
Happy Reading...
Di antara langkah ringan dan riang, Cintya berjalan dengan senyum merekah penuh kebahagiaan. Dewa membawa genggaman kecil tangan Cintya ke dalam genggaman tangan besarnya. sehingga jari-jari kecil itu tampak tenggelam yang mengalirkan kehangatan hingga menyentuh dasar hatinya.
Sesekali mereka saling melempar pandangan dan tersenyum. kebahagiaan mereka tak menipu. semua orang yang mereka kenal bisa melihatnya. tak sedikit juga dari salah satu pengunjung mall yang hanya sekedar say hello saat berpapasan dengan keduanya. siapa yang tak mengenal Dewa herlambang, pria dengan predikat tertampan dan terkaya di kotanya yang menjadi incaran ibu-ibu untuk menjadi kan menantu di keluarganya, meski mereka tahu jika Dewa adalah adalah sosok pria yang tak jauh dari kata brengsek. harta, kedudukan dan juga perbaikan keturunan yang menjadikan mereka sebagai penjajah jodoh untuk anak-anak perempuan mereka.
"Kak, kita seperti pacaran ya," ujar Cintya di antara lingkungan di sudut bibirnya.
Dewa melepas tautan tangan mereka dan beralih merah bahu Cintya, memeluk dan merapatkannya ke bahu lebarnya. "kamu senang?" Dewa mendarat kan satu kecupan di pelipis Cintya yang mampu menarik bibir gadis itu tersenyum semakin lebar.
"Iya, Tya seneng banget. sejak Tya gak ikut ke kantor, kita jadi jarang sekali keluar." lapornya dengan bibir cemberut namun tampak sangat manis.
"Maaf, akhir-akhir ini pekerjaan kakak jadi sedikit banyak. Alex juga sepertinya ada masalah. sering melamun dan kurang fokus."
"Apa pak Ken sakit, jarang-jarang loh kak, Pak ken seperyi itu. biasanya dia sangat total."
"Alex bukannya sakit. tapi sekarang sepertinya sedang jatuh cinta."
"Bukannya sudah putus ya sama kaki Rosa."
__ADS_1
"Bukan sama Rosa, tapi mungkin sama ga_"Dewa tak meneruskan ucapannya karena Cintya menginterupsi.
"Eh kak, lihat yang itu," Cintya menunjuk arah dalam sebuah cafe yang di ikuti arah pandangan oleh Dewa. "apa kita sepemikiran?" Cintya tersenyum penuh arti. sudah bisa di pastikan ide muncul di otak si cantik jika ia sudah pasang muka paling menyebalkan. menaik turunkan alisnya.
"Cinta,,," tegur Dewa pelan, tentunya pria itu sudah dapat menduga apa yang akan di lakukan oleh wanitanya. otak iseng dan jahil milik istrinya memang yang terbaik.
"Apa?"
"Kau yakin ?" Dewa memicing tak yakin, tapi melihat ekspresi Cintya yang terlihat antusias, ia menjadi yakin jika apa yang di rencanakan untuk Isabel pasti akan berhasil.
"Tentu saja yakin," Cintya menegakkan tubuhnya dengan mengangkat dagu penuh keyakinan, "bahkan sangat yakin."
Dewa mengikuti langkah Cintya masuk ke dalam store perlengkapan bayi dan anak-anak. matanya berbinar takjub melihat perlengkapan bayi yang terlihat lucu dan imut.
"Apa boleh?" Cintya tampak begitu ceria melewati lorong-lorong rak yang berisi tumpukan-tumpukan baju dan perlengkapan bayi.
"Kenapa enggak?" Dewa mengambil satu lipatan dan membukanya. bibirnya tersungging samar. mungkin jika dia bukan lelaki, ia akan mudah mengekspresikan kebahagiaannya.
"Tapi kita belum tujuh bulanan," Cintya berujar sedih, seolah jika ia tak membelinya sekarang, ia tak akan kebagian barang-barang tersebut.
__ADS_1
"Ya sudah, kita belanjanya nanti saja." ujar Dewa tanpa beban. tak tahu saja jika ucapannya yang seringan kapas itu telah melukai hati wanita hamil yang tanpa ia perhatikan telah menaruh kembali barang yang di pegangnya dengan kesal dan sedikit membanting.
