
Happy Reading..
"Maunya lontong sayur."
Whaaaaat???
"Mana ada, ini tengah malam neng!"
Haduh!! mampus deh gue.
"Tapi maunya itu."
Dan selalu saja, merengek adalah andalannya. bagimana bisa Dewa menolak jika ngidam yang menjadi alasannya. jangankan sepiring lontong sayur seharga sepuluh ribu bahkan piringnya saja yang terbuat dari emas delapan belas karat mampu Dewa beli saat ini juga.
"Tapi janji gak boleh nangis lagi. kakak gak suka, nanti cantiknya ilang." Cintya mengangguk lucu.
"Tunggu di rumah. kakak cari dulu."
"Mau ikut."
"Jangan, di luar dingin nanti kamu sakit. kasihan twins ikutan sakit."
"Pokoknya mau ikut, siapa tahu nanti berubah pikiran." intonasi rendah di barengi tangisan lebay beberapa saat lalu raib entah kemana dan sekarang suara itu naik satu oktaf.
"Paket sweeternya." tak kuasa menolak lebih tepatnya tak mampu menolak Dewa membawa tubuh dengan perut yang mulai membuncit itu mengukur jalanan malam yang lenggang.
Dewa dengan saksama melihat ke sisi jalan, siapa tahu ia akan mendapatkan keberkahan dan rizki anak sholeh karena sudah menjadi pria sabar menghadapi kelakuan Cintya yang jauh dari kata mendamaikan. dan lihatlah sekarang si pembuat onar tertidur dengan cantiknya bersandar di jok mobil.
Di saat seperti ini Dewa justru mengingat saat-saat Cintya masih menjadi gadis yang ia panggil bocil. Wajahnya yang cantik dengan tingkah yang tak biasa. sangat cerewet namun masih mengedepankan etika.
Gadis yang dengan beraninya bertaruh di atas sirkuit untuk merebut posisi terbaik dalam gelapnya jalanan malam. dan sialnya dia bukanlah lawan yang bisa di anggap enteng.
Gadis yang dengan sombongnya mengutarakan syarat perjodohan mengatas namakan cinta sebagai syarat utama, dan sayangnya Dewa pun tak mampu mundur.
Sungguh lucu, takdir membawanya pada kehidupan yang tak pernah ia bayangkan.
Namun, sepertinya takdir juga tengah mengujinya saat ini. membayangkan wanita yang selalu menggelayut manja dan terkadang menguji kesabarannya itu menjadi orang paling membencinya. ah, Dewa lebih baik mati sebelum itu terjadi.
Sekian menit berkendara, hingga pandangan mata Dewa tertuju pada segerombolan orang. sebuah gerobak dengan tulisan Lontong dan sayangnya ia harus kecewa. memang apa yang ia harapkan di jam tengah malam seperti ini, penjual lontong sayur? mimpi yang terlalu tinggi bagi seorang kaya raya seperti Dewa.
Hingga ia merasa kan lelah dan kantuknya, Dewa masih tak menemukan penampakan penjual lontong sayur.
Dan lihatlah si pembuat onar, masih tertidur dengan nyamannya. menyebalkan.
Satu jam berlalu, akhirnya Dewa menghentikan mobilnya.
Di usapannya perlahan perut sang istri, tampak pemiliknya sama sekali tak terganggu. dan respon sang baby masih belum menampakkan eksistensinya.
"Lihat saja, setelah kalian keluar, papi akan hajar mami kalian biar kalian cepat dapat adek." ujarnya terkekeh.
Dewa mendaratkan ciuman di kening dan pipi bermaksud membangunkannya.
"Sayang, Hei,, bangun!" Dewa menoel-noel hidung Cintya dengan ujung hidungnya. Mengusik cara paling manis.
Cintya menggeliat pelan dan mengerjabkan matanya perlahan.
"Sudah sampai?" tanyanya pelan sambil berusaha menyempurnakan mata.
"Buka dulu dong matanya, liat kita di mana?"
Mengerjab bingung, Cintya memindai tempatnya saat ini berada. di sebuah bangunan kayu yang tak begitu mewah. warung lontong sayur yang sudah tutup. dan itupun sangat jauh dari tempat tinggalnya.
"Kok kita disini, kakak mau culik aku?" tanyanya bingung. Dewa hampir terkekeh mendengarnya.
__ADS_1
"Ngapain nyulik, kalau korbannya saja sudah pasrah di bawa kemana-mana." ujarnya nyeleneh.
