Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Definisi Cinta ala Dewa 2 (Revisi)


__ADS_3

Happy Reading..


Dewa menelan salivanya susah payah. baru menyadari jika dirinya masuk ke dalam jebakan gadis cantik bermulut mungil namun eblas,


"Hal terakhir yang akan terjadi adalah, pewaris tunggal kerajaan Herlambang Auto akan jatuh miskin tinggal tampang doang yang tampan, kagak laku di jual." Dengan Santainya Cintya berkata. Dewa kembali dalam mode kalah omong.


"Bociiiil! tega bener lu ma gue," Dewa geram.


"Gue bikin beneran nih bocah," Dewa memeluk Cintya makin erat, mengendus leher jenjang nan putih dan menggelitik tanpa ampun.


"Ampun... Om, udah geli," ucapnya manja.


"Lagian elu lemes banget ngomongnya,"


"Itu cuma solusi Om, kata Cintya juga apa, mending cerita deh daripada jadi miskin. nikah miskin batal pun tetep miskin," Cintya nyengir dengan ide cemerlangnya.


"Kok gue ngerasa jadi gue yang paling menderita di sini,"


"Gimana...gimana..." Cintya menirukan ucapan Dewa beberapa saat lalu.


Dewa membuang nafas kasar hingga kedua bahunya terlihat menurun. sepertinya tak mudah untuk membujuk gadis imut yang masih anteng bersandar di dadanya.


"Oke, gue nyerah, gue bakal cerita sama elu."


"Nah gitu dong," Cintya tersenyum lebar atas kemenangannya.


"Elu mau gue ceritain yang mana?" Dewa menunduk menyelaraskan wajahnya dengan wajah gadis yang sedang mendongak menatapnya.


"Kenapa Om gak mau memenuhi syarat dari kak Leo."

__ADS_1


"Tapi sebelumnya gue minta jangan marah sama gue, apapun yang gue katakan elu harus percaya." Cintya mengangguk setuju.


"Di kisahkan dua orang saha,,,"


"Drama deh,"


Cup!


Dewa mencuri satu kecupan tepat di bibir mungil kekasih yang belum ia klaim kepemilikannya.


Cintya terdiam, tak percaya dengan apa yang terjadi sebelum akhirnya ia tersadar dan mencubit paha berotot yang membuat empunya meringis.


"Mubadzir di anggurin" Dewa nyengir.


"Cepetan!" Bentak gadis itu geram.


"KDRT Mulu nih bocah" Cintya mendelik.


"Kita mulai, jangan protes." Cintya mengangguk bersiap mendengarkan, duduk manis, masih di atas pangkuan Dewa.


"Di kisahkan dua orang , eh bukan tiga. ralat." Cintya hampir protes, cepat-cepat Dewa meliriknya memberikan isyarat diam.


"Di kisahkan tiga orang anak manusia, yang menjalin persahabatan dengan sangat erat. satu perempuan cantik dan dua pria tampan."


Cintya tersenyum miring, cerita Dewa di penuhi dengan kenarsisan.


"Gadis cantik itu terlibat perasan dengan salah satu di antara kedua laki-laki tersebut. namun karena kesalah fahaman, terjadilah pertengkaran yang membuat persahabatan mereka terpecah."


"Gue sama kakak elu adalah salah satu dari dua pria itu," Cintya spontan menoleh.

__ADS_1


"Persahabatan yang terpecah karena cinta sepihak. kakak elu ngira gue nikung dia, mencuri gadis yang mencintainya." Dewa menatap tajam namun dengan pandangan teduh, sorot matanya mengisyaratkan penyesalan.


Cintya menelan Salivanya dengan susah payah, inginnya dia tak percaya namun raut wajah Dewa tak menampilkan kebohongan sedikit pun.


"Sekali lagi gue minta, jangan memaksakan cinta dari gue, karena gue bakal kasih lebih dari yang namanya cinta."


"I'm promise." terbesit lengkungan samar di wajah tampan Dewa. membuat Cintya merasa di awang-awang.


Cinta adalah definisi tertinggi dari sebuah rasa, namun Dewa si pria mesum minim akhlak menjanjikan lebih dari sekedar kata Cinta.


Seketika dunia Cintya menjadi berwarna. ada rasa yang tak biasa yang merambati hati gadis yang masih setengah telanjang itu.


Rasa haru dan bahagia, dan di spesialkan. Dewa menempatkannya di atas singgasana tertinggi dalam hatinya.


"Om,"


"Jangan pergi jauh dari gue cil, gue belum bisa kehilangan untuk yang kedua kali."


"Tapi jika suatu saat ada seseorang yang mampu ngasih lebih dari yang gue miliki dan kasih ke elu, gue bakal lepas elu. tapi gue juga gak bisa janji untuk itu.


"Dan untuk Leo, gue gak akan peduli apapun syarat yang dia kasih ke gue, sebelum dia sendiri yang mewujudkan syarat itu. dia harus bertanggung jawab atas perasaan seseorang yang udah dia bikin kecewa.


Glek!


Cintya menelan ludah, pertama kalinya dia melihat Dewa seserius ini dalam berkata.


***


Jejak...jejak.. jejak...

__ADS_1


__ADS_2