Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Pagi yang tak biasa.


__ADS_3

Happy Reading...


"Morning."..


Suara bariton yang begitu syahdu menyapa pendengaran para kaum hawa pemuja ketampanan.


Dewa dengan kaos putih yang menutup erat tubuh tegapnya hingga ke lehernya dan celana slim fit hitam dan di sempurnakan dengan blazer hitam casual membuat ketampanannya berkali-kali lipat lebih sempurna.


Rambut coklatnya yang di biarkan sedikit berantakan membuat nya terlihat semakin ****.


"Morning sir." Cintya berdiri dan membungkuk sebentar layaknya seorang bawahan dan atasannya.


Dewa berjalan ke meja kerjanya dan duduk di atas kursi kebesarannya.


"Gimana tidur elo dek, nyenyak kan?"


"Ya nyenyak lah baru dapet duit." ucapnya dengan senyumnya yang lebar seperti iklan Pepsodent.


"Ck, elu tuh. harusnya tuh duit cuma setengah buat elu."


"Kok gitu?"


"Kan elu gak bisa ngalahin gue."


"Ya gak bisa gitu lah, kita kan seri."


"Maka dari itu gue bilang. harusnya elu dapat setengah aja setengahnya tetep milik gue."


"Gak bisa.. gak bisa, ini curang namanya!" ucapnya gadis yang beberapa jam lalu berprofesi sebagai pembalap itu, sewot.


"Curang gimana?" Dewa tak mau kalah juga ikut meninggi.


"Kalau cuma dapat setengahnya, harusnya Cintya gak perlu buka jati diri Cintya, kan semua orang jadi tau kalau pembalap pujaan mereka itu secantik gue." Ucapnya panjang lebar di bubuhi sedikit kenarsisan.


"Alasan elu aja tuh!"


"Ya udahlah, gue ngalah dari pada elu nangis, gue yang repot harus beliin elu boneka."


"Kok boneka sih Om, gak ada yang lebih murah dikit apa. permen misalnya?"

__ADS_1


"Kalau lu mau ya gak pa pa sih, sekarang juga gua ada nih permen enak buat elu!" Dewa tersenyum Devil. Terselip rencana jahat dalam senyum indah menawan itu.


"Ya udah, dari pada menunggu boneka lebih baik Cintya milih permen saja." Gadis itu tak sadar jika ia tengah di bodohi.


"Ya udah sini!" titah Dewa.


Dan dengan bodohnya gadis itu menurut saja mendekat ke meja Dewa.


"Mana?" Cintya menengadahkan tangan di depan muka tampan itu.


"ini." tunjuk nya pada bibirnya sendiri.


Merasa dirinya sedang di bodohi, Cintya berdiri dari posisinya yang semula duduk di kursi yang ada di hadapan Dewa.


"Badar mesum!" umpatnya berkacak pinggang.


"Ya elah cil, bibir gue tuh lebih manis dari permen apapun di bumi ini. coba deh kalau gak percaya." ucapnya di sertai kerling mesum.


"Ogah! najis banget." sambil menarik sebelah bibirnya.


Dewa mengangkat bahu cuek bebek tak menanggapi umpatan gadis dengan rambut tergerai itu.


Tak lama pintu terbuka tanpa di ketuk. masuklah sang asisten dengan gaya cool nya.


"Pagi Miss king.". sapa nya pada Cintya membuat gadis itu tersenyum miring.


"Mana berkas yang harus gue tanda tangani."


Alex mematung "Elu lagi gak salah kostum kan?" tanya Alex menelisik penampilan Dewa yang terkesan santai. sama sekali tak mencerminkan Dewa yang selalu rapi.


Dewa mendongak melihat ke wajah Alex. " Emang kenapa?"


"Gak biasanya lu berpenampilan se santai ini ke kantor." Alex berkomentar.


"Hari ini gue mau bolos. lu gantikan gue." ucapnya sambil menanda tangani berkas-berkas yang ia ambil dari Alex.


"Gak bisa gitu dong, kita ada rapat penting hari ini." Ucap Alex ketar ketir.


"lu gue gaji buat kerja kan? nah sekarang lu kerja. gue keluar bentar. habis makan siang gue balik." ucapnya sambil ngeloyor pergi meninggalkan Alex yang masih berdiri di tempatnya.

__ADS_1


"Yuk cil!" ajaknya pada gadis itu.


"Kemana Om?" dengan langkah terseret cintya mengikuti langkah panjang Dewa.


"Ikut aja, yuk!"


"Tapi..." Cintya hendak protes namun Dewa tak memberinya kesempatan.


"Wa.. wa.." panggil Alex yang sama sekali tak Dewa Hiraukan.


"He ini masih terlalu pagi buat kencan!" Teriak Alex lagi.


Dewa tak menoleh. masih membiarkan asistennya dengan kedongkolan yang menyakitkan.


"Emang kita mau kemana pagi-pagi gini om?" Tanya gadis berdress putih di padu blazer warna maron itu. membuatnya nampak sangat segar di pandang mata.


"Gue mau ajak elu ke villa yang waktu itu."


"Oh!" gadis itu hanya ber 'oh' ria. tak seperti biasanya yang selalu menyalak setiap mendengar kata villa atau pun hotel. membuat Dewa heran hingga menoleh ke arahnya.


"Kenapa liatin Cintya Om?"merasa di perhatikan Cinta pun bertanya.


"Elu cantik, kalau pake beginian. gak keliatan bar-bar nya."


Bukannya tersipu malu dengan wajah memerah karena mendapatkan pujian dari pria tampan berjuta pesona, melainkan ia semakin menarik ke atas dagunya. berlagak sombong sambil mendongak.


"Karena pagi ini adalah pagi yang tak biasa buat Cintya." ucapnya penuh kepongahan.


"Oh ya, apa hari ini elu ulang tahun? sepertinya enggak." Dewa nampak berfikir hingga kedua alisnya bertaut.


"Memang bukan." jawab Cintya singkat.


"Jadi?" Penasaran Dewa.


"Hari ini adalah hari bersejarah dimana nol yang berjejer akan menggelinding dengan cantiknya ke nomor rekening Cintya " ucap gadis itu dengan mata berbinar. mengingatkan Dewa akan kekalahannya dalam taruhan semalam.


"Astaghfirullah." kata-kata itu terlontar kembali tanpa di sadari di empunya mulut.


"Calon bini gue matre banget." Dewa tepok jidat menggeleng setelahnya.

__ADS_1


__ADS_2