Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Tentang kita.


__ADS_3

Sebelum happy reading, othor mau minta maaf nih, duhh .. gak enak banget buat kalian nunggu. tapi aku juga nunggu like kalian sih sama Votenya juga.


Yuk ah capcuss kita kawal babang Leo dalam perjuangannya.


***


Happy Reading...


"Leo." Lilian berbalik dalam satu detik.


Pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus dan saling mengunci. dengan debaran di masing-masing jantungnya.


Leo masih berdiri mematung di tempatnya sedangkan Lilian beringsut mengambil stetoskop yang ia jatuhkan tadi.


Degub jantungnya menutup tenggorokan. tak tahu harus memberikan sambutan seperti apa.


Apakah ia akan menyambut kedatangan Leo sebagai pasien, mengingat dirinya masih berada dalam ruang kerja dan masih berada di jam kerja. dan itu akan tampak konyol mengingat Leo tak membawa anak kecil bersamanya.


Atau ia akan menyambut Leo sebagai seorang wanita asing yang baru di pertemukan dengan seorang pria atau sebagai mantan kekasih tersakiti. atau mungkin sebagai ibu dari anak pria yang saat ini berdiri mematung di depan pintu. menunggu sang empunya ruangan mempersilahkan masuk.


Keheningan mengambil alih hingga suara Leo kembali terdengar.


"Apa akau mengganggu?" ujarnya. sedemikian susah pria itu merangkai aksara yatanya hanya tiga kata itu yang mampu keluar dari kerongkongannya.


Bola mata Lilian bergerak gelisah. sebisa mungkin ia tak ingin bersitatap dengan pria pemilik separuh hidupnya. namun ia juga tak ingin menolak kehadiran pria yang sejak enam tahun lalu menduduki tahta tertinggi dalam hidupnya. apalagi kesepakatan yang di buat dua keluarga yang akan melanjutkan perjodohan di dua keluarga.


Baiklah, Dewa sungguh membuatnya terjebak dalam situasi yang sama dengannya. mungkin Dewa ingin membalas karena dulu pernah meledeknya yang terjebak dalam sebuah perjodohan.


Ah, persetan dengan Dewa. saudaranya itu benar-benar membuatnya ingin menjambak rambut tebalnya.


Dewa, pastikan dirimu selamat dari Lilian setelah ini.

__ADS_1


"Ya silahkan." pada akhirnya jawaban itu yang keluar.


Leo memasuki ruangan bernuansa putih itu dengan seulas senyum. namun jangan pernah tanyakan keadaan jantungnya. ia tampak seperti seorang ABG yang baru saja merasakan cinta.


Cinta?


ABG?


Tentu saja, disaat pria itu telah sampai pada usia yang di katakan matang, ia baru merasa yang namanya berdebar saat menemui seorang gadis.


Mungkin Leo telah jatuh cinta. ah, salah. mungkin Leo baru menyadari jika dirinya kembali jatuh Cinta.


Lilian mendudukkan kembali tubuhnya pada kursi setelah Leo berada di depannya.


"Silahkan duduk." Ujarnya gugup.


"Terima kasih." Leo masih menggenggam sebuket bunga di tangannya.


Segera ia tersadar untuk apa ia terus mempertahankan bunga lili putih ini tetap berada dalam genggaman tangannya. bukankah ia membawanya untuk di berikan kepada Wanita yang tengah duduk di hadapannya.


Leo, pengusaha muda dengan wajah tanpa ekspresi di usir oleh seorang wanita. pasti berita itu akan menjadi nilai plus yang akan menaikkan pamornya sebagai pemuda beristrikan bisnis. dalam arti tak ada satupun wanita yang mampir ke dalam hidupnya. hanya setumpuk berkas lah yang berhasil merasakan belaian tangan seorang Leonard Aditya Mahendra.


"Terima kasih." di luar dugaan, ternyata Lilian menyambut uluran tangannya dan menerima buket bunga itu dengan seulas senyum.


Senyum itu, yang tak pernah ia lihat selama enam tahun. senyum yang dulu tak pernah ia perhatikan dengan seksama. namun mampu menjadi mimpi buruk selama enam tahun. dan berhasil membuatnya terjaga dimalam hari selama seminggu terakhir.


Hey, siapakah Lilian ini? adakah ia bidadari yang tersembunyi dalam Sneli yang membalutnya sepanjang hari.


Leo sama sekali tak melepaskan pandangan dari wanita yang saat ini melihat takjub pada keindahan bunga yang memiliki nama yang sama dengan namanya.


Tanpa sadar, Leo menarik bibirnya samar. ia tak ingin melewatkan momen ini. sungguh indah pemandangan di hadapannya.

__ADS_1


"Apa kau menyukainya?" tanya pria itu pelan. yang di tanya hanya menggerakkan kepala kebawah satu kali.


Hanya anggukan kepala namun itu cukup untuk membuang separuh gundah dalam hati Leo.


"Syukurlah, aku takut kamu akan membuangnya?" cicit Leo lagi.


"Kau ini bicara apa Leo, aku tak seperti itu. aku tak pernah menolak apapun yang di berikan oleh orang tua pasienku. meski sebenarnya mereka tak perlu melakukannya. aku akan sangat bahagia bila mendengar pasienku kembali sehat dengan pengobatan yang ku berikan."


Hey, apa ini. baru saja Leo merasa di awang-awang karena menganggap Lilian sangat menyukai bunga yang ia bawa. mengetahui jika diri ya di samakan dengan orang tua pasien lainnya. membuat ia merasa terbanting. menyebalkan.


"Ada perlu apa?"


Apa lagi ini. apakah seperti itu sambutan seorang dokter padanya.


Eh, tapi salah Lilian bukan sih. memangnya ia ingin di tanya apa, nyatanya ia datang ke tempat dokter anak tanpa membawa seorag anak.


Leo salah dalam hal ini.


"Aku cuma ingin bicara dengan mu."


"Tentang?"


"Kita."


***


Hore... Leo ada sedikit peningkatan.


tapi lilian menyebalkan gak sih?


Jika iya, maka kalian tak boleh lupa jika ia dan Dewa bersaudara. setali tiga uang. pada dasarnya mereka satu aliran. sama-sama konyol. hanya keadaan yang membuat Lilian menjadi kaku dan dingin.

__ADS_1


Kalian suka part ini? boleh kali bagi poinnya...


atau kalian nunggu pasangan sableng ehem-ehem karena efek viagra yang gak ilang-ilang? siang ini cuuuus... votenya buat Pasangan sableng ya gengs...


__ADS_2