
Happy Reading...
"Bagaimana keadaan janinnya dokter?" Dewa bertanya dengan wajah paling panik. di samping nya ada seorang gadis terbaring lemah di atas brankar dengan wajah pucat dan sembab. perutnya terlihat sedikit membuncit karena tubuhnya yang tampak lebih kurus. yang terbalut oleh kulitnya yang pucat.
"Keadaannya cukup stabil, tapi bisa membahayakan janinnya jika ia kembali menyakiti dirinya. saran saya sebaiknya anda membicarakan masalah ini.mungkin dengan menurut keinginannya nona Elvira akan kembali membaik." jelas Dewa.
"Saya permisi pak Dewa,"
"Ya silahkan Dokter."
Setelah kepergian dokter, Dewa mendekati ranjang. ia melihat wajah Elvira yang sembab. dan itu membuat rasa bersalah Dewa kembali mencuat.
"Maaf elvira."
Setelah itu, Dewa segera berbicara ibu Elivira. tampak perdebatan antara Dewa dan wanita paruh baya di sana. terlihat sekali jika Dewa sangat marah. dan wanita itu pun tak kalah berang.
"Anda harus bertanggung jawab. saya tidak terima ini semua terjadi pada putri saya." nada wanita itu meninggi.
"Tapi saya tidak bisa, saya memiliki keluarga. saya akan bertanggung jawab tapi saya tidak akan menyakiti istri dan anak-anak saya."
Dewa hendak pergi, tapi ia harus memutar langkahnya kembali karena Elvira terbangun dan ia kembali histeris dan mengamuk.
"Tenang, tenang Elvira."
"Aku tidak mau bayi ini." Elvira sesegukan.
"Tenang, tenang dulu. kita akan bicarakan ini." Dewa memejamkan mata sangat rapat. ia terlihat putus Asa dan bingung untuk mengambil langkah.
Setelah ia berhasil menyenangkan Elvira, Dewa kembali ke kantor yang lumayan jauh. Dewa membutuhkan waktu selama satu jam untuk bisa sampai ke kantor.
Di kantor, ia di sambut oleh Alex dengan setumpuk pekerjaan.
Seharian, Dewa tak mampu memusatkan pikiran. itu membuat seluruh pekerjaan kacau dan semakin menumpuk. pikirannya terbagi antara Cintya dan Elvira.
Sore hari, Dewa benar-benar pulang cepat. tapi bukan untuk berbicara dengan Cintya. jadi itu artinya, keinginan Cintya untuk mendapatkan penjelasan dari Dewa pun percuma. Dewa sama sekali tak membahas masalah itu. sikapnya kembali hangat tapi Dewa terlihat lebih banyak diam. itu semakin membuatnya tampak aneh dan kecurigaan Cintya semakin bertambah.
Esoknya, Dewa kembali berangkat pagi-pagi. seperti biasanya Dewa akan mengatakan pulang cepat dan ia pasti menepatinya. dan ia juga akan mengatakan akan pulang terlambat jika memang di perlukan.
Sikap Dewa seperti telah di atur sebelumnya. Dewa juga sering menerima telpon tengah malam dan diam-diam. setelah itu, ia akan termenung dengan sangat lama. kebiasaan merokok yang telah lama ia tinggal kan kini selalu menjadi aktifitasnya tiap malam. dan semua itu tak lepas dari pengamatannya Cintya.
"Malam.ini kakak tidak akan terlambat kan?" Seperti biasanya, Cintya memakaikan dasi dengan Dewa yang membantunya.
__ADS_1
Tinggi badan Cintya tak mengharuskan Dewa untuk menunduk saat memakaikan dari. tapi seperti biasa Dewa akan memeluk pinggang Cintya dan mengangkatnya. kebiasaan itu sudah sejak lama menjadi aktivitas pagi. tapi selama satu minggu perang dingin mereka Cintya tak mendapatkan perlakuan seperti itu. Dewa lebih banyak melamun.
"Kakak usahakan ya?"
Cintya terlihat kecewa saat Dewa mengatakan itu. ia sangat mengerti jika Dewa mengatakan akan mengusahakan, itu artinya Ia tak bisa memastikan. perasaan sakit dan marah kembali bercokol dalam batinnya.
