahkan masih merasakan kenyal dan lembutnya bibir mungil itu. nafas hangatnya yang beraroma strawberry menganggu konsentrasinya dalam mengemudi. hingga ia sampai ke basement kantor, Alex masih tak mampu menghitung laju detak jantungnya yang tak biasa.
Oh, Alex ia merasakan sesuatu hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Apakah ini kutukan atas dirinya ataukah ia termakan sumpahnya sendiri atau sumpah Dewa yang telah terwujud atas dirinya.
Flashback off.
Ledakan tawa tak terelakkan lagi dari dua pria sableng di depannya.
Alex tampak seperti anak remaja yang baru merasakan ciuman untuk pertama kalinya. tersenyum malu-malu dengan wajah memerah.
"Cieee, yang jadi korban salah sasaran?" ledek Zack dengan tampang konyolnya.
"Ciee... yang lagi kena tulah" imbuh Dewa yang tahu bagaimana tabiat temannya yang suka melontarkan ledekan sepanjang hari sewaktu ia dan Cintya berseteru masalah perjodohan.
Alex mendengus kesal. ia sadar tak akan bisa menang dari kedua temannya jika sedang melemparkan ledekan.
"Gue berani bertaruh elu bakalan jatuh cinta sama tuh bocah!"
Dewa tak tanggung-tanggung lagi, ia bahkan tertawa nyaring setelahnya.
"Ciee,,, yang otewe bucin sama bocah." Zack menambahkan. membuat keduanya tergelak kian kencang.
"Gue sumpahin lo bucin akut sama nyonya ceriwis." Alex melotot tajam pada Dewa.
"Dewa tergelak "gak perlu elo sumpahin gue juga udah bucin dari bocah."
Alex mendengus, kalah omong.
Zack tak dapat membendung tawanya. matanya bahkan sampai berair melihat ekspresi Alex yang menggelikan.
"Apa lu? Gue sumpahin lo bucin sama anak udik."
Kali ini Dewa yang tertawa ngakak, apalagi melihat Zack yang langsung menghentikan tawanya.
"Sepertinya kita bertiga bakal kuwalat kena sumpah ibu pertiwi."
Ketiga pria dewasa minim akhlak itu tertawa bersama. tak tahu saja jika salah satu di antara mereka sedang di nanti dengan sabar oleh sebuah drama malam yang akan merampas tidur malamnya.
***
1500 kata lebih geesss, like nya juga harus banyak.
Lanjut malam kalo gak lupa ha...ha..ha..
__ADS_1