
Happy reading....
Sesaat aku mengingat kisah cinta pertamaku, aku mulai mencarimu. tak sadar betapa butanya cintaku. para pecinta tidak pernah bertemu di suatu tempat. karena mereka berada di masing-masing jiwa.
***
"Selamat pagi cinta, selamat pagi ******* nafas," Dewa mulai menggombal. mendekatkan mulutnya ke arah telinga Cintya. berkata lirih.
Derap langkah keduanya harmoni dalam satu hentakan yang sama. sangat serasi dan indah.
"Selamat pagi calon suami, selamat pagi sumber uang," Cintya nyengir, sengaja membuat Mood Dewa rusak pagi-pagi.
Dewa berdecih tak suka, gombalannya tak mempan untuk gadis yang sudah membolak-balikkan dunianya, mengobrak-abrik kehidupannya. Cintya tak ada manis-manisnya.
"Selamat pagi pasangan sultan," dari arah belakang sang asisten durjana menimpali.
Ketiganya berjalan beriringan, menempati seluruh koridor kantor hingga kaki mereka telah sampai di ruang ketiganya sering bertemu.
"Bos, hari ini ada beberapa meeting penting dan dua pertemuan dengan orang penting pula, Jadi anda tidak boleh mangkir." Alex mengingatkan sebagai seorang Asisten, berbicara formal dan menunduk hormat.
"Jam kerja masih dua puluh menit lagi, jadi pak Alex gak perlu bergaya sok jadi asisten yang baik." Cintya nyeletuk dari meja kerjanya. tangan kirinya bertopang dagu sedang tangan kanannya mengotak atik benda pipih kesayangannya.
"Maaf nona, hal ini saya lakukan dalam rangka mencari muka, agar saya terbebas dari hukuman membayar tagihan apartemen saya," masih dengan gaya formal dan menunduk hormat.
Cintya cekikikan mendengarnya, matanya masih awas memperhatikan deretan gambar di gawainya.
"Heh, kampret! gak perlu siaran buat cari simpati calon bini gue," Dewa mencerca Alex sambil mendelik. Alex nyengir. lalu beralih ke sofa dan duduk di sana sambil menata berkas-berkas yang akan menjadi bahan meeting pagi mereka.
"Kali aja gue dapat bantuan buat rayu dirimu, wahai bos durjana,"
"Sialan lu!" Dewa melempar kertas yang di remas membentuk bola tepat ke muka Alex.
Dewa beralih melihat ke arah Cintya, gadis itu tak menggubrisnya. sengaja mengacuhkan Dewa, kekesalannya kemarin belum sepenuhnya hilang.
"Lu lagi liat apaan sih Cil?" Dewa bersandar melihat calon istrinya yang masih asik berselancar di laman belanja.
"Lagi liat yang cantik-cantik." jawab gadis itu cuek. masih fokus dengan benda di tangannya.
Dewa beranjak dari kursinya, mendekat dan duduk di meja kerja Cintya. masih ada waktu dua puluh menit lagi untuk memulai pekerjaan nya. kedua tangannya berlipat di depan dada, santai.
__ADS_1
"Gak bosen lu liat begituan?" menengok sebentar mengikuti pandangan Cintya.
"Ini cantik banget deh Om,"
"Apa ada yang lebih cantik dari kamu?" gombalan kedua di pagi ini.
Cintya tersenyum. "Mereka juga sangat indah."
"Kaulah pusat keindahan yang tercipta dari tangan yang Maha Besar."
Cintya mesam-mesem. "Jadi, boleh nih beliin Cintya."
Dewa tepok jidat, niatnya merayu justru berakhir dengan tekor.
"Lu di ajari sapa sih jadi matre begini?" Dewa mencolek dagu runcing Cintya.
"Gak boleh sentuh, belum muhrim." Cintya menepis tangan kekar pria yang tengah tergila-gila padanya.
"Kemarin lu diem aja gue cium, gak protes?" ejek Dewa.
"Emang Cintya yang mau? Om kali yang nyolong."
"Kan gue cuma bales elu?" Dewa membela diri.
"Lu yang nyolong hati gue."
Nyesss..
Wajah cantik itu memerah, merona malu. Dewa semakin suka melihatnya.
"Om lah semangat Cintya..." Cintya berkata dengan nada malu-malu.
"Benarkah?" Dewa berbunga-bunga.
"He'em." Cintya mengangguk pelan.
"Gue seneng deh," Dewa sumringah.
"Cintya juga seneng,"
__ADS_1
"Really?" Gadis itu kembali mengangguk. Dewa semakin terseret dalam angan.
Di sisi yang lain, Alex yang tengah sibuk membolak-balikkan berkas mendadak menghentikan pekerjaannya.
Firasatnya mengatakan pasti akan ada adegan tak beres setelah ini.
"Jadi?" Dewa tak sabar nenati ucapan gadis itu selanjutnya.
"Cintya jadi semangat buat belanja." Dewa kehilangan lengkungan di wajahnya.
"Cintya juga seneng koleksi batu mulia Cintya bertambah satu lagi, " Gadis itu memasang muka manis sok imut.
Alex terbahak-bahak. bos sablengnya selalu terjebak dalam gombalannya sendiri.
Dewa benar-benar kehilangan senyum bahagianya. wajahnya yang berseri mendadak kecut.
"Elah cil, gue berasa melambung ternyata Zonk." Dewa mengeram.
"Tekkor... tekkor dah!" Dewa menggeleng-gelengkan kepala, berlalu pergi kembali ke meja kerjanya dengan muka masam.
Alex masih terkikik, ". Kasihan banget deh lu," Cemoohnya pada Dewa.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan tepat, dan itu waktunya mereka harus berproses. proses untuk mencetak angka dengan logo S atau dua nol di belakang koma.
Alex yang telah menyelesaikan pekerjaannya menyusun berkas bahan meeting pun sudah kembali ke ruangannya.
Namun baru beberapa menit pria itu meninggalkan ruang kerja Dewa, dia malah kembali. masuk tanpa mengetuk pintu.
"Sejak kapan aturan main slonong di berlakukan di kantor gue Lex?" Dewa tak menoleh sedikitpun. sebab dia tahu siapa yang datang.
"Ada Lucia di bawah!"
Dewa tersentak, begitu pula Cintya yang langsung menatap horor ke arah Dewa.
Dengan susah payah Dewa menelan ludah, dia bahkan tak berani bertanya pada Alex apakah yang datang Lucia yang asli atau Lucia hasil settingan Alex
"Suruh masuk, gue mau pengen liat yang katanya sebelas dua belas sama gue. yang katanya pesonanya tak terkalahkan." ucapannya di tujukan pada Alex namun tatapannya tetap ke arah Dewa. semakin sulit saja Dewa menelan ludah. bahkan sekarang Dewa hampir sesak napas.
"Oh Tuhan n, Help Me," mohonnya dalam Hati.
__ADS_1
***
Yang Rindu Cintya, acungkan tangan lempar hadiahnya.