Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Tak perlu terjadi.


__ADS_3

Happy Reading...


Bulu mata lentik Cintya bergerak mengerjap, lalu terbuka perlahan. pandangannya di sambut oleh tembok dengan cat berwarna putih. aroma densifekta dan obat-obatan menguar menyapa indra penciumannya. ia kenal tempat ini.


Cintya menggerakkan tangannya yang sedikit nyeri. ia meringis mendapati jarum infus menancap di pergelangan tangannya. akhirnya, sampai juga ia di tempat yang paling ia benci. Rumah sakit.


Di edarkannya pandangan menelisik ruangan terang dengan lampu kristalnya. ruangan khusus yang di siapkan untuknya pribadi atas permintaan sang pewaris tunggal kerajaan bisnis Herlambang.


Sebuah kamar dengan fasilitas kamar hotel yang sayang nya juga di lengkapi dengan peralatan kesehatan dan kawan-kawannya.


Dewa benar-benar berlebihan soal ini. ia bahkan memindahkan kamar hotel ke rumah sakit atau peralatan rumah sakit yang di pindah ke dalam kamar hotel.


Terlepas dari segala kemewahan dan kenyamanan, tetap saja ini adalah rumah sakit. dan Cintya tak menyukainya.


Tak ada suara apapun dalam ruangan putih itu, kecuali denting dari jarum yang bergerak berpindah angka.


Cintya merasakan hangat di telapak tangan nya, lalu ia merotasikan kepala untuk menjangkau pandangan hingga netranya bersirobok dengan manik abu-abu yang memandangnya teduh. seluas senyum hangat ia tangkap di wajah yang terlihat lelah itu.


"Om," suara Cintya tercekat di tenggorokan. bersamaan dengan itu air matanya melesak keluar tanpa bisa di cegah.


"Iya sayang," Dewa berkata lirih. sebisa mungkin ia menahan suaranya agar tak bergetar.


"Om," kembali Cintya menyerukan panggilannya. ia senang dan bahagia, wajah yang membuatnya gusar selama dua hari hingga ia lupa makan dan minum kini berada di depannya. memandangnya sayang penuh kerinduan.

__ADS_1


"Maaf," Dewa menggengam erat tangan mungil itu dan mencium dengan penuh perasaan. "maafkan kakak Cinta, harusnya ini tak perlu terjadi." setitik air mata jatuh membasahi punggung tangan Cintya.


Cintya tersenyum, setidaknya cukup lega karena kini Dewa berada di depan matanya.


"Om tidak apa-apa?" tanya Cintya yang melihat balutan warna putih yang melingkar di kepala Dewa.


Dewa menggeleng, apalah artinya nyeri di punggungnya dan denyutan hebat di kepala demi untuk menahan agar istri dan calon anaknya tidak celaka.


"Tapi om pasti kesakitan."


Cintya masih ingat betul jika ia hampir menggelinding dramatis di anak tangga karena dorongan isabel. jika saja saat itu Dewa tidak cepat meraih tubuhnya dalam pelukannya, mungkin saat ini bukan kepala Dewa yang terbebat kain kasa putih melainkan dirinya.


"Seperti yang kakak bilang sama kamu, bahkan kakak rela menanggung semua rasa sakit di dunia ini untuk menggantikan kamu." ujarnya tulus disertai seluas senyum menenangkan.


"Kenapa Om gak ada kabar, Tya takut terjadi apa-apa?" ujarnya manja. jangan lupa kan si bumil masih bermasalah dengan hormon kehamilannya. dan sepertinya dia juga lupa tentang foto dan juga cerita tak masuk akal dari isabel.


"Maaf, kakak terlalu sibuk sampai tak sempat hubungin kamu." Alasan klise, sesibuk apa sih si Dewa, bukankah dua hari kemarin ia masih bisa meluangkan waktu.


"Semenit pun?"


"Iya maaf," Dewa memandang intens wajah Cintya yang tampak pucat lalu mendaratkan sebuah ciuman di rahang wanita itu.


Andai saja Dewa tak datang tepat waktu dan melihat perdebatan antara Cintya dan Isabel, pastinya saat ini Dewa akan menjadi orang yang paling menyesal karena bisa saja istri dan anaknya celaka.

__ADS_1


"Cinta,, Cinta,, kakak pulang." Dewa berjalan cepat dari pintu utama. ia sangat merindukan istri cerewet yang sayangnya sangat ia puja.


Dewa tergesa, karena tahu jika Cintya pasti menunggunya. namun ia harus mempercepat lagi langkahnya saat ia melihat tubuh Cintya yang terhuyung dan berusaha mendapatkan pijakan yang tepat agar tak terjatuh.


Dengan secepat yang ia mampu, Dewa berlari hingga harus memangkas undakan anak tangga agar cepat merah tubuh Cintya. namun sialnya Dewa sendiri yang kehilangan keseimbangan hingga ia terguling dengan mendekap tubuh Cintya. dan berakhirlah dengan punggung nyeri karena menghantam sisi anak tangga dan kepala bocor akibat benturan yang hebat dengan lantai marmer.


Mungkin mulai malam ini, ia harus segera memasang karpet super empuk yang ia datangkan dari Istambul agar tak perlu lagi ada drama kepala benjol.


Dewa meringis mengingatnya.


"Sekarang tidur lagi, masih malam," titahnya dengan mendarat kan ciuman di kening.


"Peluk."


Ah, syukurlah Cintya tak mengingat foto dalam genggamannya yang langsung Dewa sembunyikan saat ia pingsan.


Dewa merangkak naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Cintya dan mengulurkan lengannya. yang di sambut Cintya dan menggunakannya sebagai bantalan.


Kehangatan dari kulit Dewa yang tak berpenghalang menghantarkan kantuk hingga dalam sekejab Cintya telah terlelap. meski nyeri di punggungnya cukup menganggu, namun Dewa harus menahannya. ada rasa sakit lain yang harus ia rasa kan sebentar lagi. dan Dewa harus bersiap untuk itu. bersiap untuk menjawab pertanyaan Cintya yang sangat sulit ia jawab dan sayangnya ia tak akan bisa lari.


***


Likenya banyak-banyak, sambung malam biar semangat.

__ADS_1


__ADS_2