
Happy Reading....
Seketika ruangan menjadi gelap. tak ada secercah Cahaya yang tertangkap oleh Indra penglihatan. tak ada yang dapat di lakukan kecuali menunggu.
"Sialan!" Umpat Dewa mendapati kamarnya dalam keadaan gelap.
Cintya terkikik, namun dirinya juga lega, terselamatkan oleh mati lampu sebelum Dewa melanjutkan aksi jahilnya.
"Listriknya belum di bayar ya Om," Cibir Cintya kembali terkikik. namun suaranya terdengar aneh, seperti menahan sesuatu yang besar menghimpitnya.
"Heh, bocah lu kira hotel gue, hotel ecek-ecek apa?" Dewa mendengus seraya melangkah mencari keberadaan gawainya.
"Om!" Cintya menjerit, tangannya berusaha meraih Dewa yang meninggalkan nya.
"Apa sih?"
"Jangan pergi, please!" Suara Cintya bergetar. nyaris tak terdengar.
"Gue cuma mau telpon manajer."
"Jangan pergi, please," teriak Cintya lebih keras.
Jedarrr..
Seperti Dejavu, Dewa menyadari jika Cintya hendak menangis. kakinya terhenti untuk melangkah. tubuhnya berbalik, dari keremangan cahaya yang terpantul dari atas langit, Dewa melihat Cintya duduk setengah meringkuk dan gemetaran.
"Cil, lu kenapa?" Dewa kembali mendekat.
"Kak," Cintya seperti kehilangan dirinya, membuat Dewa menatap heran.
"Kak, Tya takut.;" lirihnya masih dengan meringkuk.
"Cil, lu kenapa?" Dewa meraih Cintya, membantu gadis itu membenarkan letak duduknya.
__ADS_1
Dewa berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Cintya yang berjongkok di atas sofa.
"Om, hidupkan lampunya, please." pinta Cintya, terdengar sekali bahwa gadis itu tengah ketakutan.
"Cil, lu kenapa?" Dewa sedikit membentak. pria itu ingat pernah berada di situasi seperti ini.
"Om," Cintya berjingkit, mendengar Dewa membentaknya.
"Iya ini gue, lu kenapa?" Dewa makin heran.
"Om, bawa Tya keluar dari sini sekarang, Tya takut om" pecah sudah, tangis yang sejak tadi di tahan akhirnya tumpah ruah.
Dewa semakin bingung di buatnya. bukankah tadinya Cintya baik-baik saja, dan masih sempat meledeknya. kenapa sekarang justru dia bertingkah seperti ini.
"Gak bisa, cil! lihat keadaan kita. orang pasti berfikir kita habis ***-*** tapi gak mampu bayar kamar terus kita di usir." kenapa kata-kata candaan justru terlontar di saat yang tidak tepat.
"Cintya takut gelap!"
Oh ya Tuhan, ternyata itu permasalahanya. inginnya Dewa tertawa tapi melihat keadaan gadis itu ketakutan, Dewa memilih mengulum senyum.
Plak!
Lampu kembali menyala, bersamaan dengan sebuah tabokan yang mengarah ke lengan kekar Dewa.
"Om mau modus ya?" tanya gadis itu garang. sama sekali tak cocok dengan keadaan beberapa menit yang lalu.
"Lu itu kenapa sih, heran gue?" Dewa berdiri dan menjatuhkan dirinya di samping Cintya.
"Aku?" tudingnya pada dirinya sendiri.
"Iya elu, emang di kamar ini ada siapa lagi selain Elu?"
"Cintya gak pa pa kok, cuma sedikit gak suka tempat gelap?" gadis itu nyengir garing.
__ADS_1
"Kok aneh, bukannya elu suka nongkrong di sirkuit?"
"Ya bedalah, kan di sirkuit gak tiba-tiba gelap kayak tadi, ada bulan juga yang menerangi. gak serem kayak tadi."
"Jangan bilang lu phobia?"
"Gak tau, cuma Cintya takut aja kalo tiba-tiba mati lampu.?"
"Kalo lu sendirian gimana?"
"Cintya kan gak pernah sendirian, ada kak Leo, Ibu, kakek, sama bibi meid di rumah."
"Waktu itu Lu di Bali kok gak takut?"
"Ya kan gak mati lampu waktu itu," Cintya berdecak. pertanyaan Dewa sungguh konyol.
"Kalau pas mati gimana?" pertanyaan bodoh kembali terlontar.
"Cintya selalu bawa lampu kecil kemana-mana." Dewa manggut-manggut saja mengerti.
"Pulang yuk Om, sudah sore ini," Cintya beranjak dari sofa dam menuju ke kamar mandi hendak mengganti pakaian, tapi dia lupa jika kemeja yang dipakai nya tinggal separuh.
Dewa tak menyahut, sepertinya ia tengah mengingat sesuatu.
"Sejak kapan lu takut gelap," Dewa tak menanggapi gerutuan Cintya Cintya tentang kemejanya yang sudah tak terbentuk. justru mengorek keterangan.
"Sejak kecil, kenapa?"
"Apa lu pernah terjebak dalam ruang gelap?" tanya Dewa lagi.
"Iya pernah, kenapa?" Di pandangnya lekat-lekat gadis yang tengah memilih baju di dalam lemari.
Dewa tersenyum. berjalan perlahan dan mendekati gadisnya, lalu dengan tangan kekarnya Dewa memeluk Cintya dari belakang.
__ADS_1
Akhirnya elo kembali. Dewa memeluk makin erat. membuat Cintya kaget. sekaligus risih.
"Habis dari sini kita nikah yuk?"