
Hay.. hay.. aku nongol lagi nih, cerita masih panjang. so, tetep ikutin ya Readers Chayaaaang...
Happy Reading...
"Kak, lihat deh, ini kok sakit banget." Cintya menunjuk ke arah dadanya.
"Sakit kenapa? biar kakak panggil kan dokter dulu."
"Nyeri banget!" keluh Cintya menunjukkan buah dadanya yang bengkak di balik pakaiannya.
"Coba lihat, Glek." Dewa menelan ludah saat melihat area pribadi favoritnya itu semakin besar dan penuh. "Kok makin gede."
"Ish, mulutnya, rusuh banget deh."
"Rusuh gimana, kenyataan kok. sini kakak mau pegang." Cintya menepis tangan Dewa dengan kasar saat suaminya itu hendak menyentuh dadanya.
"Gak boleh, gak punya hak."
"Kok gitu sekarang?"
"Mau rebutan sama Twins? gak malu?"
"Ya eng_"
"Selamat pagi..." seorang Suster masuk dengan mendorong baby box yang membawa bayi kembar mereka.
"Selamat pagi suster."
"Apa Asi-nya sudah keluar bu Cintya?" tanya suster.
"Sepertinya begitu, karena ini terasa berat banget."
"Kalau begitu bagus, karena bayi ibu ada dua, jadi akan lebih banyak nasi yang di butuhkan. apa terasa nyeri?" Cintya mengangguk.
"Kalau begitu silahkan berikan Asinya sekarang ya bu, sudah bisa kan?"
"I_iya suster." Cintya menoleh Dewa yang hanya terdiam.
Suster tersenyum, "Bapak bisa di bantu Ibunya."
"I_iya suster." Dewa gelagapan karena sejak tadi tidak menyimak apa yang di bicarakan oleh suster. ia hanya sedang fokus memperhatikan bayi ya yang di bedong warna pink dan biru.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi." Suster meninggal kan Cintya dan Dewa bersama bayinya.
"Kak, bawa sini adek nya."
"Hah, gak mau, kakak takut." Dewa menggeleng, tangannya yang sejak tadi menoel-noel pipi si bayi mendadak ia sembunyi kan di belakang tubuhnya.
"Terus gimana mau nyusuin kalo adeknya masih di dalam box."
Mendadak keduanya bingung. karena Dewa sama sekali tak berani mengangkat bayi merah itu.
"Ambil dong Cinta."
"Kakak ih, tanganku kan gak nyampe. emang ibu belum balik ya kak."
"Ini masih pagi Cinta, mungkin nanti sekalian sama abang berangkat ke kantor."
"Terus mama kemana?"
Dewa mengedik, "masih ngurusi Isabel kayaknya. tadi telpon, kesini siang sama papa."
"Gimana sekarang Isabel ya kak,"
"Gak tau," jawab Dewa cepat. "udah gak usah mikirin Isabel, ini aja adeknye keburu aus."
"Kakak gak bisa Cinta, ini kecil banget. takut nyakitin ini." Dewa ragu antara mengangkat bayinya apa tidak.
"Ya sudah, tunggu ibu datang aja dulu"
"Eh kasihan sayang, keburu lapar nanti."
"Makanya angkat kak, buruan ih."
"Angkat sendiri saja sama kamu."
"Ya udah bantuin turunnya."
Dewa membantu Cintya turun dari ranjang dan mendekatkan box bayi mereka ke arahnya.
"Lucu ya kak, lihat deh hidung sama matanya mirip kakak!" Dewa mengangguk menyetujui.
Cintya lantas mengambil bayi laki-laki nya terlebih dahulu, lalu membawanya ke dalam pelukannya. ibu muda itu mengulas senyum haru. tak menyangka jika kehidupannya berubah secepat ini. rasanya baru kemarin ia berfoto dengan memakai toga dan sekarang ia justru memeluk bayinya sendiri.
__ADS_1
"Mau di sofa?"
"he em, biar lebih nyaman."
"Bisa jalan sendiri?"
Cintya nyengir karena masih kesulitan berjalan.
"Pegang adeknya yang kuat." Cintya merasakan tubuhnya melayang. Dewa membawanya dengan menggendongnya ke Sofa yang berjarak agak jauh dari tempat tidurnya. lalu menurunkannya perlahan. dan membantunya duduk dengan nyaman.
Cintya membuka kancing depan bajunya dan mengarahkan mulut bayinya ke dadanya. namun bayi itu seolah menolaknya. kepalanya bergerak-gerak serta mulutnya terbuka berusaha mencari sumber kehidupannya.
Dewa berjongkok tepat di hadapan Cintya. memperhatikan bayinya yang berusaha menggapai sumber makanannya.
"Ayo dek, agak naik dikit. tuh punya mami gak pindah kok." Dewa berbicara pada bayinya, seolah makhluk mungil itu mengerti apa yang di ucapannya.
"Apaan deh kak!"
"Ayo Akky, tangkep itu punya Mami, apa Papi aja yang habisin."
"Ih, mulutnya. telinga adek gak boleh denger yang begituan."
"Naik dikit dek, eh.. ke kanan sayang. duh, salah nak, ke kiri dikit. ih anak papi kok belum bisa. ayo jagoan usaha lebih keras. apa mau Papi ajarin dulu. Papi pinter lo."
Dewa masih sibuk dengan ocehannya sendiri, sementara Cintya sudah lelah. apalagi bayinya sudah mulai menangis.
"Loh kok malah nangis, cinta cepetan sayang adeknya nangis itu."
"Iya kak tau," suara Cintya bergetar. "kok gak nyaman gini sih kak, gimana ini." Cintya hampir menangis merasa kesulitan karena satu tangannya menahan tubuh bayinya serta satu tangannya berusaha mendekatkan putingnya, namun bayi kecil itu tak mampu menggapainya hingga membuatnya menangis semakin keras.
"Ayo cinta, itu adeknya kejer."
Kepanikan dari keduanya membuat keadaan semakin buruk. Bukannya membantu Dewa malah semakin ngerecoki dengan ocehannya.
Buk!
Cintya memukul bahu Dewa kencang sampai membuat Dewa berjingkit.
"Ya udah susui sendiri."
Eh,,
__ADS_1
***
Noooh, sableng suruh susuin sendiri.