Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Dia Suamiku!


__ADS_3

Hay... hay... hay...


Kalian kangen Dewa yang mesum, apa Cintya yang onar nih???


Yuk ah capcus, nikmati ceritanya... biar hari kalian jadi berwarna .


***


Happy Reading...


Cerita Andika siang itu menutup rasa penasaran Cintya. dan sekarang, Isabel meminta pertanggung jawaban yang tak seharusnya ia tanggung sendiri.


Sungguh menyebalkan. membuat emosi.


"Kau akan menikah dengan Andika. dan tebus kesalahanmu pada Radika." ucapan Cintya sontak membuat Isabel mengangkat kepalanya. pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus.


Dalam satu tarikan nafas, Isabel terdiam. tatapan tajam mengintimidasi dari sepasang bola mata cantik pemilik apartemen membuat nyalinya tiba-tiba mengerdil.


"Si_siapa Radika." Isabel dengan kegugupannya. ia membuang pandangan nya jauh dari tatapan mata yang menajam itu. bola mata nya bergerak liar menandakan bahwa apa yang diceritakan Andika tidaklah bohong.


"Radika, jadi benar ada cerita Radika dalam hidup lo?" gerakan memutari tubuh Isabel sambil bersidekap yang di lakukan sang nyonya membuat tubuh Isabel meremang.


Macam hantu saja, bergentayangan.


"Tidak, gue gak kenal yang namanya Radika. me_emang siapa dia?"


Cintya berdiri santai tepat di hadapan Isabel, kedua tangannya berlipat di depan dada memandang tanpa berkedip. membuat Isabel semakin termakan oleh ketakutan.


"Perlu gue ingatkan?" sedikit membungkukkan badan sehingga mulut berbibir mungil itu berada dekat dengan telinga Isabel.


"Radika, pemuda yang elo minta mencebur ke danau hanya untuk menuruti keinginan tak masuk akal lo itu." menarik kembali wajahnya, kini Cintya memandang remeh ke arah Isabel.


"Elo meminta Radika memetik lotus di tengah danau, sedangkan Lo tahu dia tak mempunyai kemampuan berenang. dan gue rasa elo gak terlalu bodoh sehingga tak mengetahui jika danau yang tenang itu bisa saja di tempati binatang. tentunya banyak ranting dan akar tumbuhan air dalam danau itu." cerca Cintya panjang pendek membuat Isabel tercekat. bahkan Dewa yang berdiri di sampingnya pun hanya mampu mengerjabkan mata.


Dari mana istrinya dapatkan cerita itu.


"Ah, tapi sepertinya aku juga akan jadi bodoh jika mengatakan hal bodoh yang tak akan pernah di mengerti oleh manusia bodoh seperti dia." Cintya memutar bola mata nya, merutuki dirinya sendiri. membuat Dewa terkekeh gemas dan langsung mencuri satu kecupan di bibir yang sedang mengoceh itu.


Istrinya itu benar-benar memiliki gudang kalimat dalam otaknya.


Terdiam sejenak, sepertinya Isabel masih tenggelam dalam ingatan lamanya yang terpendam.


"Tidak, aku tak mengenal Radika." Isabel menggeleng kuat demi untuk menyangkal cercaan Cintya.


"Radika, saudara kembar Andika. pemuda yang sudah menghangatkan elo semalaman. aneh kalau lo tak mengenali wajahnya, sedangkan semalaman kalian tidur berpelukan. dan sepertinya lo juga terpuaskan, kalian bermain lama dan panas. akan sangat konyol jika elo sama sekali tak membuka mata dan memandangnya." Cintya tersenyum miring meledek.


Wajah Isabel memerah antara malu dan juga marah. tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya dengan mata terpejam rapat.

__ADS_1


"Omong kosong." desisnya marah.


"Jadi, apa kau masih tertarik untuk meminta pertanggung jawaban suamiku?" berkata sinis dengan sebelah alis berangkat.


"Tentu saja, aku sudah kehilangan kehormatan ku karena ulah kalian."


Isabel masih dengan tak tahu malunya. membuat Cintya semakin meradang.


"Dasar tak tahu malu!" desis Cintya.


"Jangan gila Isabel!" bentaknya kasar. membuat Dewa dan Isabel berjingkit kaget.


