Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Rasa dan Rindu (Revisi)


__ADS_3

Happy reading...


Rasa dan rindu berayun satu, selaras bersama berjalan beriringan menuju satu kebahagiaan yang bermuara pada kebersamaan kenangan masa lalu.


***


Dewa tertawa renyah, saat capitan di pinggangnya dari jari sang gadis menembus kemejanya.


Tak apalah sedikit nyeri yang penting bahagia.


"Udah diem, gak usah ngakak jelek tau?"


"Biar jelek yang penting bikin kangen,"


Cintya memandang jijik, Dewa semakin tertawa riang. menghilangkan rasa yang beberapa saat lalu.


"Apa lu sangat yakin jika kakak ajaib elu itu akan datang?"


"Entahlah, tapi hati Cintya mengatakan bahwa ia pasti akan datang."


"Apa dia juga mengatakan kapan dia datang?"


Cintya menggeleng, "Dia hanya mengatakan bahwa dia akan berada di sekitar Cintya dan akan menunggu Cintya.'


"Lu percaya?"


Cintya tak menjawab. bibirnya terkatup rapat hanya matanya yang mengisyaratkan bahwa ia sangat yakin.


Dewa membalas tatapan mata yang berkaca-kaca itu di sertai seulas senyum.


"Jadi, apa Om bisa melakukannya?" masih dengan tatapan yang sama, bahkan kini gadis itu bersandar dengan nyamannya, seolah sedang mencari sandaran untuk kerapuhan hatinya.


"Dengar, gue bakal lakuin apapun buat elu asal elu bahagia, termasuk menunda pernikahan kita."


Cintya trenyuh, "Benarkah?"


Cintya menegakkan kembali tubuhnya dengan wajah sumringah.


"Tapi gue gak akan undur pernikahan kita cuma gara-gara elu nunggu kakak ajaib elu itu."


Cintya membuang muka, percuma ngomong lama-lana jika akhirnya Dewa tetap pada rencana semula.

__ADS_1


Di tangkupnya lagi Wajah yang tak ada senyuman itu, "Tapi gue bakal lepas elu jika dia datang ke elu, kapanpun itu."


Sedikit perasaan senang menghampiri hati gadis itu, Dewa selalu bisa membuatnya merasa bahagia meski dengan cara yang berbeda.


"Tapi jika saat itu elu udah jatuh cinta sama gue gimana?"


Jedarrr...


Dewa memang paling bisa mengalihkan dan merusak momen.


"Cih, yakin banget Cintya bakal cinta sama Om."


"Kita ini hidup harus punya keyakinan Cil,"


"Ya terserah Om saja lah, makmum mah ngikut,"


Cintya turun dari pangkuan Dewa, "Eh, mau kemana Mak?"


Cintya berbalik dengan Cepat dengan muka bertekuk, " Kok Emak sih Om?"


"Siapa yang panggil Emak?"


"Itu tadi,"


"Sama kali,"


"Beda dong sayang, kan elu tadi bilang Makmum," Dewa terkekeh.


"Sa ae lu bang," Cintya ikut tertawa.


"Kalo mau di panggil Emak sekarang gak pa pa sih, kita bikin yang enak-enak yok biar elu cepet jadi emak." Kembali jiwa mesum Dewa berulah.


"Pulang yok, kelamaan di kantor bikin puyeng, entar gak cantik kalo di pajang "


Dewa mengenggam tangan Cintya dengan tangan besarnya hingga jemari lentik itu benar-benar tenggelam dalam kepalan tangan kokoh milik Dewa.


"Langsung pulang apa mau kemana dulu?"


Dewa menoleh sebentar pada gadis yang berjalan di sisinya, mengacuhkan tatapan penuh tanya dari karyawan yang juga baru keluar dari ruangnya.


"Emang kalo gak langsung pulang Om mau ajak Cintya kemana,

__ADS_1


"Ke tempat yang banyak menyimpan sejarah kebersamaan kita."


"Ke Bali?"


"Kalo Lo mau sekarang juga gak pa pa,"


"Gak usah, makasih." tandas Cintya akhirnya.


Hari sudah gelap saat Bugatti Voiture noire itu bergabung bersama kendaraan yang lain di jalanan ibu kota.


Jalanan yang penuh sesak dan kemacetan yang mendukung membuat bosan kedua manusia.


Akhirnya karena bosan, Dewa mengambil jalan putar. meski lebih jauh dan lebih lama dalam kendaraan, setidaknya mereka tidak tergodok dalam kebosanan


Dewa berhenti di depan sebuah gedung yang sudah berbeda jauh dengan enam belas tahun yang lalu.


Namun sepertinya Cintya tak mengenali tempat itu, terbukti dari reaksinya yang biasa saja.


"Kenapa berhenti?" tanya Cintya karena Dewa menghentikan mobilnya di tempat yang tak biasa ia kunjungi.


"Gue sedang mengenang, di sinilah separuh dari kisah hidup gue di mulai"


Dewa keluar dari mobilnya dan bersandar pada body mobil. menatap gedung yang berada di seberang jalan tempatnya berdiri.


Perasaan Dewa menghangat, terbayang olehnya jika Cintya mengetahui jika dirinya adalah kakak ajaib yang sedang di nantikan nya.


Namun Dewa bertekad tak akan membuka siapa dirinya sebelum Cintya memiliki perasaan padanya. pada Dewa yang Dewasa, bukan pemuda belasan tahun yang sedang gadis itu nantikan.


Dan Dewa yakin jika gadis kecil pujaan nya itu dapat bertekuk lutut di hadapannya. sama seperti dirinya yang rela melakukan apapun demi untuk mendapatkannya.


***


Nungguin ya, maaf ya kemarin seharian gagal konek, gagal segagal-gagalnya.


WiFi eror karena jaringan penuh sesak (katanya, aku percaya dong kan gak tau yang begituan 😂😂)


Akhirnya pake kuota dan susah sinyal, membuatku prustasi saja.


Tapi tak akan menghalangi kebahagiaan Dewa, apalagi dapat vote wkkk...


Readers: Ealah Thor up-nya dikit minta vote,

__ADS_1


Othor: Biar si dewa gak tenggelam, kasihan ntuh anak udah menderita banget.


komen banyak up siang, no debat!!!


__ADS_2