Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Pergilah.


__ADS_3

Happy Reading...


Plakk!!!


"Sudah ku katakan, jangan mengusik kehidupan Dewa." Rendra menatap tajam dengan wajah memerah karena marah pada Graciella yang sedang memegang pipi setelah Rendra menamparnya. Bekas jari-jari besar Rendra membekas berwarna merah keunguan membentuk garis-garis saking kerasanya sebuah tamparan.


Jika ada yang mengatakan Rendra kasar, itu karena selama puluhan tahun ia telah mengubur amarah dalam dirinya. selama ini ia hanya hidup sebagai manusia bernyawa tanpa perasaan. dan itu semua karena Graciella.


"Kau menamparku Ren,? Graciella mengangkat wajah, memberanikan diri membalas tatapan Rendra yang sepertinya ingin mengulitinya.


Di belakangnya, isabel berdiri menunduk kaku, kedua tangannya meremat ujung kemejanya hingga kusut.


"Selama ini aku tak pernah meminta apapun darimu. apa sangat sulit bagimu untuk memberikan satu permintaanku saja kali ini," Rendra berkata rendah namun terdengar penekanan dalam tiap katanya.


"Dan kau memintanya karena itu menyangkut Cintya, putri dari wanita itu." ungkapan sinis yang keluar dari mulut Graciella berhasil menyulut emosi Rendra hingga rahang pria itu mengetatkan dengan tangan mengepal.


"Jangan sangkut pautkan Cintya dalam masalah kita, setidaknya kau pikirkan Dewa, anakmu akan hancur jika sesuatu terjadi pada istrinya."


Seperti sebuah tamparan, tapi ini lebih menyakitkan. ucapan Rendra telah berhasil menusuk hati Graciella. dan semakin menyadarkannya di mana posisinya saat ini.


Memang Cintya tak ada hubungannya dengan masa lalu mereka. tapi Diana, ibu dari gadis yang sedang menjadi inti perdebatan mereka adalah putri dari bagian masa lalu Rendra. apapun yang berhubungan dengan Cintya, maka Rendra akan menjadi orang nomer satu yang membelanya.


Graciella bergerak gusar, Harusnya dulu ia tak memaksakan keinginannya. harusnya ia bisa menekan perasaannya. harusnya dulu ia tak berbuat egois, merampas yang bukan miliknya. jika tahu ini akan terjadi.

__ADS_1


Graciella seperti merebut bola kaca dari Diana, berpikir untuk menggenggam erat. memilikinya sendiri, dan seutuhnya. namun sayangnya ia tak menyadari genggaman tangannya justru membuat kaca itu hancur dan melukai tangannya. menyakitinya hingga berdarah-darah.


Tak dapat berbuat apapun, Graciella hanya mampu menunduk. dan mulai sekarang ia akan mengingatkan dirinya bahwa itu bukan tempatnya. karena baik Rendra maupun Dewa akan lebih mempertimbangkan keberadaan Cintya daripada dirinya.


"Sebaiknya kau pergi dari rumah ini dengan keinginanmu sebelum Dewa yang memintamu pergi." tatapan tajam ia lemparkan ke arah Isabel yang saat ini sedang mencuri-curi mengangkat kepala.


Graciella cukup mengerti situasinya. Dewa tak akan mengusirnya, namun Isabel sangat tak di inginkan di rumah ini. setidaknya mereka tak mendapatkan pengusiran secara tidak hormat dari rumah itu.


"Tentu kami akan pergi." tukas Graciella akhirnya.


Dengan berat hati Graciella meninggalkan ruangan besar itu, malam masih panjang dan ia harus pergi dengan segala rasa sesak di dadanya. penyesalan membuat air matanya luruh. harusnya ia tak mengatakan apapun pada Isabel jika tahu akan begini. dan sekarang menyesal pun tak ada artinya.


Langkahnya berat namun ia tetap harus pergi. hingga suara berat penguasa tempat itu menghentikan langkahnya. "kalian akan tetap di sini hingga Dewa memutuskan hukuman untuk Isabel."


Yah tentu, kedengarannya sangat menakutkan, tapi apa boleh buat, karena Isabel memang pantas mendapatkan hukuman.


***


Di belainya rahang yang sedang di tumbuhi bulu halus itu, lalu beralih ke bibir merah alaminya. meski Dewa kadang-kadang merokok namun tak dapat di pungkiri jika bibir merah itulah yang selalu melayang kan kata-kata rayuan yang membuat Cintya kesal sekaligus bahagia. namun sesaat hatinya nyeri karena bibir yang sering ia sebut soang itu sedang menyembunyikan sebuah kebenaran. Cintya hanya butuh pengakuan Dewa, selebihnya ia akan memaafkannya. mungkin, tapi entahlah.


Tatapan cintya jatuh pada mata Dewa yang terpejam, bahkan bulu mata pria itu tak kalah lentik dengan miliknya yang seorang wanita. kelopak mata yang menyembunyikan manik abu-abu yang selalu memperlihatkan tatapan tajam, namun di saat tertentu berubah menjadi manik mata dengan pandangan teduh yang sarat akan Cinta. lalu alis tebal hitam yang tampak seperti pedang. tegas dan panjang. semuanya terbingkai dalam ketampanan yang sempurna.


Cintya baru benar-benar mengakui bahwa ia memiliki suami yang super tampan. apalagi dengan Cinta luar biasa yang di berikan pria itu, perhatian yang tak pernah ada habisnya, serta kesabaran yang tak perlu di ragukan lagi.

__ADS_1


Terbiasa dengan semua itu, bisakah Cintya merelakan Dewa pergi karena tak dapat maaf darinya. lalu memberi kesempatan pada para wanita di luar sana yang haus akan ketampanan dan kemapanan.


Tidak! Cintya tak akan rela. Dewa Herlambang hanya akan menjadi miliknya seorang.terlepas dari kesalahan yang pernah Dewa buat. bukankah mencintai seharusnya menerima seseorang berikut kesalahannya. yah mungkin benar, sepertinya memang seperti itu.


Perasaan gamang menghinggapi gadis yang saat ini sedang membuncit itu, apakah selama ini Dewa benar-benar mencintainya ataukah hanya rasa bersalah ataukah sebatas bentuk pertanggung jawaban saja. Cintya merasa harus mengujinya sekali lagi.


Tapi tidak! Cintya masih ingin menghukum Om-nya, om Dewa nya, si buaya cap cicak miliknya. yang kini telah menjadi suaminya. seseorang yang tak mampu berkata tidak di bawah permintaan nya yang bernada perintah.


"Sudah puas mandangnya?" Dewa bergumam.


Cintya tergagap, ah malu sekali harus terciduk seperti ini. apa lagi pagi-pagi begini.


"Kak,"


"Ya Cinta."


"Ada yang mau aku omongin."


"Tidurlah, masih terlalu pagi untuk membahasnya." tentu saja itu hanya pengalihan karena Dewa tahu dan sangat yakin apa yang akan Cintya katakan dengan kata 'omongin' itu.


"Apa kakak menyembunyikan sesuatu?"


***

__ADS_1


Duh garing banget yah, maaf tidak sesuai harapan. anggap saja hari ini aku libur dan up lagi besok. tapi tetap berikan dukungan, bukankah semua yang gratis itu sangat menyenangkan, termasuk jempol kalian. wkkk


Revisi **berta***hap*.


__ADS_2