Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Rahasia Isabel.


__ADS_3

Happy reading...


"Jadi kamu bohongin kakak selama seminggu?" tanya Dewa dengan tatapan tak percaya.


Manik abu-abunya menatap tajam ke dalam manik bening mata bulat milik istrinya.


Dengan manisnya Cintya mengangguk tanpa merasa berdosa sedikitpun. membuat Dewa ingin marah tapi tak bisa.


Bagaimana pria itu akan marah sedangkan ia telah di butakan oleh cinta yang semakin menguat karena kebahagiaannya yang mampu memiliki gadis impiannya.


"Cinta... kau kejam!" Geram Dewa, betapa menggemaskan istrinya itu. tanpa merasa bersalah gadis itu malah tersenyum dengan senyum terbaiknya dan semakin mengeratkan pelukannya.


Bukankah ada pepatah mengatakan, Sedia payung sebelum hujan. seperti itulah yang di lakukan oleh Cintya. berjaga-jaga sebelum Dewa mengambil sesuatu yang paling berharga darinya dan ternyata pria itu tak setia. pasti gadis itu akan sangat menyesal.


Dan sekarang Cintya boleh senang karena prianya begitu teguh memegang prinsip nya.


"Kejam apanya, justru Cintya yang terdzolimi di sini. kakak sudah membuat Tya kelelahan semalaman." manik bulat itu membulat dalam pandangan Dewa. membuat pemiliknya semakin terlihat manis dan menggemaskan.


Dewa suka melihatnya. tak ada kesedihan atau kebohongan di sana. hanya ada cinta dan kebahagiaan yang tersimpan dalam manik hitam milik istrinya. cinta yang tak perlu di pertanyakan atau di ragukan. semakin menatapnya, Dewa semakin jatuh cinta pada pemiliknya.


"Mana ada orang terdzolimi tapi merem melek." Dewa berdecih namun sudut bibirnya sedikit terangkat. berusaha untuk tidak tersenyum.


"Apa namanya jika bukan terdzolimi, Tya sampai merintih." sanggahnya tak mau kalah.


"Iya merintih keenakan bukan kesakitan."


"Sakit!" bibir itu manyun membuat Dewa ingin menerkamnya.


"Punggung gue juga sakit " Dewa merotasikan kepala berusaha melihat punggungnya yang terdapat bekas cakaran Cintya.


"Lagian ya kak, Cintya cuma berusaha mempertahankan apa yang menjadi milik Cintya."


"Emang apa yang lu pertahanin?" kembali gaya mode bicara itu muncul begitu saja.


Cintya tak mempermasalahkan, hubungan suami istri tak harus di lihat dari cara mereka berbicara formal atau kelewat sopan. selama mereka memiliki adab kesopanan dan saling menghargai, semua tak masalah.


"Cintya pertahanin kakak lah?" ujar gadis tak perawan itu meninggi.


Dewa tersenyum dalam hati, ternyata kebohongan yang membuatnya tersiksa selama tujuh hari adalah demi dirinya.


Bolehkah jika Dewa teranjung saat ini?.


"Makasih elu udah pertahanin gue." ujar pria itu dengan seulas senyum.


"Tentu saja Cintya harus pertahanin kakak."


"Karena itu gue makasih sama elu."


"Tak perlu."


"Kenapa."


"Cintya Ikhlas."


"Makin Cinta deh kakak."


"Cintya juga cinta kok sama Om"

__ADS_1


"Baper hati Abang dek,"


"Jangan baper dulu?"


"Emang kenapa?"


"Cintya gak mau aja kehilangan ATM berjalan yang tampan ini."


"Ancur hati Abang dek." Dewa menggeleng lalu membuang pandangan kemana pun yang penting tidak menatap gadis yang masih anteng berada dalam pelukannya. pria itu tersenyum masam.


Siapapun tolong ingatkan Dewa jika istri kecilnya itu paling ahli dalam melambungkan lalu menghempaskan. seperti balon yang di isi air hingga penuh lalu membantingnya.


Byurr...


Pecah hancur dan berderai.


Cintya terkekeh lucu.


"Misalnya elu gagal gimana?"


"Ya tetep berusaha buat rebut, setelah itu Cintya hancurin keduanya."


"Makin potek hati Abang Dek, berasa kayak mainan."


