Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Delon.


__ADS_3

Happy Reading...


Matahari telah beranjak naik saat mobil Leo memasuki halaman villa Herlambang. di susul dengan kendaraan lain di belakangnya yang berisi empat orang, sepasang suami istri satu orang pria tua dan satu lagi wanita cantik bertampang kebulean.


Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berwarna putih juga menyusul memasuki halaman. keluarlah seorang wanita yang masih mengenakan Sneli di tubuh rampingnya di ikuti oleh suster dan anak laki-laki berusia lima tahun.


Dengan gerakan lincah anak itu berlari sambil berteriak.


"Daddy... Daddy..." teriaknya girang.


Dewa mengenali suara itu, lantas ia keluar dari ruang tengah hendak menyambut anak lelaki yang selama lima tahun ini memanggilnya Daddy.


Namun naas, anak itu hanya melewati nya dan berlari menuju seorang pria yang sedang berdiri membelakangi pintu dan langsung memeluknya dari belakang


Dewa mengikuti dengan


matanya. pemandangan pertama yang di dapati nya adalah Delon memeluk Leo dari belakang.


Hati Dewa ngilu melihatnya, bahkan Leo tak menyambutnya. Leo hanya memandang tanpa memberikan reaksi apapun.


"Delon, sini nak sama Daddy."


Panggilan Dewa membuat anak itu merotasikan kepala. lalu mundur dua langkah dengan cepat, wajahnya merah antara takut dan malu. melihat ke arah Leo dan Dewa bergantian.


"Daddy." Delon berlari dan memeluk Dewa dengan wajah yang masih memerah.


Leo tersenyum tipis. dalam hati pria itu tak terima jika anak yang ia curigai adalah darah dagingnya memanggil Dewa dengan sebutan Daddy.


Penolakan Lilian pada pesta pernikahan Dewa malam itu menguatkan dugaan bahwa dirinya memang ayah biologis Delon. tapi egonya mengatakan bahwa Delon mungkin saja bukan anaknya. seperti yang Lilian katakan.


Lilian menyaksikan pemandangan yang menyesakkan itu. bibirnya mengulas senyum kaku. apalagi ia tengah berada dalam keluarga besarnya. tak ada yang tahu siapa ayah biologis Delon kecuali dirinya dan Dewa. bahkan saat papa Rendra murka dan menuduh Dewa yang menghamili Lilian, Lilian tetap bungkam tak mengakuinya.


Rasa sesak yang di rasakan Lilian berubah jadi butiran air yang menerobos di sudut matanya. dengan cepat wanita itu menyekanya.


Darah lebih kental daripada air. begitulah pepatah mengatakan. tanpa ada yang mengarahkan bahkan Delon sendiri yang menghampiri takdirnya.


Lilian merasa pasti akan ada yang terjadi setelah ini. Leo pasti akan mendesaknya untuk mengakui keberadaannya sebagai ayah biologis dari anaknya. ia menyesal telah memenuhi permintaan Dewa, ia lupa jika Leo pasti akan berada di sana.


Malam itu...


"Siapa dia." satu pertanyaan dan merupakan kalimat pertama yang Lilian dengar dari mulut Leo sejak beberapa jam yang lalu.


Dengan dada yang bergemuruh Lilian berbalik. Leo tengah menatapnya dengan tatapan tajam mengintimidasinya.


Satu tangannya tersembunyi di balik kantong celananya dan tangan lainnya terkepal menahan segala bentuk rasa yang ada dalam hatinya.


"Siapa?" meski Lilian tahu kemana arah pembicaraan Leo namun untuk menutupi kegugupannya ia tetap menanyakannya.


"Dia, kamu cukup tahu siapa yang aku maksud?" ucap Leo datar.


"Delon, namanya Delon. dia anakku dan Dewa." ujar Lilian dengan segaris lengkungan di bibirnya.

__ADS_1


"Jangan membual Lilian." bentaknya tertahan.


"Itu benar Leo, apa kau tak memperhatikan kedekatan mereka."


Leo membuang pandangannya, menahan geram.Bagaimanapun mereka sedang berada di tengah pesta. tak ingin ada yang mendengar pertengkaran mereka, lantas Leo menarik Lilian, menjauh dari keramaian.


Leo membawa Lilian kedalam kamar yang telah ia pesan. tak ada jalan lain kecuali Lilian membiarkan Leo membawanya masuk.


"Sekarang jelaskan, siapa ayah dari anakmu!" Leo tak merendahkan suaranya lagi. toh tak ada yang dapat mendengar perdebatan mereka karena teredam oleh peredam suara.


"Kalau kau memang pintar, mungkin hanya dengan melihat wajahnya saja kau bisa mengenalinya."


Leo bergeming menetap Lilian dengan pandangan sulit di artikan.


Sedetik kemudian Lilian menyadari kesalahannya. ia merutuki kebodohannya. hanya karena rasa rindu dan cinta yang masih menggebu Lilian sembarangan dalam berucap.


"Kau lihat wajahnya tak ubahnya seperti Dewa. mereka sama persis,,"


"Cukup Lilian!" bentak Leo yang akhirnya membuat Lilian menghentikan kalimat yang ingin meralat ucapannya.


