
Happy Reading....
Ada Lucia di bawah!"
Dewa tersentak, begitu pula Cintya yang langsung menatap horor ke arah Dewa.
Dengan susah payah Dewa menelan ludah, dia bahkan tak berani bertanya pada Alex apakah yang datang Lucia yang asli atau Lucia hasil settingan Alex
"Suruh masuk, gue mau pengen liat yang katanya sebelas dua belas sama gue. yang katanya pesonanya tak terkalahkan." ucapannya di tujukan pada Alex namun tatapannya tetap ke arah Dewa. semakin sulit saja Dewa menelan ludah. bahkan sekarang Dewa hampir sesak napas.
"Oh Tuhan, Help Me," mohonnya dalam Hati.
***
Cintya telah siap dengan kilatan amarah di matanya. betapa Dewa sangat berharap saat itu ada kejadian mati lampu agar Cintya histeris dan memintanya untuk membawa dirinya keluar dari kantor. atau terjadi insiden kucing yang sedang bertengkar, agar Dewa memiliki alasan untuk keluar sebentar dari ruangannya.
Oh tidak, bukankah dengan adanya kucing yang berkelahi merupakan sebuah firasat akan terjadinya pertengkaran. bodohnya Dewa berharap seperti itu. bukankah itu artinya dirinya sedang berada dalam bahaya. ancaman setrap ibu negara menanti. dan hukumannya pasti mengerikan. Dewa meringis dalam hati.
"Kenapa masih bengong? Pak Alex pendengaran Anda masih berfungsi bukan?" Lihatlah siapa yang bertindak sebagai penguasa sekarang.
Alex masih terdiam, menanti kode dari Dewa, apa yang harus di lakukan selanjutnya.
"Segera saya akan memerintahkan Resepsionis untuk mengantarkan nona Lucia ke ruangan Anda." Alex membungkuk hormat. menyembunyikan senyum melihat atasannya seperti patung bernyawa.
"Sudah ya cinta, biar Alex yang urus "
Dewa mencoba untuk membuat Cintya mengurungkan niatnya. hukuman pergi ke Afrika baru terbebas karena alasan banyak meeting yang harus di hadiri, meski ia masih harus memesan batu berwarna hijau itu langsung dari negara asalnya.
"Kenapa takut? Cintya cuma ingin liat bagaimana Lucia kang seblak yang katanya sebelas dua belas dengan Cintya, secantik apa dia, pesona apa yang dimilikinya sehingga tunangan Cintya yang tampan rupawan bak Dewa Yunani dengan kekayaan tujuh puluh tujuh turunan tujuh tanjakan dan tujuh belas belokan ini sampai memujinya" Gadis itu nyerocos panjang lebar tanpa jeda, membuat Dewa ingin pingsan saja karena spot jantung tiba-tiba.
Nyali Dewa mengerdil dalam seperkian Detik. gadis mungil di hadapannya benar-benar menunjukkan kuasa atas dirinya.
Semoga dalam satu menit kedepan ada insiden yang mengharuskan dirinya keluar dari ruang yang kini telah berganti aura. gelap dan mencekam, menakutkan.
Ruangan dengan interior serba Lux tersebut kini terasa seperti ruangan berukuran satu kali satu meter yang dihuni sepuluh orang. tak ada pasokan oksigen di sana.
Dewa ingin menghilang saat ini juga, wahai PLN cepatlah eror agar drama pemadaman lampu terjadi sebentar saja.
"Buang-buang waktu cil, kita kan lagi kerja," Dewa masih berusaha menghentikan.
"Biasanya Om juga suka mangkir kalo di datangi cewek, iya kan? kenapa sekarang menolak?"
Jleb!!
Tuduhan Cintya tepat sasaran. bagaimana dia bisa tau akan hal itu meski yang sebenarnya terjadi dalam ruangan itu hanya Dewa yang tahu.
"Siapa yang bilang?" Dewa betul-betul mati kutu. tangannya mengepal menahan gugup. ruangan ber-AC tak mampu menyurutkan keringat dingin yang merembes di pelipisnya.
Ceklek!
