Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Bukan tantangan tapai pantangan.


__ADS_3

Happy Reading ..


Kelap kelip lampu yang berputar di tas kepala, serta suara hentakan musik memekakkan telinga, sudah dapat mengidentifikasi tempat apa yang sedang di datangi oleh ketiga manusia minim akhlak itu.


Dewa dan kedua temanya kembali bertemu dalam tempat dan waktu yang sama. untuk apa mereka berkumpul di tempat semacam itu, jika bukan untuk menabung dosa.


Dewa duduk bersandar di sofa panjang berbahan kulit sintetis warna abu-abu muda, yang sangat cocok dengan dekorasi interior tempat tersebut yang membawa topik kegelapan. dominasi warna hitam dan abu-abu.


Wajahnya tampak kusut seperti kemejanya yang belum berganti sejak pagi. tampak sesekali ia tersenyum namun sedetik kemudian ia mendesah berat. entah apa yang sedang dipikirkannya, membuat kedua temannya yang memiliki karakter yang sama dengannya itu memandang heran dan bertanya-tanya.


Alex dan Zack terkadang saling pandang. namun Dewa sama sekali tak memberikan reaksi apapun. bahkan saat Alex sengaja menyenggol kakinya yang ia selonjor kan di bawah meja., Dewa pun tak bergeming.


"Jek, lu tau gak? ayam tetangga gue yang berstatus duda itu kemarin di temukan kaku di bawah meja?" Alex membuka suara karena sejak kedatangannya beberapa menit yang lalu Dewa belum mengeluarkan cicitannya. itu terkesan aneh bagi kedua sahabat sablengnya.


"Eh tunggu, yang elo maksud itu ayamnya apa pemiliknya yang berstatus duda? bingung gue." tak kalah si Jek pun bertingkah seolah obrolan mereka serius. seserius bulan mengitari matahari semalaman.


"Ayamnya bego! pemiliknya mah masih ada bini yang bohay banget. serius." Alex nyengir. padahal ia sama sekali tak memiliki tetangga yang semacam itu. mana ada orang tinggal di apartemen mewah tapi pelihara ayam.


"OH!" si Jek hanya berOh ria.


"Lu gak tau kan penyebab matinya tuh jagoan apa?" Alex menekankan kata jagoan. sengaja menyindir Dewa yang kala itu masih terdiam.

__ADS_1


Teringat dirinya saat tadi pagi Dewa datang ke kantor sambil uring uringan setelah kemarin seharian dirinya tak muncul kembali ke kantor. kecuali pagi saat ia menyerahkan pekerjaanya pada asistennya.


"Kan elu yang tetanggaan sama tuh jagoan, lah mana tau gue kasusnya apaan." Jeki bertanya seolah itu adalah masalah yang sangat penting.


"Patah hati! broken heart! lu ngerti kan? pasti sakit banget. sampai terbengong kayak gitu. sampai mati pula." sambil melirik ke arah Dewa, Alex berkata.


Jangankan untuk menanggapi, bahkan untuk melirik maupun Dewa sepertinya enggan.


"Tapi sayangnya gue gak pernah patah hati, gak tertarik sama sekali." Zack menanggapi sambil mengikuti arah pandangan Alex. yaitu Dewa yang kini tengah menatap layar ponselnya.


"Yah biarlah kita tak perlu menikmati nikmatnya patah hati. biar kita wakilkan saja, oke!" Dengan srnyum yang sangat menyebalkan Alex berkata. tentunya untuk mengugah macan yang sedang tertunduk lesu itu.


"Ya kita kuburin lah, masak iya di masak." Alex semakin menjadi-jadi. tak tahu saja dirinya jika obyek yang sedang mereka sindir itu tengah menyimak obrolan mereka dalam diam.


"Pasti nantinya para wanita patah hati berjamaah seantero club! ha..ha..ha..!" Zack terbahak penuh bahagia. tak menyadari jika Dewa sudah mengantongi kembali ponsel yang sedang ia mainkan.


"Setaaaan... lu berdua! dasar teman gak ada akhlak. cecunguk kalian." Dewa menjambak satu persatu dengan kedua tangannya dan membenturkan kepala keduanya.


"Wadaw! jagoannya ngamuk Lex!" Zack meringis meski jambakan dan benturannya tak sesakit seperti yang di tampilkan oleh mimik wajahnya.


"Ayam jagonya gak jadi mati!" Celetuk Alex membuat Dewa semakin mengeratkan cengkeramannya. lalu melepaskan keduanya dengan sedikit mendorongnya.

__ADS_1


"Gila Lo Wa, belajar dari mana Lo jurus emak-emak tawuran." Alex merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Aje gile, pasti tuh si nona kecil yang ajarin dia. secara tuh anak ajib banget." Zack mengelus pelipisnya. memasang wajah menderita.


Dewa tak menanggapi keluhan kedua temannya yang memasang tampang teraniaya. bagaimana mungkin ia punya waktu untuk mengerti keadaan kedua temannya, di saat dirinya sedang menghadapai masalah berat. meski masalahnya hanya tentang tantangan cinta dari gadis yang mampu membuat agenda kerjanya kacau balau.


"Kalian berdua emang gak ada akhlak, biasa-bisanya kalian becanda di saat gue puyeng kayak gini." cerca Dewa pada dua orng laki-laki di hadapannya.


"Emang kenapa lagi sih, dari pagi juga gue liat elu gak fokus. liat si bocil kayaknya dia santai-santai aja." Alex menyumbangkan unek-uneknya.


"Gimana gak santai tuh bocah, udah bikin gue puyeng. jungkir balik gue rayu dia. bahkan kata-kata yang gak pernah gue ucapin ke cewek manapun, gue semprotin tuh ke kuping dia, tapi gak ngefek sama sekali. bener-bener tuh anak." Dewa meluapkan kekesalannya. entah apa jadinya jika obyek yang tengah di bicarakan sedang berada di sana, pastinya akan terjadi adu mulut yang tak berkesudahan.


"Tunggu deh, emang apa yang udah dilakuin si baby sama elu?"


Dan Dewa pun bercerita tentang perdebatannya dengan gadis yang berhasil mengaduk-aduk setengah dunianya. baru setengah belum semuanya.


Di mulai dari awal perdebatan mereka mengenai permintaan Cintya yang mengharuskan Dewa untuk belajar mencintainya, sampai drama makan siang yang hampir gagal. hingga berakhir dengan Dewa yang harus mengikhlaskan kedua tangan kekarnya untuk menjinjing tas belanjaan wanita yang bejibun.


***


jejaknya gengs...

__ADS_1


__ADS_2