
Haduh... haduh... pokoknya
ya kalian harus jempolin part ini banyak-banyak..
Sekedar inpo gesss gimana penderitaan othor ketik part ini dengan henpon jaman gus dur.
Ceritanya sore, waktunya ketik-ketik cantik hujan angin gede banget, pokoknya paling gede sepanjang othor jadi emak.
Listrik induk meleduk ampe kayak kembang api muncrat, jadi kalian ngerti dong artinya apa, listrik mati Wifi koit lah kok jaringan ikutan tumbang,,,
Udah cukup ceritanya, jadi habis ini gak ada cerita kalian ngomong "Othornya boong, katanya up malam, bla...bla.bla..."
Happy Reading aja gees....
***
Setelah drama olok-olokan yang ia lakukan pada Alex, kini Dewa harus bersiap dengan drama selanjutnya.
Di sinilah ia berada, di dalam ruang tamu kediaman Mahendra. berhadapan. dengan abang ipar yang sebentar lagi akan beralih status menjadi adik ipar.
Dalam hati Dewa sudah menyiapkan ribuan umpatan dengan mengabsen nama-nama binatang jika Leo akan menyidang nya tanpa kesalahan.
Di hadapannya kini terduduk pria yang tak kalah tampan dari salah satu grup band westlife. namun sayang wajah yang di tampilkannya tak setampan wajah aslinya.
"Di mana Cinta?" Dewa bertanya setelah sekian menit berlalu, Leo belum juga memulai persidangan terhadap dirinya.
Leo masih memandangnya datar tak berniat menjawab ataupun menimpali pertanyaan Dewa. hingga Dewa merasa harus langsung naik ke kamarnya yang adalah kamar istrinya.
"Lo apain adek gue?" tanya Leo dingin. masih tak menampilkan ekspresi apapun di wajahnya.
"Ya gue apa-apain lah gue kan lakinya!" jawab Dewa nyeleneh, khas dirinya.
"Jangan kira karena lo lakinya, lo bisa seenaknya nyuruh dia balik ke rumah sendiri."
"Eh, apa tadi lo bilang, suruh pulang sendiri? kapan tanggalnya jam berapa tepatnya hadap kemana gue ngomongnya, gak ada gue nyuruh cinta balik kesini." sanggah Dewa cepat. dengan nada sedikit meninggi.
Tentu saja Dewa menyanggahnya karena memang ia tak pernah sekalipun untuk berniat menyuruh Cintya kembali kerumah. berpikir kesana pun tak akan pernah.
"Kok lo malah tanya gue?" nada Leo tak kalah tinggi.
"Ya mana gue tahu, elo tiba-tiba aja nongol bawa istri gue."
"Itu karena istri lo kirim pesen, katanya elo nyuruh dia ke tempat ibu"
Dewa melotot tajam.bisa-bisanya istrinya itu menyalah artikan ucapannya.
Demi celana da*am bolong milik Cintya yang Dewa robek, Ia harus menghukum Cintya setelah ini.
"Gak ada gue nyuruh Cinta balik, gue cuma nawari dia main kerumah ibu karena dia ngeluh bosen."
Kalimat sanggahan itu dengan lancar dan cepat Dewa ucapkan. tentu saja Dewa tak berbohong soal itu.
"Gak percaya gue sama elo, buktinya dia kirim pesen di jam lo ngantor."
"Serah elo, pokoknya gue gak lakuin itu dan sekarang gue mau bawa dia balik."
Dewa beranjak berdiri hendak melangkah menuju kamar Cintya. Leo dengan cepat menarik tangannya untuk kembali duduk.
"Gak bisa! enak aja lo maen bawa anak orang!"
"Woy, yang lo bilang anak orang itu bini gue, gue yang lebih berhak atas dia."
"Songong lo!"
Kini Leo yang berdiri terlebih dahulu di susul Dewa yang ikut berdiri. berhadapan dengan wajah sama-sama siap menyerang.
"Kalian ini apa-apaan sih, udah pada tua masih bertingkah seperti anak kecil."
__ADS_1
Ibu datang di saat yang tepat sebelum dua orang pria itu saling melemparkan kepalan tangannya.
"Ibu!" sapa Dewa ramah dan langsung mencium tangan ibu takhzim.
"Dewa, sudah lama?" ibu membalas sapaan dewa dengan seulas senyum.
"Tidak bu, baru sampai." Dewa kembali duduk di tempatnya. setelah ibu Diana mengambil duduk di sisi Leo.
"Kakek di mana bu?" Dewa bertanya karena tak melihat pria tua yang sangat ia hormati seperti eyangnya.
"Kakek di kamar, mungkin sudah bersiap untuk tidur. kamu kenapa gak langsung naik, istri kamu pasti juga belum tidur."
"Iya bu, sebenarnya saya juga mau naik, tapi,," Dewa menjeda ucapannya. melirik leo yang sedang menatap tajam ke arahnya.
"Tapi abang gak ijinin saya masuk." imbuhnya.
"Leo, kenapa kamu laramg Dewa masuk?" sengit ibu pada Leo.
"Biarin aja sih bu, dia sendiri yang minta Cintya balik kesini. gak di antar pula."
