
Happy Reading...
"Gak mungkin Dewa." Lilian menggeleng tak percaya.
Dewa meyakinkan keraguan Lilian dengan mengangguk cepat.
"Beneran, Sumpah!" Dewa bertingkah seperti ABG yang sedang meyakinkan kekasihnya. jarinya teracung membentuk huruf V dengan wajah di buat seimut mungkin sambil mengangguk-angguk.
"Kamu hutang penjelasan sama aku." kesal Lilian merasa tidak di pentingkan.
"Gue bakal bayar beserta bunganya." sebuah ucapan yang sama sekali tak berfaedah sama sekali.
Semakin malam club semakin ramai oleh penikmat dunia malam. hentakan musik yang di mainkan oleh seorang DJ wanita itu memekakkan telinga, hingga membuatnya tak mampu mendengarkan apapun kecuali musik yang semakin menggila.
Gemerlap lampu yang berputar di atas lantai dansa menyilaukan mata. menjadi penerang dalam gelapnya gelimang dosa.
Obrolan mereka berlanjut. saling bercerita tentang kehidupan mereka sehari-hari. apalagi Lilian yang memang tinggal di luar kota. membuat gadis itu sangat jarang bertemu dengan Dewa.
Kendati Demikian, Dewa tak pernah melupakan sosok wanita yang juga penting dalam hidupnya. karena gadis itu adalah salah satu sahabat terbaiknya.
"Eh lu tadi belum jawab pertanyaan gue."
"Yang mana?" Lilian lupa akan pertanyaan Dewa karena mereka terlibat dalam obrolan mengenai masa lalu dan masa depan Dewa.
"Ngapain lu di sini. sama siapa lu?" Dewa nengulangi pertanyaan.
"Oh, yang itu."
"Ada undangan pernikahan besok, dan sekarang aku kesini di ajak temen gue ngerayain ulang tahunnya. jadi ya sekalian aja." jelas Lilian panjang lebar.
"Terus temen-tenen lu mana? kok malah elu yang nyempil di mari." tanya Alex sok akrab.
"Pertama karena aku liat muka kamu." tunjuknya pada Dewa.
"Kedua aku gak banyak yang kenal di sana, jadi aku risih. tapi don't worry aku udah bilang kok sama dia kalo aku sama kamu."
"Ada ketiganya gak?" Tanya Zack yang lebih banyak diam.
"Ada." Lilian menggantung ucapannya.
"Apa?" ketiga pria dewasa sealiran itu kompak bertanya.
"Bantu aku lepas dari seseorang." Lilian masang wajah memohon.
"Siapa?" ketiganya kembali bertanya.
Belum sempat Lilian menjawab pertanyaan ketiga pria di depannya, ternyata orang yang di maksud Lilian sedang bertanya ke arahnya.
Seketika tangan dengan jemari lembut itu merangkul lengan kekar Dewa. yang membuat pemiliknya terpekik kaget.
__ADS_1
Meski Dewa bukan manusia yang baru kali bersentuhan dengan lawan jenis, dan justru ia manusia yang sudah hafal seluk beluk di dalamnya, namun perlakuan Lilian membuatnya sedikit terkejut.
"Apa sih ini" Dewa menunjuk ke lengannya dengan mata biru keabu-abuannya. bermaksud bertanya. namun isyarat mata Lilian mengatakan padanya untuk diam. dan Dewa pun menurut.
Masih tak mengerti dengan situasinya, kedua teman Dewa pun lantas menoleh ke arah wajah Lilian yang menunjukkan sikap agar mereka mengikuti drama yang akan ia buat.
"Selamat malam." Dewa bersama
dengan kedua temannya mendongak menatap pria yang menyapa mereka.
Alis Dewa terangkat sebelah, menunjukkan sikap datar namun penuh pertanyaan.
"Samuel." Lilian tersenyum melihat temannya datang menghampirinya.
"Oh ya Dewa, perkenalkan ini Samuel. sepupu dokter Adrian yang tadi aku ceritakan."
Dewa terdiam, mencerna ucapan Lilian. kapan memangnya Lilian menceritakan temannya yang bernama Samuel ini
"Dewa." Dewa mengulurkan tangannya.
"Samuel." Pria tinggi dengan kulit Coklat itu menyambut tangan Dewa seraya menyebutkan namanya.