Keduanya terkekeh bersama, tak ada yang di namakan kesedihan saat keduanya menempel dengan tanpa sehelai benang pun yang menghalangi tubuh mereka. kecuali selimut yang mereka pakai.


Bukankah selalu ada solusi dalam setiap masalah jika suami istri membicarakan masalah itu di atas ranjang.


Olahraga malam adalah salah satu cara terbaik untuk menyelesaikan perdebatan.


"Boleh Cintya minta sesuatu?" ujarnya dengan wajah serius.


"Bisakah kakak memeluk Cintya seperti ini setelah kita selesai melakukannya?"


Permintaan yang tak pernah di sangka oleh seorang Dewa. dia pikir istrinya akan kembali meminta perhiasan dengan model sederhana namun dengan harga fantastik. ternyata ia salah.


"Kenapa minta itu!"


Cintya mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya pada bidang dada suaminya. sebelah kakinya menimpa kaki Dewa yang selonjoran membuat sesuatu yang lembek di sana perlahan mengeras.


"Cintya merasa sangat berharga dan di sayang. itu saja."


Dewa membenarkan posisinya dan memberikan tempat ternyaman dalam pelukannya untuk sang istri.


Bibirnya tak berhenti tersenyum sambil sesekali mencium pucuk kepala gadisnya.


"Kak, dia bergerak."


"Dewa junior minta di manja, sayang."


"Suruh tidur lagi aja, ada yang ingin Cintya tanyakan."


"Tentang?" Dewa tak lagi hirau. di tindihnya tubuh itu tanpa ampun.


"Kenapa Isabel seperti itu dan, Ah..!"


Cintya kehilangan fokus karena lidah suaminya sudah menguasai bukit saljunya.

__ADS_1


"Nanti kakak jelasin." ujarnya sambil melancarkan serangan.


"Dan Delon, kenapa mereka bisa sampai memilikinya, ssh!" Desis Cintya merasakan sensasinya yang hebat.


"Nanti kakak jelasin semuanya, sekarang kita buat Sepupu buat Delon." Dewa dengan suara beratnya teredam kulit di perpotongan leher Cintya.


"Emmmp!"


Tanpa memberikan peringatan Dewa melesakkan miliknya dengan satu kali hentakan.


Erangan dari keduanya menjadi irama dalam kamar sunyi itu beradu dengan desingan angin laut dan deburan ombak yang menghantam karang.


Tak terhitung detik yang mereka lewati hingga keduanya meledak bersama-sama.


"I love you." Dewa mengecup kening Cintya hangat dan dalam.


"Love you more, mamoru Chiba." sahut Cintya di antara nafasnya yang masih memburu.


Sesuai permintaan gadisnya, Dewa membawa tubuh Cintya ke dalam pelukannya. memeluk sangat erat dan hangat.


"Katakan bagaimana bisa ada Delon di antara kak Leo dsn dokter Lilian."


"Leo menjadi korban salah sasaran. seseorang telah mencampurkan jus dengan obat perangsang yang seharusnya itu jus gue."


"Hah!" bola mata cantik itu membeliak.


"Kenapa bisa?"


"Mungkin kakak elu haus kali,"


"Serius ih!" Dewa memukul dada Dewa pelan.


"Leo salah ambil waktu itu, dan keadaannya waktu itu hanya ada Lilian di sana. dan yah begitulah."


"Kakak kemana waktu itu?"


"Gue waktu itu pergi keluar sama anak-anak. dan di villa tinggal tiga orang saja."


"Dia sengaja mau jebak gue, dia terobsesi sama gue sejak remaja. dan dia ke villa itu cuma buat dapetin gue. dan sayangnya dia gagal. malah kakak elu yang beruntung merawanin Lilian." Dewa terkekeh setelahnya.


"Ish jahatnya mulut suamiku, pengen gigit."


Bukannya takut Dewa justru memajukan bibirnya, disambut dengan kecupan singkat oleh Cintya.


"Dia siapa?"


"Isabel."


"Apa? benar-benar cari perkara sama aku." Cintya meninju telapak tangannya sendiri, geram.


***


Isabel...


bener-bener mancing perkara. cari mati dia. pulang kampung cuma buat jenyerahkan nyawa. wkkkk


Jejaknya genks... bagi vote dong kali ada yang punya.

__ADS_1


Like komen jangan lupa. gift seikhasnya juga oke. ngarep.


Lots of luv Chanda 💕💕💕


__ADS_2