"Jika dia memang mirip Dewa itu bukan masalah besar karena nyatanya kalian bersaudara. meski kalian dari orang tua yang berbeda, nyatanya darah Eyang Wisnu mengalir di tubuh kalian."


Lilian tersentak. bagaimana Leo tahu masalah itu.


"Dari mana kamu tahu kami bersaudara." ujarnya gugup.


"Itu tak penting. sekarang aku hanya ingin tahu siapa ayah dari Delon."


Tuduhan Leo siang itu cukup menorehkan luka. sedangkan ia ingat betul kejadian beberapa Minggu sebelum perkelahian itu. saat ia mendapati dirinya tertidur dalam pelukan Leo tanpa mengenakan apapun. Leo mabuk dan terjadilah malam naas itu.


Dengan langkah terburu-buru Lilian keluar dari kamar hotel itu untuk menghindari pertanyaan lain dari Leo. ia takut tak dapat mengkondisikan jantungnya. dan akhirnya berucap salah.


Tapi sebelum mencapai pintu, Leo terlebih dulu mencekal tangannya. pria itu menarik Lilian hingga menubruk dadanya. lalu mendorong dan menguncinya pada tembok dengan kedua tangannya.


Tanpa meminta persetujuan, Leo meraup bibir berlipstik nude itu dengan rakusnya. Serangan yang tiba-tiba di lakukan Leo terhadapnya membuat otak Lilian membeku.


Cinta yang membeku dan rindu yang menggebu menciptakan sebuah perasaan yang membuncah. menjadikannya keberanían untuk melakukan hal yang tak semestinya.


"Kau membuatku gila Lilian."


Lilian masih terdiam, syok terhadap perilaku dadakan dari Leo.


Kembali pemuda itu menyambar bibir Lilian, mencecap dan mengulumnya. menuntut lebih dalam bahkan kedua tangannya yang semula mengunci kedua tangannya berpindah ke rahang Lilian, mengusap leher dan menahan tengkuknya


"Katakan jika Delon adalah anakku." tanya Leo seraya mengusap bibir Lilian yang masih basah karena ulahnya.


Leo menjatuhkan kepalanya di perpotongan leher Lilian membuat gadis itu semakin membeku. "malam itu aku tidak mabuk karena alkohol. itu hanya obat perangsang. jadi aku mengingat semuanya. saat aku berada di dalamnya dan meledak di dalammu. jadi katakan jika Delon adalah milikku."


Nafas keduanya masih memburu untuk seperkian detik. dan detik kemudian Lilian mendapatkan kewarasannya


Plak!!

__ADS_1


Satu tamparan Leo dapatkan. membuatnya terdiam dan memandang Lilian dengan tatapan bersalah. Leo telah melukai harga dirinya. dan itu menjadi alasan yaang kuat untuk menjauhkan Delon darinya.


"Delon bukan anak mu atau anak siapapun. dia adalah anakku." air mata Lilian deras di pipinya. kembali Leo menghinanya. membuatnya semakin meradang.


Leo memandang nanar kepergian Lilian hingga punggung wanita itu menghilang di balik pintu.


Leo meremas rambutnya frustrasi lalu menjambaknya kuat lalu berteriak kencang untuk meluapkan emosinya. ia sadar telah menyakiti wanita itu lagi.


"Mama.." panggilan Delon membuyarkan lamunan Lilian.


"Kenapa mama menangis?" Lilian tersenyum canggung. Delon melihat bekas air matanya.


"Mama tidak menangis, cuma perih karena udaranya dingin." Bohongnya.


Dewa tahu itu dan dengan isyarat matanya menyuruh Lilian masuk ke dalam ruang utama. tempat seluruh keluarga berkumpul.


"Kenapa Lo?" tanya Dewa melihat Leo masih terdiam mematung.


"Bagaimana cara gue memperbaiki semuanya?"


Dewa mengedik acuh, "gue udah mulusin jalan elu, jadi cari cara sendiri buat selesaiin masalah kalian."


"Wa," panggilnya.


"Apa!"


"Bantu gue?"


"Apaan?"


Leo menggaruk tengkuknya konyol. entah kemana ketegasan uang pria itu miliki.


"Kalo gitu gue bakal bawa adek gue pulang." ancamnya namun terdengar sangat lucu di telinga Dewa.


"Bawa aja kalo adek lu mau, dia udah pasrah di bawah gua." jawab Dewa dengan tawa penuh kemenangan.


"Apa yang udah lo lakuin sama Cintya."


"Ya gue apa-apain lah, secara dia bini gue, udah gue bayar tunai, udah halal juga. emangnya elu, udah apa-apain adek gue tapi Lo malah ngilang" ejeknya sambil berlalu meninggalkan yang masih terdiam mematung di tempatnya.


"Dewa..." teriaknya namun terdengar seperti rengekan di telinga Dewa.


"Budek gue, gak denger lu bilang apa." ujar Dewa lagi dengan kekehan kecil.


Leo menendang udara, ternyata selama seminggu ini dia lupa jika memiliki saudara ipar sableng yang level kejahilannya di atas rata-rata.


***


Maaf telat, semoga malam ini gak ketiduran lagi.


jejaaaaak...

__ADS_1


__ADS_2