
Happy Reading...
Musim hujan di awal Desember, menjadi saksi bagaimana seorang Dewa merengkuh dunia. Dunia yang sempat terburai karena keegoisan dan ambisi.
Di penghujung tahun inilah ia menemukan kembali kebahagiaan yang sempat tercecer. masa kanak-kanak yang terabaikan dan masa remaja yang terlupakan. hingga kedewasaan yang berbelok. dan semua itu hanya akan menjadi masa lalu. masa lalu yang tak perlu di ingat namun juga tak boleh dilupakan
Memiliki pendamping hidup yang di impikan, meski dia adalah sosok yang paling sering membuatnya mengusap dada, namun di saat yang bersamaan ia adalah sosok yang membuatnya mampu menjadi dirinya seperti awal. sosok yang mampu membolak balikkan dunia sekaligus menyatukanya kembali. dan yang sebentar lagi mengenalkannya pada dunia baru. dunia sebagai orang tua.
Di tatapnya wajah yang terlelap di samping nya itu, terlihat begitu imut namun terlihat menyeramkan di saat tertentu.
Seperti sesaat lalu sebelum wajah cantik itu tertidur dengan nyaman nya.
"Kakak, mau durian." ujarnya merengek.
"Gak boleh, Durian tidak bagus buat kamu sama Twins." alasan klise dan tak masuk akal.
Sebenarnya itu hanya akal-akalan Dewa saja agar Cintya tak terus-terusan merengek meminta buah Durian yang aromanya membuat Dewa kliyengan dan hampir pingsan.
Bahkan Dewa sendiri pun sebenarnya tak pernah tahu hubungan antara durian dan kehamilan. ia hanya asal menjawab saja. dan untungnya Cintya percaya.
"Tapi aku mau," Oh mata itu, Dewa tak akan bisa melihatnya tergenang.
"Sayang, buahnya di ganti cake atau ice cream saja ya? yang penting aroma dan rasanya tetap sama, iya kan?" bujuk Dewa. dan harus berhasil.
"Mana bisa sama, justru makanan itu yang tidak bagus dan tidak alami." Protesnya ketus, dan ya memang itu benar adanya.
Dewa membuang yang alami dan menyodorkan yang buatan. demi apa coba, jika bukan karena ia takut dengan akibat yang di timbulkan oleh aroma durian.
Dan akhirnya dengan segala bujuk rayu, Cintya bersedia mengganti keinginannya. meskipun begitu, aroma durian dalam ice cream yang Cintya makan tetap menimbulkan rasa mual.
Dan seperti hari-hari yang lainnya, malam itu Dewa melewati malamnya dalam keadaan perut kosong. merasa lapar tapi takut untuk memakannya. dan yang terjadi selanjutnya adalah ia hanya mengkonsumsi makanan ringan untuk mengganjal perutnya.
*
*
*
*
Sang surya telah beranjak naik dengan gagah nya, sengatan hangat yang menyapa kulit memaksa kedua mata Dewa untuk terbuka. belum juga ia sempurna membuka mata, rasa mual sudah menyambutnya.
Dewa secepatnya berlari ke dalam toilet. seperti biasa, tak ada yang apapun yang ia muntahkan kecuali cairan bening yang terasa pahit.
Huek..Huek..
Beberapa saat lamanya ia masih membungkuk di depan wastafel, hingga Dewa merasakan pijatan lembut di leher belakangnya. membuatnya sangat nyaman. setidaknya sedikit meredakan mual yang ia rasakan.
"Sudah?" suara lembut di belakangnya berhasil menerbitkan lengkungan di bibir Dewa.
__ADS_1
"Dari mana?"
Dengan bertelanjang kaki, Dewa melangkah kembali ke dalam kamar. duduk bersandar di sofa, hanya untuk membuat nyaman perutnya sebelum ia memulai ritual mandi yang jelas akan membuatnya kembali muntah.
"Dari dapur, aku sudah buat jahe hangat. kata ibu, air jahe bisa menekan rasa mual. kakak minum ya setelah itu mandi."
"Kalau kakak mau minum yang lain boleh gak?"
"Mau apa?"
"Susu." jawab Dewa cepat.
Cintya mengernyit heran, itu karena ia tahu jika Dewa sangat tidak menyukai susu. terlalu kekanakan menurutnya.
"Yakin mau susu?" Dewa mengangguk.
"Gak akan muntah?" Dewa mengedik, pertanda ia juga tak yakin soal itu.
"Biar aku minta mbak ijah bikin dulu sebentar." pamitnya sebelum Dewa menahan Cintya di atas pangkuannya.
"Kakak mau Susu rasa Cinta."
Tak perlu bertanya lagi, Cintya cukup mengerti dengan apa yang di maksud suaminya. dan mulai pagi itu Dewa menemukan cara yang tepat untuk mengurangi siksaan morning sicknes.
