
Happy Reading...
Matahari semakin meninggi, hingga mereka berdua telah bersiap untuk berangkat. salahkah jika mereka berdua terlambat selama dua jam? karena sebetulnya mereka itu sama. sama-sama tak ingin melepaskan.
Terlepas dari jabatan yang di miliki, Dewa seharusnya memberikan contoh dan imeg yang baik untuk perusahaannya. dan lihatlah sekarang. mereka akan datang terlambat dan tentunya akan menjadi bahan pembicaraan setelah ini.
Perdebatan mereka sesaat lalu baru saja terselesaikan dengan satu solusi yang membuat jam kerja semakin mundur dan sekarang ia harus kembali berdebat dengan istrinya hanya karena pakaian yang di kenakan Cintya pagi itu.
Pagi? sepertinya terlambat jika di katakan pagi.
"Sayang, kau yakin ingin memakai ini ke kantor?" tanya Dewa dengan pandangan tak percaya.
"Memang apa salahnya dengan pakaianku?" dengan santainya Cintya menjawab sambil memoles lipstik nude di wajahnya yang sedikit terlihat gembul.
Apa salahnya katanya?
Tentu saja itu salah menurut Dewa. bagaimana mungkin ia membawa istri yang merangkap sebagai sekretaris pribadinya itu dengan pakaian tidur. piyama bermotif sakura. tentu saja itu membuatnya tampak cantik tapi hanya boleh di lihat oleh Dewa di saat keduanya berdua berada dalam kamar.
Baiklah, mengalah untuk kali ini. setidaknya Dewa bisa meminta salah seorang pelayan butik langganan istrinya untuk mengantarkan pakaiannya ke kantor.
Dengan bergelayut manja pada lengan Dewa, Cintya menapaki tangga rumah besar itu untuk menemani suaminya berangkat ke kantor.
Bersiaplah untuk drama selanjutnya.
Di ujung tangga ia mendapati Isabel yang sedang memandang aneh ke arah mereka berdua.
Bagaimana tidak aneh, dengan celana panjang warna soft pink dari piyamanya itu, Cintya dengan begitu percaya dirinya memakai stellito sepuluh senti.
Sepertinya selera sang nyonya menurun drastis pagi itu. atau mungkin ia sedang merencanakan sesuatu. Dewa tak punya waktu untuk membahasnya. yang penting dirinya bisa berada di kantor secepatnya dan melakukan pekerjaan nya dengan baik.
Ya benar, seperti itu.
"Sepertinya ada yang harus mengikuti kursus kepribadian setelah ini, agar tidak membuat malu suami."
Awal kalimat yang terlontar dari mulut si ulat bulu. Cintya tak menganggapnya penting.
"Jadi seperti ini selera nyonya Direktur yang katanya hebat itu."
Kalimat kedua. oke Cintya masih bisa tahan.
"Kampungan dan tak tahu malu."
__ADS_1
Cukup!
Cintya ingin sedikit bermain pagi ini. bukankah beberapa saat lalu energinya terkuras habis, tapi kegiatan itu seolah memberikan energi tambahan untuk nya.
Di lepaskannya tautan tangan itu dari lengan kokoh Dewa, membuat Dewa membuang nafas kasar.
Dia pikir setelah acara rayu merayu, ia akan berangkat ke kantor tanpa halangan. dan ternyata, akan ada adegan yang membuat dirinya lebih terlambat lagi.
"Jadi aku kampungan?" Berdiri bersandar pada pinggiran tangga, Cintya memberikan seulas senyum meremehkan.
"Sangat!" jawab isabel penuh cibiran.
"Jadi aku tak tahu malu?" Menegakkan tubuh dan sedikit menoleh, ke arah Dewa.
Gestur tubuhnya seolah menyatakan 'jangan cegah aku untuk melakukannya, biarkan aku segikit bersenang-senang'.
"Dan sangat memalukan."
Plakkk!
Satu tamparan mendarat cantik di pipi Isabel.
Dewa hanya meringis tak sempat mencegah, tangan istrinya bergerak cepat. tak ada yang lupa bukan jika sang nyonya mantan pembalap liar.
Oh, Cintya merasa terhina sekali. jadi ia harus membalasnya.
"Lebih memalukan mana, seseorang yang berpakaian transparan dan mengunjungi kamar suami orang, seperti pengemis kelaparan, atau seseorang yang berpakaian lengkap tapi menginap dan tidur di hotel dengan pria tak di kenal."
Skakmat!
Pukulan telak tepat di jantungnya. Isabel di permalukan oleh ucapannya sendiri.
Cintya tak salah bukan, Isabel yang memulai lebih dulu.
"Ingat batasan mu nona, sekali kau berulah, aku tak segan-segan mengirim mu kembali ke negaramu lengkap dengan pandangan jijik dari mama dan papa."
Seketika Isabel terdiam dengan wajah yang memucat. bahkan Cintya tak benar-benar akan membeberkan kebusukannya.
Dengan langkah ringan dan mengangkat dagu, Cintya kembali menggamit lengan Dewa yang masih tampak shock mendapati istrinya bisa sekasar itu.
Baiklah, Cintya semakin aneh dan semoga itu bukan sebuah penyakit. membayangkannya saja Dewa mendadak khawatir.
__ADS_1
Keduanya melanjutkan langkah melewati Isabel yang masih berdiri aja mematung. dengan sengaja Cintya menabrakkan bahunya pada tubuh isabel. membuat gadis itu terhuyung.
"Ups, sorry, aku sengaja." ledeknya kemudian.
"Cinta." Dewa menegur dengan sangat lembut. bagaimana pun ia tak akan mengeluarkan kata-kata kasar atau bentakan. gadis kecilnya terlalu berharga untuk di perlakukan kasar.
Eh, apa itu yang di namakan Bucin.
Seharusnya bukan. Dewa hanya terlalu menyayangi gadis kecilnya.
Ya, benar begitu. Dewa tidak sedang bucin.
Perlahan Buggati La voitu noire meninggalkan halaman rumah keluarga Herlambang. membelah jalanan yang lumayan lenggang karena jauh dari jam keberangkatan kerja.
"Lapar?" tanya Dewa karena memang mereka telah melewatkan sarapan.
Cintya menganggu dramatis. sungguh menggenaskan.
"Mau makan dulu apa nanti saja di kantor?"
"Di kantor saja ya?" Dewa mengangguk seraya mengusak rambut Cintya yang tergerai.
"Mau makan apa, biar kakak pesan sekarang. biar nanti kamu bisa langsung makan." tawarnya masih dengan kelembutan. tak ingin drama keluarga padi tadi terulang kembali. bisa-bisa malah mereka batal ke kantor dan terakhir di kamar hotel.
"Mau makan rujak buah campur lontong."
Eh, apa tadi Dewa tidak salah dengar.
Belum lagi otaknya yang lambat mencerna ucapan istrinya, bibir lembut itu kembali berceloteh.
"Sama Es rempah super pedas." wajahnya berbinar saat mengucapkan keinginannya.
Apalagi ini, di mana Dewa bisa dapatkan makanan aneh itu. Dewa menelan saliva dengan susah payah.
Ya Tuhan, Drama apa lagi ini.
***
Hayooo Cintya aneh kenapa.
Rujak buah campur lontong, mana ada???
__ADS_1
Es rempah super pedas, ada yang pernah minum itu???
jejaak...