Tak terdengar lagi celoteh riang dari wanita di sampingnya, yang di sadari Dewa dengan segera. dan secepat kilat ia menoleh setelah mendengar isakan kecil dan ya, Cintya menangis, bahkan air matanya telah berurai membasahi pipinya yang Chubbi. separah itu memang hormon kehamilannya. bahkan belum sepuluh menit yang lalau Cintya terlihat sangat bahagia. dan sekarang ia tampak menjadi wanita yang sangat teraniaya. seperti istri yang bersedih karena suaminya tak mampu membeli apa yang di inginkan nya.
"Sayang," Dewa gelagapan, Cintya menangis di tengah toko, perasaan malu dan tak enak menyapa hatinya. apa ia baru saja melakukan kesalahan, sehingga Cintya menangis seperti itu. "kenapa? mau belanja sekarang?" Dewa merayu sekuat yang ia mampu. bahkan tak segan ia memberi pelukan dan menenangkan demi menghentikan air mata yang masih deras mengalir.
"Mas, di sebelah sana tersedia barang bagus dengan harga miring, ada diskon juga." celetuk ibu-ibu yang sedang menggandeng wanita berperut buncit, yang Dewa taksir berumur tak jauh dari Cintya. menatap Dewa penuh curiga.
"Tidak perlu bu, kami belanja di sini saja." Dewa tersenyum canggung dan sedikit malu. apa-apaan seorang Dewa di ragukan dalam hal finansial. sialaaan, malu sekali. memangnya tuh ibu-ibu tidak tahu siapa yang sedang ia ajak bicara. seorang Dewa Herlambang, pewaris tunggal kerajaan bisnis Herlambang. dan jika ia mau, bukan hanya perlengkapan bayi saja yang akan ia borong. bahkan gedungnya pun mampu ia bayar. semudah itu memang, tak perlu berkata apapun lagi. Dewa cukup menutup mulut dan melancarkan rayuan saja. talk less do more.
"Mau belanja sekarang, hm?" Dewa menangkup kedua pipi Cintya dan dan menghapus jejak air matanya dengan ibu jarinya. lalu mencium kening dan menenggelamkan Cintya dalam pelukannya. tak peduli setan penunggu gedung yang akan menyaksikan ulahnya, ia hanya Cintya tenang dan tak menangis lagi. bahkan tatapan memuja dari para gadis dan ibu-ibu muda yang juga sedang berbelanja pun tak Dewa pedulikan. kalaupun ada yang memvideo adegan manis itu, Dewa tak peduli. biar saja pemandangan fenomenal itu akan merebak di surat kabar atau pertelevisian. Dewa hanya ingin membuktikan pada dunia bahwa ia sangat mencintai istrinya dan mampu bahkan rela melakukan apapun demi senyum istrinya tetap mengembang. separah itu seorang Dewa herlambang. bucin akut tak tertolong lagi.
Cintya menyeka air matanya lalu menyembunyikan wajahnya pada dad bidang suaminya. menghapus jejak tangisan yang sebenarnya tak perlu ia lakukan karena Dewa telah menggantikannya. "nanti saja setelah acara tujuh bulanan." ujarnya tenang. Dewa sampai melongo takjub. kemana larinya wajah menyedihkan yang ia lihat tadi, dan sekarang Cintya memasang wajah paling ceria. hormon kehamilan memang sangat menakjubkan. "kakak temani belanja kan?" Dewa mengangguk. menampilkan senyum dahsyat yang mampu membuat wanita meleleh hanya dengan melihatnya saja.
"Iya, nanti kita sama-sama."
***
Tengah asik berkeliling dalam store tersebut, tanpa sadar ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi keduanya. sosok wanita cantik yang juga sedang melakukan pembayaran di kasir untuk baju-baju cantik milik anak perempuan. dan mengurungkan niatnya untuk keluar setelah ia melihat Dewa dan Cintya masuk dengan begitu mesra.
__ADS_1
Tak banyak yang wanita itu inginkan, ia hanya ingin menyapa Dewa dan melihat seperti apa wanita yang menjadi pilihan Dewa, pria yang diam-diam ia inginkan.
***