Dewa menggeleng tegas mencari pembenaran, seperti anak kecil yang sedang melakukan kesalahan.
"Ti-tidak bu, itu gak benar. Abang salah, saya hanya menawari Cinta untuk berkunjung, bukan menyuruhnya pulang."
"Kalian bertengkar?" tanya ibu.
"Tidak bu, hanya saja Cinta sedikit aneh beberapa hari ini."
"Aneh kenapa Dewa, apa dia mengeluhkan sesuatu atau mungkin merasa kurang sehat?" Ibu bertanya, ada gurat khawatir dalam wajah tuanya.
"Enggak ngeluh sih, tapi.."
"Tapi apa? elo kan lakinya kok kayak ragu gitu?" bentak Leo tak sabar.
"Tapi apa Dewa?" Ibu pun mulai gusar.
"Apa?" Ibu dan Leo berdiri serempak tanpa di komando.
Dewa semain merasa tak nyaman, apalagi kedua orang di hadapannya menyorotnya tajam.
"Lo gila?" bentak Leo garang dengan nada sangat tinggi.
Leo meraup wajahnya kasar lalu menyugar rambutnya geram. sambil sebelah tangannya berkacak pinggang.
"Dapet pikiran dari mana lo?"
Dewa masih terduduk anteng di tempatnya. merutuki kebodohannya. kenapa bisa mulutnya itu tak dapat di kondisikan di tempat yang bukan habitatnya.
Jangan salahkan Dewa, salahkan saja otaknya yang terkontaminasi okeh pemikiran konyol dan Zack.
"Bini lo kesambet di villa kali Wa, pan kalian buatnya di Villa baru, pasti lo belom permisi kan sama moyangnya penunggu villa."
Dewa mengingat ucapan Zack sore tadi setelah Alex menceritakan keadaan Cintya yang meminta makanan aneh dan bertingkah aneh. dan bodohnya Dewa dan Alex menyetujui pemikiran konyol Zack.
Entah kemana kemodernan mereka dalam berpikir.
Sangat konyol.
"Gak tau, itu mungkin saja bener." ujarnya terdengar semakin bodoh di telinga Leo.
"Lo percaya sama temen-temen sableng lo itu? hah, gue lupa kalian kan sebenarnya sama?" Leo mencibir.
Sialan Dewa terpojok, untung ada ibu di sana. jika tidak mungkin mereka sudah berguling di atas lantai dan saling melayangkan tinju.
"Ya siapa tau, gue kan gak bisa liat yang begituan. lagian elo gak ngalamin sendiri sih, adek lo aneh banget, gue aja sampai ngeri." kilah Dewa membela diri.
Malu, Dewa sebenarnya sangat malu. bagaiman bisa ia juga membenarkan pemikiran konyol teman-temannya. bukankah selam ini ia hidup di jaman moderen, keluar masuk klub dan berkumpul dengan orang-orang dengan kalangan milenial.
__ADS_1
"Lo lulusan mana sih? Oxford atau Harvard, tapi pikiran lo katrok, jaman udah canggih gini masih aja lo percaya yang begituan. gue jadi ragu jangan-jangan lo cuma nampang tampang doang di kampus." cibir Leo sinis.
Oh, Dewa semakin kesal, boleh gak sih jika ia meninju Leo saat ini juga di depan emaknya.
"Gak ada hubungannya kali bang!" Dewa mendengus kesal.
"Sudah-sudah jangan ribut, ibu capek dengernya." Ibu menengahi pertengkaran tak berfaedah dua pria dewasa itu.
Dengan amat terpaksa Dewa menekan perasaannya.
Dewa memang sangat pandai membawa diri. kendati dirinya terlihat tak pernah serius.
Leo menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa di samping ibunya yang terlebih dulu duduk.
"Dewa, coba kamu cerita, apa yang Cintya alami." Ibu berkata lembut. tak ada nada tinggi sedikitpun dalam ucapannya.
"Cinta sangat Cerewet."
"Itu memang istri li, bego!
"Kau benar bang," Dewa nyengir.
"Tapi lo Cinta kan, dan mau di cerewetin sama dia." Leo tersenyum miring.
"Sangat." Dewa kembali nyengir.
"Sudah Dewa, lanjutkan."
"Kadang-kadang dia langsung nangis karena kaktus dalam kamar kami kering."
"Salah elo, kenapa gak di siram."
"Bukan tugas gue."
"Sudah, kalian ini ribut terus."
"Seringnya minta makan yang aneh dan sulit, di dapat."
"Minta apa dia?"
"Rujak buah campur lontong sama es rempah super pedes?"
Leo melotot.
"Di makan?"
Dewa menggeleng dramatis.
"Terus buat apa?"
"Saya sama Alex yang makan."
Leo tergelak kencang. "Kok lo masih napas, gak mampus di racun adek gue."
"Sialan lo!
"Dewa, Leo." ibu kembali menyela. keduanya diam dengan mulut terkunci.
"Sepertinya istri kamu hamil."
"Apa??"
***
Horeee, cinta hamil.. kasih selamat dong.
Leo nyebelin, tak kalah cerewet sama Cintya.
__ADS_1