
Week end. Bukankah itu nama lain dari akhir pekan. bukankah itu saat dimana orang-orang sedang berlibur. atau paling enggak mereka bercengkerama dengan keluarga. berkencan bagi yang sedang berpacaran atau berpiknik bagi sudah berkeluarga.
Tapi tidak dengan sepasang manusia yang hanya sibuk berkeringat di atas ranjang.
Pagi semakin menua, desingan angin tak lagi membawa kesejukan. kicauan burung pun tak lagi terdengar. hawa panas dari teriknya sang mentari membuktikan bahwa pagi mereka benar-benar terlewat kan.
Benar sekali, setelah terjadinya sebuah kericuhan yang berakhir dengan adegan panas sepasang suami istri itu, kini Cintya hanya mampu terbaring tak berdaya.
Niat awal yang hanya ingin membuat Isabel kesal justru berakibat buruk pada dirinya.
Oh, itukah yang di namakan senjata makan tuan? sepertinya iya. karena saat itu Cintya hanya ingin membuat isabel memanas dengan memamerkan kemesraan. tapi yang terjadi adalah Dewa yang tak ingin melepaskan dirinya.
Berbalut handuk hanya sebatas setengah badan kebawah, Dewa telah merampungkan acara mandinya. di dapatinya istrinya masih terlelap di atas ranjang dengan selimut yang menutup hingga bagian leher.
Berjalan mendekat lalu mengambil satu ciuman di dahi, hidung dan di bibirnya, meski seperti itu tak juga membuat sang putri tidur terganggu sedikitpun. hanya menggeliat sebentar lalu kembali terlelap.
"Istri gue." Dewa terkekeh gemas. "sayang kamu, Cinta kamu." di kecupnya bibir mungil itu lagi berkali-kali. namun tetap saja Cintya tak terganggu.
Setelah memberikan kecupan di pelipis gadisnya, Dewa berjalan ke arah lemari pakaian. mengganti pakaiannya lalu berjalan kearah meja kaca, tempat dimana terdapat banyak sekali barang-barang milik istrinya. untuk mematut diri.
Rencananya hari ini ia akan mengajak istrinya jalan-jalan dan memanjakannya. sudah lumayan lama mereka tak beradu mulut di dalam mall hanya untuk memperdebatkan masalah sepeleh.
Terlalu sibuk bekerja dari pagi hingga malam, meski berada di tempat yang sama tentunya tak akan sama dengan saat mereka berdua di luar urusan pekerjaan.
Ah, Dewa Romantis sekali.
Dewa menaiki ranjang dan merebah kan diri di sana dengan bertumpu pada satu tangannya.
"Udah deh, Tya mau ganti baju, si ulet bulu udah pergi kayaknya." ujarnya seraya mendorong tubuh Dewa yang sudah tak memakai penutup dadanya lagi.
"Eh, maksudnya?" Dewa bertanya bingung. padahal dia sudah berada di puncak gai*ahnya.
"Cintya tadi cuma mau bikin panas isabel aja."
Eh, apa tadi?
Cuma mau bikin panas?
Dewa gak salah dengarkan?
Uh, istrinya itu benar-benar menggemaskan. sekaligus menyebalkan.
Bolehkah jika ia mengumpat sekarang?
Sialaaaan...
__ADS_1
"Apa lu bilang? cuma bikin panas Isabel? Enak aja, gue udah panas ini. sini lu?"
"Gak mauuu..'
Dewa mencekal pergelangan tangan Cintya yang hendak kabur keluar kamar, tapi bukan Dewa namanya jika mereka tak bisa menikmati org*sme bersama pagi ini.
Perdebatan kecil mereka dua jam yang lalu melintas, Dewa kembali tersenyum. bagaimana bisa dia terjebak oleh pesona gadis yang telat dewasa seperti istrinya itu. dan sialnya Dewa bertekuk lutut hingga tak berkutik.
Sungguh sangat sial sekali nasib Dewa ini.
Eh, sial?
Bukan, Dewa bukannya sial tapi terkena Kutukan. ya benar sekali Dewa terkena Kutukan.
"Cintya udah tau kalo Cintya cantik, sangat cantik bahkan, hingga Om klepek-klepek kan? jadi gak usah di liatin kayak gitu."
Meski masih dengan mata terpejam, betapa narsisnya ucapan Istrinya itu.
"Cih, pede banget kamu cil." Dewa berdecih namun tak urung bibirnya tertarik menjadi sebuah senyuman.
"Jangan cah cih cah cil mulu Om, dosa kalo gak nuruti ucapan istri."
Eh, apa tadi Cintya sedang mengembalikan ucapan yang sering Dewa katakan?
Dewa tergelak kencang bersamaan dengan terbukanya kedua mata cantik itu.
Cintya mengangguk manja seraya berusaha bangun. jika boleh bilang, Cintya kapok memancing g*irah Dewa. bagaimana pun ia tak akan menang.
Dan bodohnya ini yang kedua kalinya setelah kejadian ia yang memaksa Dewa menelan Vi*gra.
"Mau jalan-jalan?"
"Ke mana?"
"Kemana aja, hari ini kakak mau manjain kamu."
Cintya sumringah, tentunya segala keinginan nya pasti terkabul hari ini.
"Kita Shoping?"
"Tentu saja."
"Tidak di potong gaji kan?"
"Isss, kalau bukan kamu, siapa yang bakal habisin uang kakak?"
__ADS_1
"Di mengerti!" serunya girang senyum Cintya semakin lebar. di sibaknya selimut yang menutup tubuh telanjangnya. lalu turun dan berjalan dengan riang ke arah kamar mandi.
Suara gemercik air yang berhamburan dari atas Shower terdengar tak begitu lama. Cintya telah merampungkan mandinya hanya dalam waktu sepuluh menit.
Setelah mengganti handuk nya dengan Jeans bolong-bolong di bagian lutut hingga kebawah dan kaos berwarna dark grey yang menutup hingga lehernya, Cintya telah bersiap untuk memulai petualangan siangnya.
"Kok pake ginian, panas loh dek?"
tegur Dewa karena Cintya memakai pakaian terlalu tertutup.
"Malu ih, leher Cintya udah mirip Cheetah!"
Dewa tergelak, tentunya ia sudah mengerti dengan makna seperti Cheetah.
Ya benar, Dewa sudah melukis kiss mark hampir di seluruh bagian tubuh istrinya. bahkan di bagian terdekat dengan bagian intinya.
Ya ampun, Dewa mesum sekali.
Pasti para pembaca akan langsung travelotak, membayangkan kiss mark di bagian inti. ah sudahlah.
"Kita ke pantai saja ya kak, Cintya pengen."
"Pantai?"
"He em."
"Oke kita pacaran hari ini."
"Tapi pake motor."
"Eh,,"
Dan pada akhir nya Dewa tak mampu berkata tidak. maka siang itu di bawah panas yang tidak terlalu terik , mereka membelah jalanan menggunakan kuda besi milik Dewa. meninggalkan para pembaca dengan segala imajinasi tentang kiss mark.
***
Maaf keun, tak ada adegan panas untuk week end ini. kalian cukup membayangkan atau mempraktekkan apa yang Dewa dan Cintya lakukan.
Ciptakan motif cheetah di tubuh masing-masing dan buat Kiss mark seindah mungkin.
Dah lah, emaknya Sableng makin sableng, seperti biasa yang emak pengen kalian tetep dukung cerita ini. sumbangkan ide kalian. kita bercerita sama-sama.
Biar kan jari-jari emak mewakili imajinasi kalian.
Happy week end, happy famili day.
__ADS_1
lots of luv, chanda 💕