
Hapoy Reading...
Senin, merupakan awal dari satu pekan ke depan. merupakan momok dari sebagian pegawai, pasalnya hari itu adalah hari tersibuk. di mulai dari malasnya membuka mata saat pagi hari hingga membayangkan tumpukan pekerjaan setelah libur selama dua hari.
Membayangkannya saja sudah malas apalagi melakukannya. itulah yang di rasa kan oleh sang nyonya direktur saat ini.
Masih berada di atas ranjang panas mereka, bergelung dalam selimut yang sama meski dengan mata yang sudah terbuka sempurna. Cintya tak ingin melepas kan Dewa dari belitan tangannya. seperti mainan yang tak dingin di pinjam oleh siapapun.
"Cinta, ini sudah siang. kakak sudah telat ini." bujuk Dewa.
Seharusnya saat ini pria itu sudah berada dalam mobil di belakang kemudi dan sudah melakukan setengah perjalanan mereka. namun agak nya gadis yang beberapa hari lalu bertindak seperti kucing liar itu kini berubah seperti kucing manis yang tak ingin di tinggal.
"Kakak, hari ini libur ya, Cintya males ke mana-mana." rajuknya dengan wajah memelas.
Seingat Dewa, dari semalam Cintya merengek untuk hal-hal yang tak pernah ia lakukan selama ini. mulai dari ia pusing karena tak mampu menjawab teka-teki dalam game yang ia mainkan hingga ia ingin makan eskrim di pagi buta. Entahlah Dewa pusing mengingatnya.
Bukan Cintya sama sekali.
Menghela nafas sejenak, Dewa memijit pangkal hidungnya. cukup di buat pusing dengan kelakuan istrinya yang mendadak menjadi aneh.
"Kalau kamu males ke kantor, kamu di rumah saja ya, sama eyang sama Delon." bujuknya lagi. dan entah itu bujukan ke berapa Dewa lupa menghitungnya.
"Berada dekat dengan si ulat bulu itu? tidak mungkin!" mendadak ia bicara dengan nada tinggi. membuat Dewa hampir terjengkang ke belakang karena terkejut.
Si ulat bulu, Isabel itu betul-betul membuat Cintya geram bukan main. bukan karena takut ia menganggu Dewa, tapi perilaku gadis itu yang membuatnya ingin menjambak dan menyeretnya keliling rumah.
Kehadiran Isabel dalam rumah keluarga Herlambang membuat sisi bar-bar Cintya kembali mencuat.
Dewa dengan ketengilan dan kelembutannya di saat bersamaan mampu membuat Cintya menjadi lebih memperlihatkan sisi manisnya dari pada sisi onarnya. dan sekarang semuanya seolah sia-sia. Isabel berhasil membuat nyonya muda itu kembali pada sifat asli nya, onar bar-bar dan sembrono.
"Ya udah, sekarang kamu mau apa?" ada hela lelah dalam ucapan Dewa. ya lelah karena sampai di menit ke lima puluh enam dari waktu keberangkatannya ke kantor, Dewa belum bersiap-siap. bahkan ia masih tak mengenakan apapun di balik selimut yang menutup tubuh mereka.
"Gak tau, maunya sama Om." jawabnya terdengar lirih.
__ADS_1
Uh, Dewa gemas sekaligus geram. hari ini seharusnya ia menyelesaikan setengah dari laporan yang harus ia periksa. tapi lihat lah, ia masih anteng dengan rambut berantakan dan muka bantalnya.
"Kalo gak mau ke kantor atau di rumah, gimana kalo kamu main ke rumah ibu, biar kakak antar."
Oke penawaran terakhir dan harus berhasil. jika tidak, Dewa akan semakin tenggelam dalam berkas-berkas laporan akhir bulan. apalagi ia akan sendirian. karena Alex menggantikannya meninjau proyek yang bermasalah. dan jangan tanyakan siapa yang melarang sang Direktur melakukan tugasnya jika bukan manusia yang saat ini masih erat memeluknya dirinya.
"Jadi kakak ngusir aku?" yang tadinya hanya suara rengekan manja, kini di barengi dengan air yang mengenang di pelupuk matanya.
