Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Membuat tantangan


__ADS_3

Happy Reading...


Mereka bertiga dengan perasaan yang sama dan di tempat berbeda, sama-sama rindu pada persahabatan. larut dalam angan kenangan masa lalu. menengadah menatap langit malam seolah mereka sedang berbincang. mengurai perasaan terdalam dari segumpal rindu yang merantai hati ketiganya.


Lima tahun yang lalu, di saat terakhir kebersamaan mereka di kampus dimana saat itu jugalah yang menjadi awal dari perpecahan dan perpisahan ketiga sahabat.


Hanya karena kurangnya komunikasi, atau memang Leo yang terlalu apatis sehingga saat amarah menguasainya, ia bahkan dengan gamblangnya menyerukan tuduhan penghianatan.


Kini yang tertinggal hanya penyesalan. penyesalan tak berujung namun semakin menusuk menyakitkan.


"Langitnya indah ya kak," tiba-tiba saja si tukang rusuh berada di samping pria yang tengah bernostalgia dalam lamunan.


"Lu kayak jelangkung dek, datang tak di undang pulang tak di antar." Leo terperanjat, alhasil kalimat itulah yang terlontar.


"Busyet dah, kira-kira dong kalo muji "


"Muji gundulmu, Lagian elu sopan banget main slonong gak ketuk pintu,"


"Telat bang... telat..."


"Lagian ngapain sih lu? bukannya elu harusnya udah tidur."


"Belum ngantuk, gak bisa merem,"


"Lu kangen dek, sama calon laki lu?"


.


"Enggak juga, tp kok tiba-tiba keinget sama tuh engkong,?


"Wah bahaya lu dek, kakak musti ngomong nih sama ibu sama kakek,"


"Ngomong apaan? emang Tya kenapa?" gadis itu mengernyit heran, Leo berkata begitu antusiasnya.


"Ngomong kalo anak bontot nya udah bucin sama di Casanova sableng." ucap Leo bernada kesal. entah apa yang membuatnya kesal setiap kali Dewa yang menjadi topik pembicaraan.


"Rasah NGADI-NGADI, ngarang aja," Cintya mendelik tak terima.


"Syukur deh kalo enggak,"


"Emang apa salahnya kalo Cintya suka sama tuh engkong? dia kan calon suami Cintya yang tampan yang keren tajir melintir, banyaklah pokoknya."


"Astaga mulut Lo dek, makin tak terkontrol," Leo pasang muka tak percaya, menggeleng lemah.


Cintya mengangkat bahu cuek bebek mode Ra ngurus.


"Berarti rencana kita gagal dong, buat ngerjain dia."


"Kok gagal? kan belum nyoba."


"Ya kan elu duluan yang cinta, gimana sih Lo?"


"Emang kapan Cintya bilang sama kakak kalo Cintya cinta sama tuh engkong?"


"Lah tadi,"


"Sok tau deh kakak, lagian kakak kenapa sih kok akhir-akhir ini tampak aneh? Emang ada masalah sama perusahaan?"

__ADS_1


"Gak ada masalah, lu kali yang punya masalah."


"Banyak, mulai dari rencana ngerjain dia, nyusahin dia, bikin kesel dia, terus apa lagi ya? pokoknya banyak biar setres sekalian." Cintya monyong, entah setan apa yang menyapanya padahal beberapa saat lalu dia tampak baik-baik saja.


"Kenapa tuh muka jelek begitu?"


"Cintya kesel, kemarin katanya mau ngajak Tya jalan, ehh tadi siang malah di batalin."


"Gimana dia gak batalin janji nya ke elu, orang manusianya aja jalan sama cewek cantik.' Leo keceplosan.


"What!!" pekik Cintya.


"Kakak habis ketemu sama Om? seriusan?"


"Ya makanya kita realisasikan rencananya sekarang."


"Oke, kita mulai besok." ucap Cintya penuh semangat.


Pagi menjelang, gadis yang semalam telah menyusun rencana dengan baik itu terbangun dengan wajah sumringah.


Ia sudah membayangkan jika hari ini pasti akan menjadi hari yang sangat menyenangkan.


Cintya berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. ia tak mau membuat mood bosnya yang jahil itu rusak di saat ia akan melaksanakan kejahilannya.


Tapi semua di luar ekspektasi, ternyata orang yang sedang berada di dalam fikirannya sudah bertengger di atas kursi kebesarannya.


"Kamu terlambat lima menit tiga puluh dua detik"


Sambutan yang di berikan untuk gadis yang baru memutar handle pintu itu.