Pintu terbuka, seorang wanita datang di antar oleh security perusahaan.
Alex membuka pintu lebih lebar, menampilkan seorang wanita dengan dandanan super menor, lipstik merah menyala lengkap dengan lukisan alis yang nampak seperti pedang siap potong. Bulu mata palsunya melambai penuh drama. mengerjap mempesona.
Dewa terperanjat hingga ia berdiri dari duduknya tanpa sadar. dada Cintya mencelos, benar- benar mencelos melihat penampilan wanita di hadapannya.
Kedua kaki wanita itu melangkah pelan, masuk ke ruangan Dewa. tubuhnya berlenggak lenggok bagai seorang model yang berjalan di atas catwalk.
__ADS_1
Rambut lurus sebahu, benar-benar lurus yang di paksakan nampak bergerak-gerak seiring langkahnya yang semakin mendekat.
Cintya menganga, sejurus kemudian wajahnya berubah bermuram durja. dengan bibir mengerucut matanya memicing menatap horor ke arah Dewa dan Alex bergantian.
Khuk.. khuk.. .
Dewa terbatuk-batuk, tersedak udara.
Melihat Reaksi Cintya, kekhawatirannya bertambah berkali-kali lipat. setelah ini Dewa End. di libas habis oleh si cerewet. pastilah tak akan mudah melewati Omelan nona muda ceriwis itu.
Alex menyembunyikan tawa di balik kepalan tangannya.
"Lex," Dewa dengan suara dinginnya.
Khem...khem...
Alex berdehem, menetralkan kembali wajahnya.
Cintya beranjak dari tempatnya, berjalan mendekat ke arah wanita yang ia tahu bernama Lucia.
Gadis itu bersidekap. melihat penampilan wanita di hadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. berjalan memutar seolah dirinya sedang memberikan penilaian pada peserta ajang pemilihan model.
"Bertemu dimana dengan pak Dewa dan pak Alex?" tanya Cintya.
"Di depan perusahaan." jawab wanita itu tenang.
"Sudah kenal berapa lama?"
"Belum lama?" jawabnya jujur.
"Hanya satu kali." jawab wanita itu sangat jujur dan lugas.
Cintya manggut-manggut.
"Di bayar berapa kamu?"
Dewa melotot mendengar pertanyaan frontal dari Cintya.
"Lima juta." jawabnya singkat.
Dewa kembali melotot, menoleh ke arah Alex yang nyengir seperti orang bodoh.
"Untuk satu kali maen?" Wanita itu mengangguk. Alex dan Dew kompak menoleh membulatkan mata.
Kembali Dewa menatap Alex dengan tatapan membunuh. pria itu menggeleng kuat. menolak tuduhan.
Cintya telah selesai dengan sesi pertanyaan. kini gadis itu beralih menatap ke arah Dewa dengan pandangan siap menerjang. Dewa nyengir tolol. nasibnya di ujung mulut.
"Lex bereskan kekacauan ini," titahnya pada sang asisten. Alex mengangguk hormat. dalam hati ia tertawa. Dewa berakhir di tangan di cantik.
"Segera ajukan surat cuti" Alex tersenyum. serasa mendapat angin surga. kontribusinya dalam penipuan ini di hargai dengan sangat mahal.
"Berlibur selama mungkin." senyum Alex semakin lebar.
Seru nih. ujar Alex dalam hati
"Ambil pesangon di bagian keuangan!" Senyum Alex memudar.
__ADS_1
"Kamu di pecat!!!" Suara Dewa menggelegar. Alex lari terbirit-birit sebelum Dewa merealisasikan ancamannya.
Dewa beralih menatap Cintya setelah Alex membawa Lucia keluar dari ruangannya.
Si cantikku kok jadi menyeramkan...
"Cinta.." Cintya menghentakkan kakinya
"Sayang,,," Dewa mendekat, Cintya mundur selangkah.
"Cantik,,," Cintya menepis tangan dewa yang mencoba menyentuh tangannya dengan kasar.
"Kamu marah?" Tanya Dewa lembut, lebih tepatnya merayu. Cintya menggeleng.
"Terus kenapa manyun begitu, jelek ah!" