Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
My love.


__ADS_3

Ballroom hotel sudah di persiapkan sedemikian rupa untuk pesta kedua, Orang-orang MUA yang akan membantu Cintya untuk bersiap pun sudah hadir. namun sang ratu sehari nampak masih anteng di tempatnya, dalam dekapan sang suami.


Ibunda beserta kerabat dekat pun sudah berada dalam kamar. mereka dengan sengaja tak membangunkan sepasang suami istri yang baru di halalkan itu dari tidurnya.


Lebih dari lima orang itu berada di sana, dengan sengaja menunggu dua manusia itu terbangun dari tidurnya.


Pesta kurang dari tiga jam lagi akan segera di gelar. namun nampaknya mereka pun belum sadar akan waktu. masih dalam posisi yang sama tidur berpelukan.


Benar-benar tak dapat memilih waktu.


Akhirnya kesabaran mereka pun terkikis habis, Dewa dan Cintya masih dengan tak tahu dirinya bergelung dalam satu selimut yang sama. bahkan Cintys semakin melesakkan wajahnya pada dada sang suami. membuat Ibunya geram dan Lilian menggeleng kepala geli.


"Duh Tante, mereka kok makin anteng sih," Lilian meringis geli melihat pasangan itu saling memberi kenyamanan.


"Sepuluh menit lagi kalo tuh bocah kagak bangun juga kita siram si sableng." Cetus ibu geram.


Bagaimana bisa mereka seanteng itu itu padahal dalam ruangan itu tak ada yang memfilter mulut mereka dalam bersuara.


Menit ketiga setelah sang ibu mencetuskan ancamannya, Pria yang tengah mereka tunggu dengan kedongkolan itu tampak bergerak dan sejurus kemudian terperanjat bersamaan dengan tubuhnya yang menegak.


"Ibu, mama, Lilian, ngapain kalian di sini?" Dengan tak tahu dirinya Dewa bertanya.


Agaknya seluruh kesadarannya belum terkumpul. buktinya ia tak sadar jika dirinya sedang berada dalam kamar hotel.


"Dasar sableng, kagak sabaran nunggu entar malem."


Dewa nyengir menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Gak sadar Bu," alasannya tak masuk akal.


"Kayak ABG aja lu," seloroh Lilian geli.


"Hilap gue,"


Dewa kembali nyengir bodoh, bersamaan dengan Cintya yang terbangun.


***


And, oh, my love

__ADS_1


I'm holding on forever


Reaching for a love that seems so far


So I say a little prayer


And hope my dreams will take me there


Where the skies are blue


To see you once again


My love


Overseas from coast to coast


To find the place I love the most


Where the fields are green


To see you once again


My love


Pertemuan dengan seorang gadis yang berawal dari ketidak sengajaan berlanjut dengan perjodohan yang berujung pada kisah cinta yang manis.


Di sinilah mereka, dalam perhelatan akbar. sebagai awal dalam merajut kisah baru.


Pesta yang sengaja di selenggarakan sore hari itu berakhir sebelum tengah malam. banyaknya tamu yang hadir membuat Dewa mau tak mau tetap berada di sana. hanya Cintya lah yang sudah pergi untuk menanggalkan baju yang sangat berat di tubuhnya.


Wajah letihnya sudah tak dapat di sembunyikan lagi, meski begitu Dewa tetap memaksa untuk tetap berada di sana hingga sang ratu kembali dalam balutan baju pesta yang lebih ringan.


"Kok balik, katanya capek," Dewa membelai wajah cantik yang nampak kelelahan itu dengan punggung tangannya.


"Gak mau, sendirian takut." Jawabnya sambil bergidik ngeri.


"Takut apa? ini kan terang."

__ADS_1


"Iya, tapi tetap aja asing."


"Bilang aja lu pengen ajakin gue cepet-cepet masuk kamar, iya kan?" Bisik Dewa sambil mengerling.


"Idiih pede, yang ada entar Om yang teriak-teriak" ujar Cintya dengan senyum tercetak di sebelah bibirnya. lebih tepatnya tersenyum mengejek.


Tak peduli dengan banyaknya sanak saudara yang masih berada di sana, Dewa dan Cintya tetap berada pada kebiasaannya. bergaduh karena hal yang tak masuk akal.


"Berani bertaruh siapa yang bakal berteriak malam ini?" Dewa memberikan taruhan yang di terima gadis itu dengan tanpa rasa takut.


"Batu turquoise untuk malam ini?" kembali jiwa sang kolektor batu mulia berbisik.


Dewa sumringah, ia tak menyangka jika gadis kecilnya akan menyerah hanya dengan taruhan batu turquoise. sedangkan beberapa waktu lalu gadis yang bersertifikat istri itu bersikukuh tak akan mau melakukan persenggamaan dengan suaminya jika Dewa belum memberi tahu siapa sebenarnya kakak ajaib yang sedang Cintya nantikan.


Dan pernyataan itu pun tak terjadi begitu saja, itu karena Dewa telah berjanji akan mempertemukannya dengan sang Mamoru Chiba dalam waktu cepat.


"Jangankan Batu turquoise, bahkan batu alam pun gue angkat sendiri." Dewa terkekeh sendiri tanpa menyadari bahwa dirinya masuk ke dalam jebakan sang kolektor.


"Iya batu alam tapi Om harus ambil dalam sungai musi jalan kaki, gimana?"


"Demi adek abang mah siap." Dewa terkekeh menimpali candaan wanita yang berlebel halal itu.


Setelah berbincang beberapa saat, Dewa pun pamit undur diri dari tengah pesta yang hanya tinggal beberapa rekan bisnis papanya dan beberapa sanak saudara yang memutuskan untuk menginap.


*


*


*


"Sebaiknya Om pikirin dulu deh sebelum kita melangkah lebih jauh." ucap Cintya setelah keduanya sampai di dalam kamar hotel.


"Maksud lo taruhannya?" Cintya mengangguk.


"Cuma batu kan, gue bisa kasih apapun buat elu yang penting elu bahagia." ujar pria itu lembut sembari memeluk tubuh ramping itu masuk dalam dekapannya.


Hati Cintya trenyuh, niat untuk mengerjai suaminya tiba-tiba membuatnya merasa bersalah. tapi apa boleh buat jika memang itu harus ia lakukan. dan Cintya tak kuasa untuk menolak. yang terjadi biarlah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2