
Siapin hujatan termanis buat Dewa sableng...
Happy Reading...
Dewa tercenung, bagaimana bisa itu terjadi, bukankah cinta juga membutuhkan proses.
"Tunggu, kok gue ngerasa seperti di permainkan, kalian sekongkol ngerjain gue?"
"Terserah apa yang ada di pikiran elo, yang penting elo harus ngikuti syarat dari gue," Leo melirik Cintya sebelum beranjak dari tempat duduknya.
Dewa terdiam membeku di tempatnya. bahkan ia belum sempat duduk dan Leo sudah meninggalkannya. dengan segala perasaan gusar marah dan ingin mengumpat.
Dewa menarik kursi dengan kasar dan duduk dengan sedikit keras. menyuruh Cintya duduk di hadapannya dengan isyarat mata.
Cintya yang tak pernah melihat ekspresi Dewa seperti itu menjadi sedikit heran dan takut. gadis itu dengan manisnya duduk di hadapan pria yang sudah mengubah ekspresinya menjadi dingin. sama sekali bukan tampang Dewa.
"Om," panggil Cintya pelan, bagaimanapun ia belum bisa memastikan jika saat ini Dewa dalam mood yang buruk apa tidak.
Tanpa menjawab sapaan Cintya, Dewa memanggil pelayan dan memesan makanan mereka.
Beberapa menit kemudian, makanan telah sampai di meja mereka. dengan masih mempertahankan kebisuan masing-masing, mereka makan dalam diam. bahkan tak ada acara jejal menjejalkan makanan satu sama lain seperti yang biasa mereka lakukan.
Dewa bahkan pergi meninggalkan Cintya di belakangnya setelah mereka menyelesaikan acara makan yang tak mengenakkan itu.
"Om, kok Cintya di cuekin?" gadis itu protes tapi sayang Dewa sama sekali tak bereaksi apapun. tetap diam pasang mode dingin cuek dan irit bicara.
Dewa mingkem.
Merasa di acuhkan, Cintya tak ambil pusing. toh Dewa diam atau ngoceh intinya tetap sama, menyebalkan.
Hening...
Hening...
__ADS_1
Hening...
Cintya bosan memilih sibuk dengan gadget di tangannya. seperti biasa tertawa tanpa dosa terkikik sendiri membuat Pria di sampingnya menjadi semakin keki.
Dewa menghentikan mobilnya di sebuah gedung pencakar langit. dengan papan nama 'Herlambang's Hotel'. meski tanpa di perintahkan, Gadis itu pun terus membuntuti di belakang sang tuan yang berjalan penuh kewibawaan.
"Kunci kamar pribadi gue" Ucapnya dingin bernada perintah pada dua orang resepsionis yang menyambutnya dengan senyum penuh keramahan.
"Silahkan pak," salah seorang resepsionis memberikan kunci berbentuk kartu. dengan senyum yang menawan, gadis itu terus memperhatikan Dewa yang tak langsung mengambil kunci tersebut.
"Silahkan pak," ulang gadis itu lagi.
"Ya, terima kasih," ucap Dewa datar dan berlalu begitu saja. Cintya tetap setia mengekor di belakangnya.
"Lu liatin apaan sih?" tanya resepsionis lain yang sedang memperhatikan bos dan temannya bergantian.
"Kok dia makin kece sih?" ucap resepsionis itu ngglambyar.
"Pak Dewa emang keren, duh bikin ngiler gue deh," timpal temannya.
"Tunggu, jangan bilang Lo udah pernah maen sama dia?" interogasi temannya penuh curiga. yang di tanya malah mengangguk bangga.
"Busyet, gimana dia?" ternyata mereka sama.
"Gue gempor di gempur semalaman." ujarnya tanpa rasa malu.
"What???" ujarnya antusias. "Liar banget ya?"
"Jangan di tanya, dia itu manusia dengan tenaga kuda." temannya makin terpekik.
"Kok bisa sih elu sama dia?" temannya semakin kepo.
"Syarat mutlak biar bisa masuk kesini tanpa tes segala macem."
__ADS_1
"Hah!" kagetnya telat.
Brengsek juga pak Dewa. batin si resepsionis.
"Kok elu mau sih?"
"Ya gimana orang gue butuh kerjaan, lagian di kan ganteng. gue malah nerima tawarannya tanpa berfikir." ucapnya sedikit menyesal.
"Oon banget lu,"
"Emang, gue kira dia bakalan tanggung jawab. eh, gak taunya tuh orang cuma maen sekali sama satu orang."
Temannya terkikik mencemooh. "Tolol!"
"Banget, hilang deh perawan gue di ujung tanduk pak Dewa." Ucapnya menyesal.
Tawa temannya pecah, "Jadi di bos yang udah merawanin elu?" resepsionis itu kembali mengangguk.
"Gak nyesel lu?"
"Gak, ngapain gue nyesel orang dia bayar perawan gue dengan gaji setahun dengan status karyawan tetap. aman hidup gue gak perlu takut di PHK ," ujarnya, kemana raibnya penyesalan beberapa saat yang lalu.
"Makmur banget hidup Lo, tp orang seperti dia, kita gak mungkin menang jika mau nuntut macem-macem. kelar hidup kita."
"Ngapain nuntut jika tiap bulan gue dapet jatah." ucapnya tanpa sadar.
"Maksud Lo?"
"Gak, gak pa pa, lupain ucapan gue yang terakhir." Resepsionis itu gelagapan. merutuki kebodohannya karena berkata tanpa berfikir. sedangkan temannya itu menelisik wajahnya dengan tatapan curiga.
***
*Rahasia apakah gerangan???
__ADS_1
jejaknya grngs...
.