Oh tidak, jangan berkedip. jika tidak air mata itu akan meluncur begitu saja. Dewa tak akan kuat melihatnya.
Dan tadi apa gadis itu bilang?
Mengusirnya?
Siapapun, tolong jelaskan. bagian mana dari kata-kata Dewa yang mengandung makna pengusiran. sepertinya sang nyonya sedang sensi saat ini. membuat Dewa ingin tenggelam saja rasanya.
"Kakak tidak mengusir Cinta, hanya menawarkan sayang. mungkin kamu rindu kakek atau ibu. kalian bisa jalan-jalan, bukankah sepupu kamu ada yang tinggal sama ibu, benarkan?"
Ah, ya benar. Cintya lupa jika salah satu sepupunya tak ingin kembali ke jawa. ia sampai melupakan hal itu. Cintya terlalu sibuk dengan urusan si ulat bulu hingga melupakan keberadaan sepupunya itu.
Ya Tuhan, Dewa nyaris gila. ada apa dengan istrinya ini. bukan hanya cerewet tapi juga manja bergantian. macam bunglon saja.
"Baiklah, Si cantik ini mau apa sekarang?" di tangkupnya wajah yang hampir berurai air mata itu. memberi kecupan kecil di bibir yang tengah mengerucut itu. cara merayu yang paling romantis.
Dewa telah bersiap dengan jawaban yang pastinya akan mengejutkannya setelah ini.
"Mau ikut ke kantor."
Astaghfirullah, des*hnya dalam hati. ujian apa lagi ini ya Tuhan. Dewa rasanya ingin meledak.
"Jadi mau ikut ke kantor sekarang?" nada yang di buat sangat kalem, meski sebenarnya pria itu sedang mati-matian menahan geram.
Bolehkan jika ia mengumpat sekarang? istrinya benar-benar menguji kesabaran.
__ADS_1
Sialaaaan...
"Baiklah.." dengan senyum yang di paksa Dewa menjawab.
Cintya sumringah, dengan mata yang berbinar indah. "Kakak gak akan marah kan?"
Memejamkan mata sebentar hanya untuk mengusir rasa yang tak dapat di ungkapkan dengan kata-kata.
Pertama melarang berangkat kerja,
Kedua meminta untuk libur,
Ketiga mengatakan malas,
Ke empat tak ingin di tinggal.
Dan sekarang di saat ia meminta ikut ke kantor dan sudah di ijinkan, ia masih menanyakan Dewa marah apa tidak? Oh, istrinya itu, Dewa serasa ingin terjun dari balkon saja sepertinya.
"Mana bisa kakak marah, pada di si cantik ini, bisa-bisa nanti malam kakak tidur di sofa lagi."
Eh, apa Dewa sedang merayu? atau sedang menyindir.
Dengan sedikit memanyunkan bibir nya, Cintya melepaskan tautan tangannya pada perut Dewa.
Terhitung satu jam empat puluh menit tiga puluh lima detik dari waktu keberangkatannya ke kantor, Cintya baru melepaskannya. dan itupun dengan syarat yang tak mungkin Dewa tolak. kembali beradegan ranjang bertukar peluh untuk yang kedua kalinya pagi itu.
Lihat semua, siapa sekarang yang menjadi paling mesum di antara keduanya.
Untuk masalah itu, Dewa telah kehilangan emosi yang menyumpal kepalanya. erangan dari gadisnya seolah meluberkan bongkahan rasa jengkel yang beberapa saat lalu menyumbat kerja otaknya. tergantikan rasa panas yang menjalar melalui desiran-desiran rasa yang membuncah di dada. mengantarkan aliran darahnya bergerak cepat dan membuat deguban jantung yang membuat keduanya bergerak semakin liar. hingga rasa itu, rasa yang selalu membuat Cinta mereka semakin bergejolak. hingga keduanya memuntahkan lahar yang membuatnya keduanya lelah bersama-sama.
***
Kalian nunggu ya???
__ADS_1
maafkan diriku, akhirnya emak tumbang juga. dalam arti capek banget. habis jelong-jelong ngikuti si Cinta sama si sableng.
yuk ah, dukung buar sore bisa up lagi