Selama ini Cintya sudah cukup menahan diri untuk tidak bertanya lebih banyak. tapi setelah ini dia berjanji akan bergerak sendiri.
Dewa harus di ingatkan, istri seperti apa yang di milikinya itu. Cintya bukan gadis bodoh dan juga lemah.
Malam ini akan ada pesta ulang tahun pernikahan mereka. Dewa tak lupa untuk meminta Alex menyiapkan pesta besar dan mewah yang di gelar di hotel mereka.
"Jadi istri yang manis dan jangan berulah."
Cintya merindukan pesan manis itu. dulu Dewa tak pernah lupa mengatakannya sebelum berangkat kerja. tapi semenjak ia keluar kota sebulan yang lalu, Dewa sering lupa mengatakannya.
Aku tak akan berulah jika kakak tak berulah tapi akan terjadi huru hara jika kakak membuat aku marah. sahutnya dalam hati.
"Aku adalah istri dan ibu yang manis, kakak."
"Ya benar sekali, kau yang terbaik milik.Dewa."
Tapi kau akan kehilangan milikmu jika kecurigaanku sampai benar.
Lalu untuk siapa cincin itu. tidak mungkin itu untuk lilian karena cincin pernikahan lilian, mereka telah memesannya sendiri.
Jika Dewa membelinya untuk Cintya, itu lebih tidak mungkin lagi karena satu pasang pengantin tidak memerlukan dua pasang cincin.
*
*
*
Hari telah beranjak sore, tapi Dewa belum juga pulang. sedangkan pesta akan di mulai satu jam lagi. Hati Cintya mulai resah. ada kesedihan dan kecewa yang menderanya.
Mungkinkah Dewa akan membuatnya bersedih di hari ulang tahun pernikahan mereka. dan jika semua itu benar, maka Cintya bersumpah akan membalasnya. pikiran-pikiran negatif mulai merajai kepalanya.
Dengan langkah berat, akhirnya Cintya datang ke pesta beserta si kembar dan baby sisternya di antarkan oleh sopir yang di kirim dari hotel.
Selama perjalanan, tak henti-hentinya Cintya mengumpat dalam hati yang di tujukan pada suaminya yang tiba-tiba durjana itu.
__ADS_1
"Ibu tenang saja, mungkin bapak segera menyusul." baby sister yang berusia tiga tahun lebih tua darinya itu mencoba menenangkan majikannya yang tampak gusar.
"Kakak, tuh sekarang nyebelin banget tau nggak mbak."
Seperti biasa, mode merengek sangat di perlukan di saat seperti ini.
"Kakak juga aneh akhir-akhir ini?"
"Aneh bagaimana bu, saya melihat bapak masih biasa saja. masih baik dan perhatian sama ibu dan juga anak-anak."
"Baik apanya? dia baik akhir-akhir ini saja."
"Maksud ibu gimana?"
"Sewaktu mbak kemarin pulang kampung, kakak sering berangkat pagi dan pulang malam. dia juga pernah membentak ku."
"Tidak mungkin bu. bapak kan selalu lembut sama ibu sama Twins." baby sister yang bernama Fira itu tampak tak percaya.
."Tidak mungkin gimana, saya sendiri yang mengalaminya."
Fira terdiam.
"Aku curiga suamiku memiliki hubungan dengan orang lain."
Fira tampak Shock mendengarnya, "Itu lebih tidak mungkin lagi karena bapak sangat mencintai ibu."
"Aku tahu itu, tapi jika sampai benar, maka aku bersumpah akan menghancurkannya dan juga membuatnya sangat menyesal karena melakukan itu."
Fira menelan ludah.
"Dari mana ibu mendapatkan pikiran itu?" tanya Dokter Fira dengan kegugupan luar biasa.
"Aku mendapatkan telpon dari sebuah toko perhiasan untuk pemberian sepasang cincin pernikahan."
Fira meremat jemarinya gugup. apalagi saat melihat wajah Cintya yang mengeras penuh amarah.
***
Sengaja banyak skip, karena memang di sengaja. part Bonchap akan di buat lengkap di buku selanjutnya.
So, tetap ikuti karena bagaimana manisnya cintya melibas pelakor cerita kan lebih banyak di sana.
__ADS_1
Di larang tidak penasaran. karena itu menyedihkan. buat akyu.
Lanjut Bonchap gak nih.