Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Rencana untuk Isabel.


__ADS_3

Happy Reading...


"Pergilah, jinakkan singamu, pasti sebentar lagi dia akan berteriak." melepaskan punggung menantunya, Diana menggiring Dewa menuju pintu.


"Kakaaaak!!!"


"Kau dengar." Diana terkekeh di ikuti gelengan kepala oleh Dewa.


Dewa tak langsung menghampiri sumber suara, di sana ia melihat Leo menghampiri Cintya yang masih mengenakan pakaian yang sama dengan wajah nya bertekuk.


"Berisik, pa an sih dek," Leo yang baru kembali dari jogging mendekat. sebuah aktifitas harian yang tak pernah Leo lewatkan di antara kesibukannya.


"Kok sepi, pada kemana?"


Tak biasanya Cintya tak mendapati ibunya berkutat di ruang makan. biasanya di jam sarapan seperti ini ibunya tak pernah abai untuk mengurus segala kebutuhan perut.


"Lu nyari siapa? kalo la_" Leo tak melanjutkan ucapannya setelah mendapati kode dari Dewa yang bersembunyi di balik tembok penghubung antara ujung tangga dan ruang makan.


"Om kema_ ngapain sih tuh orang masih di sini, sebel deh" lidah Cintya hampir tergigit lantaran membelokkan ucapannya sendiri. malu dong sedang mencari orang yang baru saja ia bilang benci.


"Laki lo kawin lagi." ujar Leo menarik diri ke dalam, menuju dapur untuk mengambil air.


"Issh.."


Dewa berjalan mendekat, wajah yang bertekuk itu terlihat sangat menggemaskan. sudah segila itu memang, perasaan Dewa sudah tak tertolong lagi.


"Sini," mengulurkan tangan bermaksud memanggil Cintya yang masih memasang wajah cemberut. "ayo sini," Cintya mendekat dengan ogah-ogahan. "peluk." Dewa merentangkan kedua tangannya menyambut Cintya yang meringsek menabrak dadanya.


"Kok belum balik?" inilah yang terjadi jika perbuatan tak sejalan dengan ucapan. mulutnya mengusir tapi kedua tangannya mengalungi fi leher kokoh Dewa, memeluk dengan posesif.


"Jadi, balik aja nih?" meskipun terbilang tidak pendek, namun tubuh Cintya yang hanya setinggi dagu Dewa membuat pria itu dengan mudah menumpukan dagunya di ujung kepala Cintya dan melabuhkan ciuman-ciuman lembut di sana. menghirup aroma wani yang menenangkan. "Sayang kamu pake banget."

__ADS_1


"Kok belum balik?" tanya Cintya lagi. tanpa melepaskan tautan tangannya yang kini berpindah melingkari pinggang berotot itu, gadis yang katanya sedang marah itu semakin mengeratkan pelukannya.


"Kamu maunya kakak pulang gitu?"


Enggak!!


"Iya, Tya benci sama Om."


Dewa terkekeh. apa begini yang di sebut benci? menempel seperti cicak tanpa bisa membuat Dewa bergerak. istrinya itu. benar-benar luar biasa. membuat Dewa terombang-ambing dalam kurun waktu yang hanya sekejap.


"Kalau begitu lepas ini dulu," Dewa menjauhkan wajah demi melihat Cintya yang terlihat sangat nyaman bersandar di dadanya.


"Gak mau!" serunya manja.


"Katanya tadi benci kan?" Cintya mengangguk, "mau kakak pergi kan?" Cintya menggeleng, "Terus mau apa sayang?" Dewa tersenyum lebar mana kala melihat cintya yang semakin cemberut minta di manja. di kecupnya pelipis Cintya berkali-kali untuk membuat bibir yang mengerucut itu kembali tersenyum.


Dan, yah tepat sekali, tak menunggu lama, Cintya kembali meringsek ke dalam pelukan Dewa dengan sangat manja. "Pokoknya Cintya benci sama Om."


"Iya tau, benar-benar Cinta kan?"


Dewa membalas pelukan Cintya dengan tak kalah erat.


Tuhan, jika aku di beri kesempatan untuk menjadi orang baik, maka satu yang aku pinta terlebih dulu, jangan pisahkan aku dengan wanita yang saat ini sedang berada dalam pelukku. dalam satu hentakan, Dewa membawa Cintya dalam gendongannya untuk kembali naik ke atas menuju kamarnya. "Belum mandi kan?"


"Sekarang apa rencana lo?" Dewa dan Leo duduk bersantai di sebuah gazebo yang berada di taman belakang dan menghadap langsung kolam renang.