Tapi nyatanya, semua itu hanya berlaku selama beberapa menit saja. karena rasa mual itu kembali menyerang setiap kali Cintya menyelesaikan makannya.
"Kak, hari ini di rumah saja ya biar pak Ken yang menghandle pekerjaan." pinta Cintya. tangannya bergelayut ke lengan kokoh Dewa yang sedikit mengendur.
Jika hanya mempertimbangkan rasa mual lantas ia tidak pergi ke kantor dan mengabaikan tanggung jawabnya, maka itu bukan Dewa orangnya. tentu saja ia tak akan melakukan itu. ia hanya mual tak akan membuatnya mati. dan yang pasti Alex akan sedikit kesusahan.
Tak apa yang penting bonus besar menanti sang asisten di akhir tahun.
"Gak bisa cinta, ini akhir tahun. banyak pekerjaan yang harus di selesai kan. dan Alex juga sangat sibuk pastinya."
"Tapi kamu pucet gini" keduanya masuk ke dalam mobil yang parfumnya telah berganti dengan aroma pinus.
Anggap saja Dewa sedang berada di tengah hutan.
Hari ini, Cintya tak ingin pergi ke kantor. ia ingin melewatkan sehari bersama kakek. dan itu di manfaatkan Dewa untuk memenuhi keinginannya yang selama beberapa hari ini ia tahan karena Cintya mengeluh tak ingin melihat atau mencium aromanya.
Sebelum Dewa melajukan mobilnya menuju tempatnya bekerja, pria jangkung dengan setelan serba hitam itu terlebih dahulu mampir ke sebuah swalayan. membeli sesuatu yang bisa di jadikan untuk mengganjal perut.
Pagi itu, Dewa sengaja berangkat lebih siang dari biasanya. dan itu akan ia lakukan selama beberapa bulan ke depan. bukan karena malas, tapi ia memilih melakukan itu untuk menghindari kerumunan atau lalu lalang dari para pegawainya. dan itu cukup berhasil. setidaknya rasa mualnya tak berulah.
"Lex, ke ruang gue sekarang." titah Dewa lewat sambungan telpon.
"Ada yang bisa gue lakukan pagi ini pak mil?" ujarnya meledek. tentu saja Alex sudah bisa menebak akan perintah sang bos setiap pagi.
Melakukan penyemprotan ruang secara menyeluruh dengan pengharum ruangan beraroma pinus. dan di lakukan setiap tiga jam sekali.
__ADS_1
"Lo udah ganti parfum kan?" Jawaban sekaligus pertanyaan dari Dewa.
Alex menghembuskan nafas kasar. hingga kedua bahunya tampak menurun.
"Sudah, Gue berasa jadi tarzan tau gak lo." umpatnya kesal.
Bagaimana tidak, jika Alex harus suka rela mengganti parfum kesayangannya menjadi parfum beraroma kayu.
"Sebentar doang Lex, lagian itu parfum gue yang beli. lo tinggal pake doang gak pake bayar. kapan lagi lu dapet parfum mahal gratisan."
Ini penghinaan bukan sih? Alex semakin sebal.
"Oke, mau apa lagi lo sekarang." itu pertanyaan apa bentakan. tapi itu sudah terdengar biasa saja di telinga Dewa.
"Gue lapar, cariin gue makan."
"Emang bini lo gak ngasih lo makan?"
"Dia yang makan tapi gue yang mual. tapi kalo gue yang mau makan dia mual duluan. mana tega gue makan sementara dia muntah-muntah."
Alex terkekeh geli. "segitunya yang jadi calon papi"
"Berisik lo, udah sono lo cariin gue makan."
"Gak salah, kalo si nyonya muntah gimana?"
"Nyonya gak ikut, lagi ke rumah ibu dia. makanya gue mau makan. gue laper dari semalem cuma ngemil doang."
"Duh kasihan banget sih lo, oke mau makan apa?"
"Cariin gue nasi goreng putih."
"Whaaat???" Alex terbelalak. "dimana kesultanan elo. selera anak lo kampungan." pecah tawa Alex seketika itu.
"Terserah lo bilang apa, yang penting gue mau makan sekarang. dan cepetan cari. lagian ini adalah siksaan yang indah. lo gak akan bisa ngerti yang gue alami."
Alex masih tak bergerak, kini matanya tertuju pada sebuah plastik putih berlogo sebuah mini market di di atas meja kerja Dewa. "itu apaan isinya bos?"
"Kali lo mau ambil aja."
Dengan dorongan keinginan tahuan yang terlampau besar, Alex membuka plastik berwarna putih. dan seketika itu tawanya meledak semakin keras. membuat Dewa mendelik tajam.
"Jadi ini makanan favorit elo? marning jagung?"
Tawa Alex yang keras berhasil menerbitkan tangan Dewa untuk melemparnya dengan kalender meja.
"Kurang ajar!"
***
__ADS_1
Apa ada yang pernah ngalami selama hamil hanya makanan seperti itu yang tak membuat mual?