"Bukan jam kantor yang berubah tapi jam kamu yang rusak!" seru Dewa


"Benarkah?" Spontan gadis itu melihat ke arah pergelangan tangannya. dan ternyata benar, jam tangannya rusak.


"Lah kok mati sih, harusnya bilang dong kalau baterai kamu habis." Cintya bermonolog di belakang mejanya.


"Lo ngomong apa barusan?" Tanya Dewa karena Cintya terdengar mengatakan sesuatu yang tidak jelas.


"Enggak Om, tadi kak Leo Cuma nitip pesan katanya kalau gak sibuk siang ini di tunggu di tempat kemarin." Bohong Cintya. padahal janji bertemu dengan Leo, sama sekali tak ada dalam daftar rencananya.


"Mau ngapain?"


"Tau, tanya saja entar."


Pasti masalah Lilian, batin Dewa berbisik.


"Oke, sama elu kan?" Cintya mengangguk.


Segera ia memberitahukan rencananya pada Leo, walau tak ada dalam pembicaraan mereka semalam, gadis itu sangat yakin jika apa yang akan di bicarakan saat siang nanti cukup membuat Dewa kelimpungan.


Cintya tersenyum geli sendirian di meja kerjanya. membayangkan reaksi Dewa yang jelas-jelas akan memberikan keuntungan baginya.


"Ngapain lu senyam-senyum?"


"Gak kenapa- kenapa?"


"Ya udah kerjain pekerjaan elu, numpuk tuh!" Dewa menunjuk tumpukan berkas-berkas yang harus Cintya selesaikan laporannya.

__ADS_1


"Udah kali itu."


"Ya udah sini Lo" Titah Dewa meminta Cintya untuk mendekat ke arahnya.


"Mau ngapain?"


"Udah sini aja bawel?" malas berdebat Cintya pun mendekat ke meja kerja Dewa.


"Kirain dari tadi kerja , taunya nge-game " mata Cintya membeliak kaget setelah melihat Dewa yang tengah memainkan game anak-anak di layar laptopnya.


"Udah sini temenin gue maen," ucapnya menarik tangan Cintya lebih dekat ke arahnya.


Awal bulan emang hari yang di nanti untuk setiap pegawai, pasalanya di hari itu mereka tak di kejar pekerjaanya ataupun deadline lainnya.


Begitu pula dengan Dewa, di akhir bulan ia akan menjadi robot pemburu dolar dan setelah laporan bulanan terselesaikan, ia akan sedikit lebih santai.


"Udah Om maen sendiri aja, Cintya capek kalau harus berdiri seperti ini seharian.


"Kalau gak mau capek ya duduk cil,"


"Kursi cuma satu, lah Cintya duduk dimana dong,"


"Di sini," Dewa menepuk kedua pahanya, memerintah Cintya untuk duduk di pangkuannya. tapi dia lupa jika Cintya lebih suka berteriak dari pada harus bertingkah aneh menuruti keinginan Dewa.


"Ogaaah!" teriak Cintya di samping Dewa membuat pria itu menutup telinganya dengan tangannya.


Cintya berbalik menuju meja kerjanya dengan mendumel kisruh.


"Berisik!"


Jam makan siang pun telah tiba, Dewa dan Cintya bergegas untuk menemui Leo di tempat yang telah mereka janjikan.


Dengan langkah santai Dewa berjalan bersisian dengan Cintya di sampingnya.


Sesekali gadis itu mengedarkan pandangan mencari sosok pria yang tak lain adalah kakaknya.


Gegas mereka berdua menghampiri Leo yang fokus terhadap iPad di tangannya.


Menyadari ada seseorang berdiri tegap di depannya, lantas Leo mendongak.


Raut wajahnya seketika berubah. ekspresi yang semula biasa saja kini menjadi merah menahan amarah.


"Mata hitam Leo bertemu dengan manik abu-abu Dewa. seketika Aura dingin mencekam menyergap dua orang yang sedang bersitegang.


"Duduk." titahnya pada Cintya dan Dewa. dan mereka pun menuruti duduk berhadapan dengan Leo.


"Gue kasih elu waktu tiga puluh hari buat berusaha mencintai adek gue," ucap Leo lugas.


"Hah!" Dewa yang tak siap dengan tembakan perintah itu hanya bisa menganga.


"Jika lu nolak, maka bisa gue pastiin perjodohan ini batal."


Dewa tercenung, bagaimana bisa itu terjadi, bukankah cinta juga membutuhkan proses.


***


Jejaknya gengs..

__ADS_1


__ADS_2