Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Pernyataan cinta yang gagal.


__ADS_3

Happy Reading...


Bila kasih tiada mempan biarlah Cinta menjadi diriku.


***


Ting!


Pintu lift terbuka, Dewa berjalan gontai menuju unit apartemen nya. waktu sudah mulai larut saat ia pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya. lembur bersama sang Asisten durjana


Dewa masuk ke Apartemennya, tanpa menoleh ke kanan maupun kiri. tubuhnya sagat lelah dan gerah. pekerjaan hari ini cukup menguras tenaganya.


Bayangan nikmatnya kasur yang memanjakan tubuh besarnya dari rasa lelah membuat Dewa langsung ke kamar mandi setelah kakinya sampai di dalam kamar.


Dewa tertawa ringan di bawah shower yang sedang mengalirkan air dari ujung rambut hingga ujung kakinya, saat mengingat gerutuan asisten pribadi nya.


"Sejak kenal si Nonik, lu lebih sering mangkir dari kerjaan elu. bikin gue repot aja. tau gak lu bos."


"Emangnya gue bayar elu buat apaan kalo bukan untuk kerja."


Dewa terkekeh mengingat kekesalan Alex karena kelakuannya hingga ia menyelesaikan acara mandinya.


Hidup Dewa kini lebih teratur sejak ia mengetahui, jika yang menjadi calon istrinya adalah gadis yang sejak kepulangannya dari Bali membuatnya tersenyum sendiri.


Sekian waktu ia menolak jika ada yang mengatakan cinta atau mengatakan bahwa ia telah jatuh cinta. karena tak ada yang bisa membuat hatinya bergetar kecuali gadis berseragam putih abu-abu dengan wajah jutek namun bersenyum bagai bidadari.


Waktu telah membantunya melupakan sang pemilik wajah gadis berseragam putih abu-abu yang dulu sempat ingin Dewa miliki.


Kini Dewa melihatnya sekali lagi. dan lagi-lagi ia tak ingin jatuh cinta pada tempat yang salah.


Dewa mengambil celana pendek bahan dan kaos putih polos sebagai kostum tidurnya. lalu ia mematut dirinya di depan kaca besar, memperhatikannya wajahnya yang terpantul lewat cermin.


Dewa mengusap-usap rahangnya yang di tumbuhi bulu-bulu halus. dalam hatinya ia memuji diri sendiri bahwa ia memang sangat tampan.

__ADS_1


Dewa tersenyum narsis.


Untuk beberapa menit Dewa masih berada di depan cermin besar yang memantulkan seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, sebelum akhirnya ia beranjak naik ke aras ranjang untuk mengistirahatkan raga dan otaknya yang hanya di penuhi oleh pekerjaan dan juga gadis kecil yang ternyata adalah gadis yang sama dengan gadis berseragam putih abu-abu.


Kurang lebih enam tahun yang lalu,


Di sebuah kafe kecil di dekat sebuah sekolah yang juga pernah menjadi tempatnya menimba ilmu.


Dewa dengan pakaian serba hitam serta topi hitam yang membuat persembunyiannya sempurna duduk di meja paling belakang dalam sebuah kafe.


Hal itu ia lakukan bukan tanpa alasan. namun karena ia begitu penasaran dengan gadis yang ia lihat beberapa hari yang lalu.


Setelah beberapa menit Dewa duduk sendirian tanpa melepaskan ponsel di tangannya hanya untuk membuang kebosanan dengan mengotak atiknya asal.


Lalu datanglah tiga orang gadis berseragam putih abu-abu, dan salah satunya adalah gadis yang sedang ia tunggu.


Lalu ketiganya duduk di meja tepat di samping meja yang di tempati oleh Dewa. dengan posisi Dewa dan Cintya duduk saling membelakangi. namun posisinya sangat mudah untuk mencuri foto gadis itu diam-diam.


Dewa masih menyimak, memasang pendengaran dengan sangat baik agar tidak ada yang terlewat sedikitpun.


"Gue tahu, dia juga udah bilang." jawab Cintya waktu itu.


"Terus apa jawaban elo?" tanya gadis yang lainnya yang juga duduk bersamanya.


"Gue akan tolak siapapun yang datang menyatakan cinta ke gue secara langsung beserta alasannya." ucap gadis itu lantang.


Dada Dewa mencelos, tak di sangka hal yang ingin ia lakukan ternyata mendengar sebuah penolakan sebelum ia memulainya.


"Kenapa?" tanya mereka berdua kompak.


"Karena gue hanya menginginkan dia yang datang dan mengatakan cinta.


"Siapa? kakak ajaib elo itu" Cintya mengangguk sebagai jawaban. dan Dewa tak mengatakan apapun lagi. namun Dewa sudah mampu mengartikan semuanya. dirinya yakin bahwa ia pun tak akan memiliki kesempatan.

__ADS_1


Meski kakinya sangat ingin ia pergi dari sana, namun hatinya bersikeras untuk tetap menunggu. hingga akhirnya mereka bertiga pergi dan meninggalkan sebuah perasaan kecewa di hati Dewa.


Lalu pandangan Dewa tertumbuk pada benda kecil di kolong meja. lalu ia mengambilnya. sebagai akhirnya ia menyimpan penjepit rambut itu. dan akan ia simpan sebagai pengganti empunya.


"Tak memiliki pemiliknya pun tak apa, yang penting aku memiliki benda yang pernah menjadi miliknya.


Bika kasih tiada mempan biarlah Cinta menjadi diriku.


Sejak saat itulah Dewa menolak kehadiran ataupun terlibat perasaan dengan siapapun. karena ia pernah merasa sakit di awal sebelum ia menyatakannya.


Lalu lahirlah seorang Casanova dengan hati tanpa perasaan cinta.


Dewa masih berkubang dalam ingatan masa lalunya saat bel apartemennya terdengar. lalu dengan netra sedikit mengantuk ia menyibak kembali selimut yang telah menutup sebagian tubuhnya.


Dewa keluar dari dalam


kamar untuk melihat siapa tamu yang datang. dan baru saja ia membuka sedikit pintu apartemen dan belum melihat jelas siapa tamu yang datang.


Bugh!


Satu pasang tangan mendorongnya dan membuatnya terhuyung ke belakang. hingga terjatuh ke atas sofa.


Dewa mematung melihat siapa yang datang ke apartemen nya. karena tak biasanya ia bertamu ke tempat Dewa apalagi malam-malam seperti ini.


***


***Gantung thooor????


Siapa kemarin minta flashback nya Dewa dan kenapa Dewa tak mau jatuh cinta? karena Dewa sudah mendapatkan penolakan sebelum pernyataan. wkkk ...


ritualnya gess


Up lagi siang, tapi gak janji takut lupa 😁***

__ADS_1


__ADS_2