
Happy Reading...
Kita dipertemukan oleh semesta yang di tentukan oleh takdir dan di persatukan oleh jodoh dan hanya di pisahkan oleh maut.
***
"Kakak, makasih ya udah tolongin Adisty, kakak mau kan jagain Adisty selamanya?"
"Iya, Kakak janji jagain kamu selamanya."
"Apa kita berteman?"
"Ya cantik, kita berteman."
"Tapi kakak akan pergi."
"Kakak akan berada di sekitarmu,"
"Janji;"
"Janji."
"Apa setelah besar kita akan menikah?"
"Ha..ha..ha..., tapi kau masih kecil."
"Kalau begitu kakak harus menungguku sampai besar."
"Ya baiklah, kakak akan menunggumu."
Cup!
"Adisty sayang Kakak"
Dewa tersenyum mengingat kejadian enam belas tahun yang lalu, saat ia membawa gadis kecil berusia enam tahun kembali kedalam pesta pernikahan.
__ADS_1
Celotehan seorang gadis kecil seolah di amin kan oleh ribuan malaikat. obrolan singkat yang telah mengikat hati seorang remaja berusia empat bekas tahun.
Setelah malam itu Dewa tak pernah bertemu kembali dengan gadis kecil yang membuat dunianya terpaku pada kenangan masa lalu. lucu dan indah.
Hingga sepuluh tahun kemudian hatinya bergetar untuk pertama kalinya. saat melihat gadis remaja dengan atribut sekolah khas siswa yang sedang MOS.
Seorang gadis cantik dengan senyum bidadari yang terbalut dalam wajah yang bertekuk. lalu takdir kembali memisahkannya.
Kini mereka di pertemukan kembali dengan cara yang sangat dramatis. perjodohan konyol yang sempat mereka tolak.
Cethek!
Suara gesekan dari dua jari yang bertaut memaksa Dewa kembali pada kenyataan, setelah selama beberapa detik dirinya berselancar di dunia masa lalu.
"Om!" Dewa mengangkat wajahnya, sejajar dengan wajah yang tengah mengisi seluruh ruang dalam ingatannya.
"Lagi mikirin apa sih?"
"Kamu." jawab Dewa di antara lengkungan di kedua sudut bibirnya.
"Ngapain mikirin Cintya,"
"Om, ngapain sih liatin begitu?" Cintya gugup, Bola matanya bergerak liar. lalu menunduk, bersembunyi dari tatapan tajam pria di depannya yang membuatnya salah tingkah.
"Duh ngapain sih di sableng ini liat sampe segitunya, buat gue gugup aja." Cintya bermonolog dalam hati.
"Cil, lu inget gak kapan kita pertama kali bertemu " Cintya mengangkat wajahnya karena Dewa menanyakan hal yang membuatnya kesal dan juga tertawa geli saat mengingatnya.
"Cintya gak akan pernah lupa saat dimana Om masuk ke kamar Cintya seperti kadal, tanpa ijin."
"Kamar gue kali Cil, lu aja yang rabun"
"Udah ih, gak perlu bahas masa lalu," Cintya mengalihkan pembicaraan karena malu jika ada yang mengingatkan bahwa memang dirinya yang salah.
"Justru gue sedang ingin membicarakan masa lalu gue sama elu. kita di masa lalu." ucap Dewa dalam hati.
__ADS_1
Dewa tersenyum samar, menelisik wajah gadis yang ada di hadapannya, membuat Cintya semakin salah tingkah.
"Apa sih?" Cintya menyembunyikan senyum dan wajahnya yang merona dengan menunduk.
"Apa?" Dewa memiringkan kepala menengok wajah Cintya.
"Om,!
"Ya Sayang," melihat wajah Cintya yang merona, Dewa semakin gencar menggoda.
"ih, om nyebelin, Cintya mau pulang aja." Cintya sudah bersiap untuk pergi sebelum Dewa menyerahkan gawai ke hadapannya.
Mata gadis itu melotot tatkala melihat foto yang di tampilkan di atas layar. tidak hanya Satu namun banyak sekali dengan berbagai pose dan ekspresi wajah.
"Om, foto ini?" Cintya tercengang, bagaimana Dewa bisa memiliki foto itu. sedangkan kejadian dalam foto itu sudah lebih dari lima tahun yang lalu.
"Bagaimana mungkin Om memiliki foto ini dan bagaimana cara nya?" Tanya gadis itu heran.
"Tentu saja gue ambil diam-diam,"
Ya, itu memang foto Cintya sewaktu menjadi siswa sekolah menengah. Dewa mendapatkannya secara tak sengaja saat ia melintas di jalan sekitar sekolah tempatnya menimba ilmu.
Tempat yang banyak sekali menyimpan kenangan bersama Leo.
Cintya semakin bingung manakala Dewa juga memberikan sebuah benda kecil kesayangan sang pemilik wajah dalam foto tersebut.
"Ini," Cintya terpekik." Ini penjepit rambut kesayangan Cintya yang hilang itu, bagaimana mungkin ada pada Om?"
"Apa lu lupa jika gue seorang Dewa Herlambang? Pria kaya raya yang bisa dengan mudah mendapatkan apapun yang gue mau." Ujar Dewa pongah.
"Cih! Om benar-benar tak bisa memilih waktu." Cintya berdecih kesal, padahal baru saja gadis itu merasa bahagia karena Dewa bersikap sangat manis. dan sekarang justru kembali pada mode menyebalkan.
***
Dasar Dewa!!!
__ADS_1
Para Readers pengen nabok gak tu mulut????
Jejaknya gess...