"Ih, pede."
"Gak percaya, gue buktiin nih."
"Gak usah gila deh Om.
"Sini gue cium, bibir gue manis loh, cobain deh."
"Ih Najis!" Keduanya tergelak mentertawakan kekonyolan mereka.
Dewa tersenyum memperhatikan Cintya yang masih menyelesaikan tawa kecilnya.
"Bocil gue udah bisa bikin bocil ternyata."
"Om tuh yang ngajari gak bener." protesnya mencebik.
"Tapi lo suka kan yang gak bener itu tadi. bikin merem melek keenakan."
"Udah, ih ayok pulang. mau bobok lagi. besok pagi aja kesini lagi." ajak Cintya karena percuma mereka berada di sana malam-malam.
Rasa kantuk yang Dewa rasakan sudah berangsur menghilang karena obrolan absurd mereka. dan kini mereka telah sampai di rumah keluarga yang lebih dekat dengan taman kota dan warung yang mereka kunjungi.
Malam telah telah terlewati begitu saja tanpa terasa dengan aktifitas olahraga malam. setelah gagal mendapatkan keinginannya dan obrolan absurd mereka yang berselang selama perjalanan pulang, kini ibu hamil itu dengan terpaksa menuruti keinginan sang supir. seperti biasa, berpeluh bersama menggapai nirwana.
*
*
*
*
"Apa sih Cinta, kakak masih ngantuk
nanti saja perginya." Ujarnya malas. berbalik memunggungi Cintya
"Oke kalo gitu aku pergi sendiri aja ya."
Dewa tak mengatakan iya ataupun tidak. rasa lelah dan kantuk masih menguasainya. ia berniat untuk melanjutkan mimpi yang terpenggal. sebentar saja satu atau dua jam lagi. lumayanlah.
Hingga ia merasakan terjaga, benar-benar terjaga saat meraba tempat tidurnya di sampingnya kosong. tak ada orang di tempat itu..
Bergegas Dewa keluar kamar setelah memeriksa balkon dan kamar mandi yang ternyata kosong. tak ada jejak istrinya di sana.
Sedikit berlari menuruni anak tangga, Dewa pergi ke ruang makan dapur dan taman. tempat biasanya istrinya singgahi di pagi hari. namun tak ada.
Suasana masih sangat pagi. pukul lima lebih tiga puluh menit isterinya sudah menghilang. apa maksudnya ini.
Orang rumah tampaknya masih asik berselancar di dalam mimpinya. dan Dewa sedang berada di mimpi buruknya.
Sungguh pagi yang indah.
"Bik, bik ijah lihat cinta?" Dewa menghampiri asisten rumah tangga paling tua di rumahnya. yang sedang berkutat di dapur.
"Loh, bukannya non cinta sudah pergi sejak satu jam yang lalu. bawa motor aden kayaknya." jelas bi ijah yang kebetulan melihat keberangkatan Cintya.
Dewa melotot takjub setengah tak percaya. bagaimana mungkin seorang wanita dengan perut membuncit kebut-kebutan di jalan raya. bagaimana jika terjadi sesuatu. Leo pasti akan membunuhnya jika sampai tahu. apalagi Leo juga sering melewati jalanan itu.
Dewa menggeram frustasi, rambutnya yang masih acak-acakan semakin berantakan karena ulah tangannya yang berkali-kali menariknya.
"Apa susahnya sih bangunin gue." ocehnya kesal kembali naik ke kamarnya.
__ADS_1
Dan lihatlah Dewa telah membuat satu kesalahan di pagi hari. Cintya yang tak ingin membangunkan apa Dewa yang sulit di bangunkan.
Mandi singkat dan mengganti pakaian tanpa memilih, Dewa berangkat dengan kekhawatiran yang teramat sangat. ia bahkan tidak tahu kemana istrinya pergi. bahkan Cintya tak membawa tas ataupun gawainya. lalu Dewa harus apa? menelpon Leo? tentu saja dan dia akan sarapan bogem mentah pagi ini.
Baiklah, Dewa sedang berpikir keras. kira-kira kemana istrinya itu pergi pagi-pagi. bahkan saat ini pun waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi.
Salah Dewa yang terlalu memforsir tenaga untuk olah raga malam. hingga ia harus merasakan yang namanya kelelahan bercinta.
Matahari sudah merangkak naik saat mobil Dewa terparkir di depan warung sederhana dengan balok kayu sebagai temboknya.