Hari minggu, waktu yang paling tepat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. dan selam lebih dari satu minggu lamanya Dewa tinggal di rumah keluarga Mahendra. mengabaikan permintaan mamanya yang meminta Dewa untuk membawa Cintya kembali ke rumah besar keluarga Herlambang. terlepas dari rasa jengah nya melihat Isabel, Dewa sangat menjaga keselamatan Cintya. apalagi setelah Alex berhasil menemukan bukti bahwa Isabel turut andil dalam pengiriman surat kaleng beberapa waktu lalu. dan tentunya ia tidak sendiri. ada orang lain ya g merupakan bagian dari masa lalu Dewa yabg memberikan informasi kepada isabel. yang tak lain dan tak. bukan adalah Nathan. saingan Dewa dari jaman dulu hingga sekarang.


"Nathan biar jadi urusan Alex sama Zack. mereka sudah menemukan titik lemah si brengsek itu." Dewa menyesap minuman bersoda yang tersedia untuk menemani waktu santai mereka.


Sebagai mantan sahabat yang beralih status menjadi ipar, Dewa dan Leo adalah dua sosok pria dewasa yang tak perlu di pertanyakan lagi pesonanya. sepak terjangnya dalam dunia bisnis tak ada yang tak kenal dengan mereka. Dewa dengan tangan dinginnya yang mampu mengobrak-abrik lawan bisnisnya dalam persaingan bisnis properti dan perhotelan serta Leo sebagai kontraktor yang selalu sukses dalam tendernya. dan jika mereka di sandingkan, merekalah sang penguasa dalam bidangnya.

__ADS_1


"Lalu, Isabel gimana?" jika mereka berdua sedang membicarakan wanita itu, maka topik yang palung pas untuk di bicarakan adalah Dendam. dua pria yang memiliki dendam yang sama pada satu wanita yang sialanya masih terikat tali persaudaraan.


"Entahlah, gue belom tau mau gue apain dia, gue masih mandang mama." Dewa mengedik, bisa saja ia menghajar Isabel jika ia adalah lelaki, namun sayangnya Isabel adalah wanita yang juga sama lemahnya dengan Mama dan juga istrinya.


Perbincangan santai mereka berdua yang di temani semilir angin dari lambaian pohon kamboja yang berada di sisi Gazebo menghanyutkan waktu, hingga sang surya mulai merangkak naik, menebarkan kasih sayangnya secara luar pada hamparan makhluk hidup di bumi.


Dari arah belakang mereka Cintya berjalan pelan. satu tangannya membawa semangkuk salad buah dan tangan lainnya mengudap perutnya yang mulai membesar. wanita muda itu tampak cantik dengan balutan baju hamil berwarna putih pendek.


Dewa tersenyum lembut saat Cintya sudah semakin dekat dengan tempatnya duduk dan mengulurkan sebelah tangannya menyambut sang istria yang sudah terlihat kepayahan saat bejalan. dan tanpa meminta persetujuan, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas pangkuan Dewa. duduk dengan nyaman sambil bersandar dan menikmati salad buah yang ia bawa.


Dewa melingkarkan tangannya, memeluk perut buncit itu dan mengusapnya dengan sayang. menggantikan tangan Cintya yang sedang menikmati memakan salad buahnya. sedangkan bibirnya tanpa canggung ataupun sungkan membubuhkan kecupan-kecupan kecil di atas bahu Cintya.


"Kakak mau?" Cintya menyodorkan sesendok potongan buah itu di depan mulut Dewa yang di sambut dengan sedikit malas. meski begitu ia tak mampu menolak. jangan lupakan tentang fakta bahwa Dewa tak begitu menyukai susu, karena demi perdamaian, pria itu tak akan menolaknya. jika tidak, mungkin perang dunia ketiga akan terjadi.


Dewa menyeka lelehan susu di sudut bibir Cintya dengan ibu jarinya, lalu menijilatnya tanpa ragu, "manis."


Leo mencebik, muak melihat kelakuan adik dan iparnya. lebih tepatnya leo, iri. yap, benar sekali, Lro hanya iri karena sang dokter spesialis anak yang ia lamar masih meminta waktu. begitulah Leo dengan penderitaan nya. sangat kasihan.


"Gue cabut gedek gue liat kalian." bukannya merasa bersalah, Dewa hanya nyengir lebih tepatnya tertawa mengejek.


"Lo cuma iri bang." Dewa tergelak "Aww,, apa sih sayang." Dewa meri gis mendapat cubitan maut di pinggangnya.


"Kak,"


"Hmm."


"Aku tau deh gimana caranya balas Isabel." Cintya masih menikmati salad buahnya sedangkan Dewa masih seru dengan usapan-usapan lembut di perut Cintya yang di sambut dengan tendangan kecil oleh dua makhluk mungil yang bersarang g dalam perut Cintya.


"Gimana caranya?" Dewa menghentikan usapannya dan kini beralih merambat semakin ke bawah menuju."Aww,," tabokan kedua berhasil Cintya layangkan atas keisengan tangan Dewa.


"Nikahkan saja dengan Si Letoy."

__ADS_1


"Whaaaaaat!"


Gimana... gimana...


__ADS_2