Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Kapan kita nikah?


__ADS_3

Happy Reading...


Matahari sore nampak menyapa wajah cantik yang baru saja mengerjapkan matanya. Cintya mengedarkan pandangan menelisik dimana dirinya berada saat ini.


Pandangannya membulat tatkala ia menyadari bahwa dirinya sedang berada di dala. sebuah kamar.


Sebuah kamar? eh, bukankah dirinya berangkat kerja tadi pagi, kenapa bisa dia tidur. sejenak pikiran negatif menyergapnya. namun ia bisa bernafas lega karena melihat pakaiannya yang masih utuh. hanya sepatu nya saja yang di lepas.


Cintya segera memakai kembali sepatunya dan keluar dari kamar yang ia kenali adalah sebuah ruang di kantornya.


"Putri tidur udah bangun rupanya." Alex menyambut kedatangan Cintya.


"Udah puas tidurnya, dek? tanya Dewa . Cintya menunduk dengan malu-malu.


"Gimana bisa Cintya berada di kamar itu om?" Cintya bertanya dengan senyum malu.


"Menurut lo?" Dewa menghentikan pekerjaannya dan melihat wajah Cintya yang sedikit kusut namun masih terlihat cantik.


"Aa... Cintya jadi malu." ucapnya manja sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kagak habis pikir sama gua, bisa-bisanya lu punya karyawan yang tidur seenaknya kayak dia." Alex terkekeh geli.


"Dia kan spesial kalo kata eyang?" Dewa menjawab.


"Yap, special pake telor dua." Alex kembali tertawa. membuat Cintya semakin memerah menahan malu.


"Tapi kok bisa sih elu molor di jam kerja?" Dewa berdecak.


"Yaa.. Cintya ngantuk lah sendirian di ruang ini, berasa bego gak ada yang di kerjain. lagian di Om datangnya juga telat kan?" Cintya tak mau begitu saja di salahkan.


"Tapi ada bagusnya juga sih lu tidur tadi. si Dewa menang banyak kayaknya!" Dewa mendelik menatap Alex yang bicara ngawur.


"Maksudnya?" alis Cintya berkerut.


"Tau lah Dewa gimana, lagian salah elu molor udah kayak kebo." Alex mencoba menebar kebencian di hati gadis itu.


"Om!" Cintya meminta penjelasan.


"Gak usah fitnah deh Lo!" Dewa melempar pulpen yang di pegangnya tepat di kening Alex. membuat pria berwajah oriental itu meringis sambil mengusap keningnya.


"Gue pergi, kalian lanjutin yang tertunda tadi." ucap Alex berlalu pergi meninggalkan Cintya dengan kekhawatiran di dadanya.

__ADS_1


"Whoy setan lu!" Dewa mengeram.


"Bisa di lanjut penjelasannya? apa maksud dari ucapannya?" Cintya memandang Dewa dengan tatapan penghakiman.


"Kagak ada apa-apa cil, gue gak ngapa-ngapain elu. puas!"


"Awas aja kalau berani." ancam gadis itu. namun tak urung gadis itu duduk di kursi dan berhadapan dengan sang Calon suami.


Suasana Hening. baik Dewa maupun Cintya masih sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dewa pun tak memberikan tugas yang membuat gadis itu selalu mengeluh seperti biasanya.


"Om!"


"Hem!"


"Kapan kita nikah?" Cintya melontarkan pertanyaan lebih dulu.


"Kenapa lu tanya masalah itu lagi, bukankah kurang dari tiga bulan elu udah resmi menyandang nama Herlambang di belakang nama elu?" Dewa masih berkutat dengan berkas-berkas di tangannya.


"Kok kita gak ada persiapan sama sekali sih om?" Cintya bertopang dagu membuat gadis itu semakin imut dengan memonyongkan bibir pink alaminya. sampai Dewa pun harus menelan Saliva.


"Ngapain musti repot? kan ada WO yang urus?" Dewa kembali menunduk. pria bermata coklat itu lebih memilih memandang kertas-kertas putih dari pada melihat pemandangan di depannya yang membuatnya seperti terbakar.


"Padahal Cintya pengennya kalau Cintya nikah nanti Cintya kayak di novel-novel roman gitu." bibir Cintya mengerucut. membuat Dewa semakin gelisah.


"Emang konsep yang kamu pengen kayak gimana?" Dewa mencoba mengalahkan debar jantungnya yang semakin hari semakin tak ia mengerti.


Oh apakah dia harus mati muda karena tak mampu mengontrol detak jantungnya? tidak! Dewa tak seperti itu. dia pria dewasa yang sudah berpengalaman. tak mungkin dirinya tergoda dengan gadis yang baru lulus kuliah. bahkan belum bisa di katakan dewasa.


"Pengennya sih yang biasa saja, tapi berkesan."


"Yang biasa dan berkesan itu seperti apa maksud Lo?"


"Cintya pengen milih sendiri baju pengantinnya, cincin kawinnya dan yang... yah begitulah!" ucap gadis itu. ia bahkan tak mampu mendeskripsikan apa yang menjadi keinginannya.


"Kita pergi, gue bisa kasih semua yang elo mau. tapi loe juga harus bisa kasih yang gue mau?" ucap pria tampan itu sambil menyeret tangan gadisnya keluar dari ruang kerjanya.


Dewa menyeret langkah gadis itu hingga masuk ke dalam Lift khusus pertinggi perusahaan.


Ting!


Pintu lift terbuka. Mereka berdua berjalan bersisian menuju basement kantor.

__ADS_1


"Kita mau kemana sih?" Tanya Cintya yang tak di jawab oleh pria yang sedang duduk di belakang kemudinya .


"Kita perjelas semuanya. apa mau Lo dan apa mau gue!" Dewa menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. hingga mereka sampai di depan sebuah butik yang memajang manekin dengan balutan baju pengantin dan kebaya yang begitu indah.


Cintya hanya diam saja. saat tangan Dewa kembali menyeretnya ke dalam ruang yang bisa membuat mata Cintya takjub bukan main.


"Ngapain kita di sini Om!" tanya Cintya polos.


"Nah kan elu pengen milih baju pengantin kan? ya udah pilih lah!"


"Kata om semua di urus Wo?"


"Ya gak semua cil, emang lu mau nikah dengan kebaya kedodoran atau model yang gak elu suka?"


"Oh, oke!"


"Mari mbak, kita masuk!" Seorang pelayan mengajak Cintya masuk ke dalam sebuah ruang dimana sebuah keindahan sedang terpampang.


"Silahkan di pilih mbak!" Cintya hanya mengangguk ringan. mata gadis itu berbinar melihat deretan kebaya pengantin yang begitu elegan dan mewah.


Dewa duduk di sofa ruang tunggu sedang serius dengan gadget di tangannya.


"Semua udah siap untuk entar malem." sebuah pesan yang ia baca pada layar pipih di tangannya.


"Okey, atur semuanya." balasnya singkat. lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.


"Sudah?" setelah ia melihat Cintya keluar bersama pelayan yang menemaninya.


"Udah, tapi Minggu depan kita fitting."


"Oke, yuk kita pulang ya." ajak Dewa namun Cintya menahannya.


"Tapi om,"


"Kenapa lagi?"


"Emang kita beneran mau nikah?"


"Hah! jangan bilang lo mau batalin perjodohan ini." Dewa ketar-ketir gelisah mendengar jawaban dari di mulut kecil.


Jangan sampai batal, gue gak harus miskin!" jerit Dewa dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2