"Jangan menjadi gila hanya karena elo tergila-gila sama suami gue."


"Ah, percuma juga gue jelasin sama orang gila macem elo, gimana tergila-gilanya suami gue sama gue."


Lihat, siapa yang belibet sekarang. membuat Dewa meringis geli.


Ah, istrinya itu benar-benar tak pernah kehabisan kata.


"Jadi?" Cintya tersenyum miring.


"Gak, gue gak mau meminta bertanggung jawaban pria aneh itu." sepertinya Isabel masih memiliki keberanian untuk mendebat singa betina itu.


"Gimana.. gimana.." tanya Cintya meledek.


"Heh, perempuan! dengerin gue ngomong. gue hanya satu kali ngomong. jadi pasang telinga lo baik-baik."


Oke, Cintya sudah berada di puncak kesabarannya. jika sudah begini, Dewa pun tak akan mampu menghentikannya.


Pria itu sudah bersiap-siap jika setelah ini akan ada adegan cakar-cakaran seperti dalam drama televisi .


Dewa sinetron banget, mungkin itu efek dari pergaulannya tiap malam dengan istri ajib penuh drama.


"Lo kira gue sudi apa berbagi suami tampan kaya raya perkasa milik gue, enggak ya!"


Ehem, Dewa Exited. bangga dia.


"Elo kira suami gue napsu apa sama elo?"


Uhuk! Dewa tersedak udara.


"Elo kira suami gue sudi apa masukin punya dia ke dalam elo!"


Hiks, sepertinya udara yang seharusnya masuk ke paru-paru nyasar ke dalam diafragma.


Dewa cegukan.

__ADS_1


Kenapa Cintya jujur sekali.


Wajah kedua wanita itu sudah semerah tomat busuk, sama-sama panas di rundung emosi.


Dewa secepatnya harus menyiapkan frezer pemadam api, atau apapun yang penting bisa untuk mendinginkan kedua wanita yang sedang memanas memperebutkan dirinya.


Dewa bangga dong, jadi rebutan.


"Hanya ada dua pilihan." Cintya tersenyum jahat.


"Elo nikah sama Andika dan berhenti ganggu suami gue, atau elo kembali ke habitat elo, kemanapun asal tidak di sini. jika tidak Video panas elo sampai ke tangan mama Graciella."


Isabel tersentak, takut tapi tak dingin mengalah begitu saja.


Tapi melawan Cintya sama saja dengan bunuh diri.


"Ah, gue jadi ingin nonton lagi tuh video, kalian panas banget." ujar Cintya mencibir.


"Kakak.." rengeknya pada Dewa. kedua tangannya bergelayut mesra pada leher betonnya.


"Ya, sayang?" Dewa menyambut dengan melingkarkan tangannya pada pinggang ramping istrinya.


"Aku kangen, ayolah kita lanjut yang semalam, buat aku berteriak di bawahmu."


Mendapatkan permintaan seperti itu, tentu saja otak si mesum tak akan menolaknya. bahkan ia menyambut dengan tak kalah semangat.


Di pagutnya bibir merah yang sejak tadi mengoceh itu, dengan mesra dan lembut.


Ciuman yang berawal dari kecupan lembut saling mencecap dan menyesap, hingga semakin menuntut.


Pergulatan lidah yang terelakkan dan pertukaran saliva yang menggelora.


Ciuman yang semakin panas dan mendebarkan. tak peduli jika di sana ada patung bernyawa yang sedang mati-matian menahan nafas melihat ulah mereka.


Dewa mengikis jarak di antara mereka, sehingga udara pun tak akan mampu melewati.


Harus permisi dulu.


Tak ada yang ingin mengakhiri pertautan bibir itu, hingga udara yang memaksa mereka untuk saling melepaskan.


"Pintunya di sana jika kau mau pergi." usirnya pada wanita muda yang sedang merasa kesal itu.


"Buat aku mendesah di bawah mu, Dewa Herlambang." ajaknya dengan senyum genit menggoda.


Secepat angin berhembus pagi itu, Dewa membawa tubuh mungil istrinya masuk ke kamar. melanjutkan yang terjeda di antara mereka.


***

__ADS_1


Semoga suka dengan kegilaan mereka


__ADS_2