Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Jaga dia.


__ADS_3

Happy Reading...


"Berikan saya racun untuk mempercepat kematian saya, setidaknya saya tidak kesakitan karena jauh dari cinta."


Seolah tak tersentuh, Diana sama sekali tak menoleh ke arah Dewa. dengan angkuhnya wanita itu melepaskan tangan Dewa, berjalan ke arah jendela besar, berdiri menghadap ke arah luar dan menikmati angin pagi yang di iringi kicau burung gereja. lambaian dedaunan bunga kamboja yang menguarkan wangi khasnya agaknya lebih menarik perhatiannya dari pada pemuda yamg bersimpuh kaku di tempatnya semula.


Dewa tertunduk membeku di tempatnya, menopang tubuhnya dengan kedua lututnya. Dunia semakin gelap di pandangan Dewa, tak ada desing angin yang mengantarkan udara untuk mengisi rongga dada yang kian menekan.


Inilah akhir dari segalanya. akhir dari kisah kenakalan remaja yang berbuntut pada pengakhiran hubungan sebuah keluarga.


Memejamkan mata demi untuk melepaskan lelah, semoga dengan meluncurnya sisa-sisa air matanya, Dewa mampu melepaskan segala beban berat dalam hatinya. meninggalkan Cintya tidak ada dalam rencana hidupnya. namun ia tetap harus melakukannya sebagai penebusan. apa ada yang lebih buruk dari itu.


"Racun hanya akan menjauhkanmu dari Cintya, dan buruknya lagi kau akan mendekam di kerak neraka. kalian tak akan bisa bersama sampai ke surga."


"Hidup jauh dari cinta juga akan menjadi neraka bagiku, lalu untuk apa saya harus takut akan kematian." ujar Dewa tertunduk.


"Bagus, jika kamu telah bersiap untuk semuanya." tubuh tua Diana berbalik, menatap datar ke arah wajah pias Dewa. "setidaknya ibu tidak terlambat untuk menyelamatkan putri ibu dari pria picik sepertimu. pria yang mudah berputus asa dalam masalahnya.dan mudah menyerah dalam perjuangannya."


Dewa mendongak menatap ke arah netra bening yang mirip sekali dengan Cintya. kecantikan alami milik Diana yang menurun sempurna pada Cintya, pantas sekali jika papa Rendra begitu terpaku oleh perasaan cintanya. Dewa bisa merasakannya. seperti dirinya yang tak mampu berpaling dari Cintya, gadis ceriwis nan menggemaskan yang sialnya begitu ia cintai hingga mampu mematahkan prinsipnya sebagai pria yang tak akan mau di repotkan oleh perasaan yang di namakan cinta.


Dewa terluka oleh ketidak berdayaan untuk meraih cinta seorang gadis belia, namun takdir membawanya pada muara lukanya. apa mau di kata jika sang pembuat luka sendiri adalah penyembuhnya. adakah yang lebih indah dari itu?

__ADS_1


Sepertinya Dewa harus mulai lebih banyak bersyukur mulai saat ini. berterima kasihlah pada semesta yang telah membuat mereka bertemu atas ijin Tuhan.


Menatap lamat-lamat pada wajah Diana yang tak seperti beberapa saat lalu, otaknya yang terbiasa untuk berpikir itu menggali sebuah kalimat yang terdengar bermakna di telinganya.


"Jika ada yang lebih sempurna darimu, yang mencintai putri ibu dengan seluruh cintanya. menjaga dirinya dengan segenap jiwanya, maka ibu akan dengan senang hati menitipkan putri kesayangan ibu padanya. tapi sayangnya ibu tak kuasa untuk memisahkan Cintya dari pria pertama yang namanya Cintya sebut dalam emosinya."


Wajah Diana mengendur, terdengar kekehan ringan dari mulut wanita yang masih cantik di usia setengah abad itu.


"Nama Dewa lah yang ibu dengar pertama kali dari mulut putri ibu karena kesal." Diana tersenyum samar. "bahkan selama dua puluh dua tahun usianya, ibu tak pernah mendengar Cintya menyebut nama pria manapun." Diana menjeda ucapannya. menelisik wajah Dewa yang mulai penasaran. "kamu tentu tak akan menduga itu dari istrimu bukan?" Dewa menggeleng. "hanya kamu yang ibu harapkan untuk menjaga putri kecil ayah adit."


Dewa terpaku di tempatnya. benarkah yang ia dengar? pendengarannya masih berfungsi kan? apakah ia baru saja menerima sebuah amanat? apapun itu, yang jelas saat ini Dewa sedang menumbuhkan sebuah harapan dalam hatinya.


Dunia seolah menyorot Dewa dengan cahaya paling terang. seulas senyum terbit di bibir pucatnya. secerah mentari pagi, Dewa kembali menemukan semangatnya. darahnya berdesir hebat mengaliri tubuhnya. hingga menghalau pucat yang menyergapnya.


"Jika saja ibu tak mendengar alasanmu dari Leo, mungkin ibu tak akan pernah bisa memaafkanmu." ujarnya tenang.


Berdiri dari persimpuhannya, Dewa mendekat ke arah Diana. "bagaimana jika cinta belum memaafkan saya." ujarnya lemah.


"Kau memiliki kendalinya, ibu yakin kam bisa mengatasinya. ingat siapa dirimu. kaulah pahlawan yang sering ia ceritakan, kakak ajaibnya."


Hati Dewa menghangat, rasa takut yang semula ia rasa kini tak bersisa. amanat yang di serukan Diana padanya bagai hembusan angin yang membawa terbang debu-debu kegundahan hatinya.

__ADS_1


"Jaga dia Dewa, jaga putri ibu, jantung hati ayah adit." Seulas senyum Diana tampilkan.


Dewa tak ingin melakukan apapun saat ini. ia hanya ingin memeluk tubuh tua ibu mertuanya. menggantikan kekosongan yang di tinggalkan oleh ibu kandungnya.


"Dewa berjanji akan menjaga putri ibu." Dewa menghambur memeluk tubuh tua yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri. menghirup nafas untuk mengisi kembali sesak dadanya karena buncahan bahagia. "Dewa juga akan menjaga ibu, menggantikan tanggung jawab papa." ujar Dewa di akhiri dengan kekehan kecil. "saya sudah tahu semua nya." Diana tercenung dengan tangan terangkat, hendak membalas memeluk punggung Dewa. "Menjaga Ibu Dewa yang tak berjodoh dengan papa."


Diana membola sempurna dengan pengakuan Dewa, sungguh ia malu sekali. "dasar anak nakal." ujarnya menepuk Dewa, lalu tergelak bersama.


"Pergilah, jinakkan singamu, pasti sebentar lagi dia akan berteriak." melepaskan punggung menantunya, Diana menggiring Dewa menuju pintu.


"Kakaaaak!!!"


"Kau dengar." Diana terkekeh di ikuti gelengan kepala oleh Dewa.


***


Horeeee.... si sableng udah dapat pengampunan,


Senang???


Senang dong???

__ADS_1


like, komen banyak-banyak, buat mood boster si emak!


__ADS_2