Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Ini Penyiksaan!


__ADS_3

Happy Reading...


"Jadi, sekarang aku singa?"


Cintya manggut-manggut, jangan tanyakan bagaimana muka Dewa saat ini. sudah pasti wajahnya tegang dan memaksakan senyum untuk menutup ketakutannya.


Mampus lo Wa. rutuknya dalam hati.


Cintya selangkah mendekati box bayinya dimana bayi-bayi nya sedang terdiam dengan mata terbuka. sepertinya mereka merasakan aura-aura mencekam dalam ruangan itu. mereka seperti mengerti dengan apa yang terjadi, bahkan bayi perempuannya itu sedang menampilkan wajah lucu seolah menertawakan keadaan Dewa.


"Dek, papi jahat ya, Mami di katain kayak singa betina." ujar Cintya di depan bayi-bayi mereka.


"Sayang,,," Dewa tersenyum kaku. ia sudah mencium aura-aura tak mengenakkan dari wajah Cintya.


"Dek, tanyain sama Papi kamu itu mau di mangsa di bagian mana dulu?"


Gleg!


Ngeri...


"Tapi Papi kamu kan bisa beladiri, Mami gak mungkin kan berkelahi sama dia,"

__ADS_1


Dewa seperti sedang mencerna ucapan istrinya.


"Menurut kalian, Papi di maafin gak ya?' Cintya tampak berpikir." Baiklah, Mami tau apa yang harus mami lakuin."


Cintya membalik tubuhnya dan berjalan menuju lemari pakaian, ia mengambil beberapa lembar pakaian yang Dewa lihat seperti ingin bekemas.


Seketika itu wajah ketakutan Dewa terlihat. ia takut Cintya benar-benar marah dan ingin meninggal kan rumah mereka yang baru beberapa hari mereka tempati.


Rumah yang Dewa siapkan sebagai kado kelahiran si kembar. rumah yang belum seratus persen penyelesaiannya karena Si kembar lahir lebih cepat. dan masih membutuhkan sentuhan di bagian taman.


"Sayang, ke_kenapa kamu keluarin pakaian-pakaian ini emang kamu mau pakai berapa lapis baju?" candanya yang sama sekali tidak si gubris oleh Cintya. ibu muda itu terus saja memilah milah baju yang ingin di kenakannya.


Mulut Cintya masih terdiam, sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan Dewa sampai ia menemukan pakaian yang ia cari.


Lalu ia mengembalikan tumpukan bajunya pada tempat semula, membuat Dewa bernafas lega. pikirannya tentang Cintya yang akan pergi dari rumah itu hilang saat itu juga, dan berganti dengan keterkejutan yang luar biasa dengan apa yang di lakukan oleh Cintya.


Dewa menganga dengan mata terbuka melihat Cintya menjatuhkan handuk yang di pakainya, menampilkan tubuh polosnya dan dengan santainya ia mengganti pakaian di hadapan Dewa.


Gleg!


Dewa menelan susah payah salivanya, tubuh Cintya lebih sempurna setelah melahirkan. tak ada tonjolan lemak yang berarti di bagian perutnya. justru tubuhnya semakin menarik dengan kesempurnaan di bagian tertentu. lebih montok.

__ADS_1


Syuit...syuit...


Tanpa sadar Dewa bersiul.


Cintya memandang sinis dengan terus melakukan kegiatannya. dan setelah mengganti pakaiannya, ia beralih ke meja rias. ia memoles wajahnya dengan pelembab dan menempelkan bedak tabur ringan seperti yang biasa ia lakukan jika sedang malas bersolek, lalu memoleskan liptin tipis warna nude. membuatnya tampak cantik dan natural.


Rambut panjang nya yang basah membuatnya lebih segar dan terkesan menggoda.


Dewa ingin sekali memeluk tubuh itu, tapi ia takut arwah singa betina masih bersarang di dalam tubuh istrinya akan mengamuk. dan yang bisa ia lakukan hanyalah menikmati pemandngan indah itu dari tempatnya berdiri


"Twins, bilang sama papi kalian, durasi puasanya di perpanjang menjadi enam puluh hari."


Dewa hanya mampu mengerjab, hukuman macam apa itu???


Ini penyiksaan, mengambil hak secara paksa.


oh, tidaaaaak!


***


Ya gitu deh, Dewa menjerit.

__ADS_1


Dua bulan ya bleng, siapin tante lux yang banyak.


Apa kelanjutan isabel perlu di cerita kan juga?


__ADS_2