Bergegas ia menghampiri seorang gadis ysng berumur sekitar enam belas tahun. sedang memungut gelas dan piring di atas meja.
"Dek, apa tadi ada wanita hamil membawa motor ke sini. wajahnya cantik agak tinggi dan kulitnya langsat. rambutnya panjang kecoklatan." Dewa bertanya dengan menyebutkan ciri-ciri Cintya dengan sangat detail.
Dia bertanya apa sedang pamer sih? begitulah isi hati gadis itu. bahkan matanya tak berkedip menatap Dewa yang memakai kaos hitam yang mencetak otot perut nya. bercelana pendek warna khaki serta sepatu kets warna putih.
Dewa berantakan, tapi tetap terlihat tampan dengan setelan amburadulnya. tak ada waktu untuk mix and matc penampilannya. istrinya hilang dan dia panic.
"Ada tadi pakai motor sport hitam." Jawab gadis itu tanpa mengalihkan pandangan.
"Lalu kemana sekarang." tanya Dewa cepat.
"Sudah pergi, kira-kira setengah jam yang lalu." Jawab gadis itu lalu pergi meninggalkan Dewa.
Memijit kening yang sedikit pusing, Dewa tak tahu harus mencari istrinya ke mana. bersandar di body mobil, Dewa tampak sedang berpikir. mengira-ngira ke mana istrinya pergi setelah ini. apakah pulang ke rumah, tapi bi Ijah tak menelponnya. sedangkan Dewa sudah berpesan untuk menelponnya jikalau Cintya sudah pulang. apakah ke apartemen? rasanya itu tidak mungkin karena Dewa tak berada di sana. Ke rumah ibu barang kali. tapi itu sangat tidak mungkin, karena ia tahu jika ibu dan Leo pasti akan memarahinya melihatnya membawa motor tanpa Dewa.
Terdengar langkah beberapa orang di belakangnya, tapi Dewa tetep terdiam di tempatnya. namun ada yang menarik perhatian nya dan memaksa Dewa untuk menoleh dengan cepat.
"Kasihan sekali, pasti dia gak akan selamat. motornya saja hancur begitu." ujar seorang ibu-ibu.
Pendengar kata motor di sebut-sebut, Dewa tergerak untuk bertanya.
"Ada apa ya bu?" tanya Dewa sopan.
"Oh, itu tadi di depan ada kecelakaan motor parah banget. orangnya terlempar jauh tapi motornya hancur di lindas tronton."
Nafas Dewa tercekat. tapi ia masih harus bertanya. "Motor jenis spa bu?"
"Di lihat dari bagian yang masih utuh, sepertinya motor besar untuk balap yang mahal itu. mirip punya palentino palentino rosi itu tapi warnanya hitam." Jelas ibu yang lain lagi, berusaha sedetail mungkin meski ejaannya salah, tapi cukup di mengerti.
"Yang bawa motor laki apa perempuan bu?"
Mungkin Dewa salah dalam pertanyaan, buktinya ibu-ibu itu tercengang mendengar kata perempuan. masa bodo lah, Dewa panik saat ini.
"Kurang tau mas, pake jaket hitam. entah laki atau perempuan. orangnya telungkup darahnya banyak banget di aspal." imbuhnya heboh, semakin membuat Dewa ketar-ketir. apalagi ia tak tahu Cintya memakai pakaian apa. bibi hanya bilang Cintya memakai celana olahraga.
"Makasih bu." ujar Dewa cepat dan langsung masuk ke dalam mobilnya. membawanya dengan kecepatan sedang, karena tak mungkin mobilnya yang super cepat dan mewah itu ngebut di tengah jalan yang ramai dengan pejalan kaki.
Sebaiknya Dewa mulai memikirkan tugas baru untuk si Alex. ya membuat jalur khusus untuk pejalan kaki agar tak mempersulit perjalanannya apalagi saat panik seperti ini.
Dewa pengen sombong sekali saja, tak apa kan???
***
Maaf membuat kalian menunggu. jangan lupa tinggalin jejak cinta kalian di akhir pekan buat pasangan sableng.
Authornya kurang fit, ngetiknya sambil tiduran. jadi mungkin banyak typo atau kurang dapet feel-nya. maafkeun...
Siapa yang kecelakaan ya, jangan sampai itu Cintya...
kasihan sablengnya,,,
lagian istri ngidam ditinggal tidur kamu Wa, dasar Sableng...
__ADS_1