Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Kelicikan Isabel.


__ADS_3

Happy Reading...


"Selamat pagi, Leo." Leo sama sekali tak menduga jika tamu yang di beri izin masuk tanpa janji itu adalah Isabel. seseorang yang berhasil membuatnya menjadi pria yang brengsrk dan ayah yang buruk.


"Ada keperluan yang membawamu hingga ke tempat ini" Leo menyandarkan punggungnya. kedua sikunya bertumpu di atas lengan kursi dengan kedua tangannya mengepal satu sama lain. memandang intens ke arah Isabel penuh pertanyaaan.


"Aku hanya kebetulan lewat," Isabel mengambil duduk di kursi di hadapan Leo tanpa di persilahkan. "lagipula, aku hanya ingin tahu tempat kerja calon suami Lilian." ujar gadis itu dengan mengedarakan pandangan, memindai seluruh isi ruangan.seolah dengan menelisiknya, ia mampu merekam apapun yang ada di ruangan itu.


"Aku tahu siapa dirimu Isabel, perilaku mu yang tak terduga itu sudah cukup membuatku mengenalmu tanpa bicara."


Dengan gaya sesantun mungkin, Leo menghadapi wanita licik di hadapannya. ia tahu kedatangan Isabel ke kantornya pasti ada tujuan tertentu. dan tentunya Leo tak pernah lupa jika ia adalah korban pertama dari wanita ini.


"Aku tersanjung sekali karena pria sepertimu sampai mengingatku, itu sungguh luar biasa." Isabel terkekeh dengan gaya yang sopan. siapapun yang tak mengetahui sifat aslinya tentu akan berpikiran bahwa ia adalah gadis yang anggun dan beretika.


"Jadi katakan apa yang kau inginkan, aku masih banyak pekerjaan. tentunya kau tak ingin aku mengacuhkan dirimu bukan?" sebuah pertanyaan bernada pengusiran yang sangat kental.


"Kau jujur sekali," Isabel tersenyum meski ia tahu jika Leo sedang mengusirnya secara halus. "dan juga sangat baik." Isabel berdiri dari duduknya dengan keanggunan yang tak si buat-buat. "dan sangat sayang sekali jika pria baik sepertimu terjebak dengan wanita yang, yah You know lah."


Leo yang tak bodoh tentunya mampu menangkap makna dari ucapan isabel yang tersirat makna provokasi.


"Jadi menurutmu, siapakah wanita baik yang sangat pantas untukku." tanya Leo dengan seluas senyum di sudut bibirnya.


Isabel yang bodoh terbalut dalam kepintaran untuk berpura-pura, tentunya akan sangat menarik jika harus bermain-main sebentar.

__ADS_1


"Aku rasa kau mampu melihat dan tak akan tertipu pandangan." Isabel menjeda ucapannya untuk melihat reaksi Leo terhadap ucapannya. "dan aku rasa, satu kesalahan tak akan menghapus semua kebaikan bukan?"


"Kesalahanmu yang mana? jika yang kau maksud adalah kau hampir mencelakai Cintya, maka yang berhak memutuskan adalah Dewa." Leo melihat pacaran kebahagiaan di mata Isabel. anggap saja Isabel telah masuk ke dalam jebakan yang coba ia tebarkan untuk Leo. bukankah begitu seharusnya untuk menghadapi musuh yang licik. masuk ke dalam perangkap, lalu menarik pengumpan masuk ke dalam jebakannya sendiri. sangat cerdas.


"Aku tahu, Dewa mungkin sudah tak menganggapku keluarga, tapi bukankah aku berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" seperti seekor rubah yang manis, Isabel memasang wajah paling imut yang membuat orang pasti akan terpesona oleh keindahan senyum dan tebaran pesona nya.


"Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, kau benar soal itu." Leo menaikkan sebelah alisnya. menebar senyum mencemooh dalam ekspresi datarnya. dasar ular.


"Jadi kau setuju untuk membantuku mendapatkan kesempatan kedua?"


"Tentu, selama aku mampu kenapa enggak?"


"Terima kasih leo, kau sungguh pria yang baik." ujarnya sumringah. tanpa sadar jika dirinya sudah terperosok terlalu dalam pada lubang yang akan menenggelamkannya.


Leo masih menunggu Isabel yang sepertinya sedang mengolah kata untuk memberikan jawaban. hingga senyuman terbit di bibir gadis itu. yang Leo lihat adalah senyum kemunafikan.


"Aku hanya ingin kau menimbang kembali keputusanmu untuk menikahi lilian." cukup mengejutkan, tapi Leo yang pintar sudah dapat menjangkau kemana arah pembicaraan Isabel. "Aku ingin kau mencoba membandingkan aku dengannya." Leo hanya terdiam menunggu ucapan Isabel selanjutnya. "aku tahu masa lalu kami juga sama buruknya, tetapi kau mungkin tak akan terbebani oleh anak yang mungkin akan membuatmu repot."


Leo mengepalkan tangan tanpa sepengetahuan Isabel. mungkin wanita itu berpikir bahwa Leo tak tahu muslihatnya. dan bodoh sekali jika ia menganggap bahwa Leo tak mengetahui tentang apa yang di lakukannya di masa lalu sehingga ia memiliki Delon dengan cara yang teramat sangat memalukan.


"Aku akan memikirkannya." Jawaban Leo menerbitkan senyum kemenangan di bibir isabel. "aku akan memikirkan cara untuk membalasmu." lanjutnya dalam hati.


*

__ADS_1


*


*


Selepas kepergian Isabel dari ruangannya, Leo menghabiskan dua jam waktunya untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum ia membuat janji untuk bertemu dengan Dewa.


Jika saja Leo adalah pribadi yang lebih suka meledak-ledak, mungkin Isabel tak akan keluar dari kantornya dalam keadaan utuh. minimal ia akan merasa malu karena di pandang seperti seorang wanita dari kalangan atas yang tak mampu membeli pakaian yang layak untuknya.


Isabel boleh tersenyum karena merasa menang saat ini, tapi percayalah jika selangkah lagi, tokoh antagonis dalam rumah tangga adiknya itu akan berakhir di tempat yang tepat.


Jika dulu Leo adalah pria apatis yang mampu menyakiti dengan kediamannya, maka saat ini, ia akan menjadi pria yang akan memandang sesuatu dengan keinginan untuk membahagiakan.


"Lo siapin rencana lainnya, rubah kecil itu sudah masuk dalam perangkapnya sendiri."


***


Hayooo leo ngomong sama siapa.


Isabel gak tau malu,,


Rencana apa yang di siapin Leo buat isabel.


Dewa otw praha apa ya kok gak muncul.

__ADS_1


__ADS_2