"Alex."
"Zack."
Mereka bertiga saling memperkenalkan diri.
"Iya, sebelumnya saya sudah ada janji dengannya." Ucapnya sambil melirik ke arah Dewa.
"Dan kebetulan pestanya juga di sini jadi sekalian aja kami bertemu di sini. ya kan sayang?"
Sayang? Alis Dewa terangkat sebelah mendengar panggilan sayang dari mulut Lilian.
"Oh begitu." ada gurat tak suka di wajah Samuel saat Lilian mengatakannya.
"Apa kau tak kembali ke pesta?" tanya Lilian pada Samuel dengan nada biasa saja. tapi sepertinya itu sebuah ungkapan pengusiran dengan cara yang elegan.
"Pesta nya sebentar lagi berakhir kok, jadi aku juga udah sekalian pamit tadi sama anak-anak." Jelas Samuel.
"Oh!" Lilian hanya ber Oh ria. tak banyak bicara menghadapi pria yang tak bosan mengejarnya itu.
"Dia siapanya kamu." Akhirnya pertanyaan yang di tunggu Lilian pun terlontar.
"Dia..." Lilian bingung untuk menjawab.
"Gue tunangannya." Ucap Dewa datar.
Bukan hanya Samuel yang terkejut, bahkan Alex dan Zack pun ikut terkejut.
__ADS_1
Lilian merasa lega, tapi melihat raut wajah Samuel yang memerah ia sedikit khawatir. bukan karena takut pria itu bunuh diri karena patah hati. namun karena ia tak enak jika penolakan yang di lakukan terhadap sepupu teman seprofesinya itu membuat hubungan kerja keduanya menjadi tak nyaman.
"Jadi kamu sudah punya tunangan, tapi kenapa Adrian tak pernah bercerita.?" Samuel tak begitu saja percaya. ia masih berusaha untuk mendapatkan hati gadis yang begitu cantik di matanya.
"Dokter Adrian juga belum tahu masalah ini." Kilah Lilian di buat senormal mungkin.
"Begitu ya?" Samuel terdengar kecewa.
"Oke, kalau gitu aku duluan. selamat bersenang-senang." Ucapnya berdiri dan pamit kepada semua yang duduk bersamanya.
"Bye, Samuel." Dewa berucap paling akhir mewakili Lilian yang tak menjawab perkataan pria yang mengejarnya.
"Sekarang lu jelasin siapa dia." Dewa bertanya dengan muka serius.
"Dia sepupu Dokter Adrian. katanya tertarik sama gue. tapi Lo tau sendiri gue..."
"Lo masih cinta sama Leo."
Lilian merasa tak perlu menjawab apapun karena Dewa telah mengetahui semua tentang dirinya.
"Besok temenin gue ya?"..
"Kemana?'
"Kondangan ke temen gue lah, kemana lagi?"
"oh, gue kira elu minta temenin buat ketemu di mulut ketus."
"Dewaaaa..."lengkingan terdengar di meja tempat trio cecunguk berada.
***
"Leo, kamu yakin gak mau jadi kekasih aku?" Gadis ber rok span mini berbahan Denim itu bertanya. kedua kaki yang terbalut flat shoes itu bergerak lincah mensejajarkan langkah panjang pemuda berkaca mata minus yang kerap ia recoki.
Dugh!
"Aw" ringis gadis itu. dahinya membentur punggung pria di depannya yang tiba-tiba berhenti.
"Leo! pake riting napa kalo mau berenti." protes gadis itu.
"Berhenti ngikuti aku!" ucapnya sangat datar tanpa Ekspresi tanpa perasaan.
"Biar saja aku kan pake kaki aku sendiri."
."Iya, tapi kamu menganggu "
"Aku kan gak ngapa-ngapain kamu, cuma ikut."
"Tapi aku gak suka, jadi jangan ganggu aku." Pemuda itu melanjutkan langkah tanpa mempedulikan gadis yang sedang tertawa karena telah membuat Leo kesal.
__ADS_1
"Hey Leo, percayalah hanya aku yang pantas menjadi kekasihmu. jadi, coba pertimbangkan tawaranku." Leo tetap tak peduli. ia semakin jauh meninggalkan gadis yang masih berdiri di tempatnya.
***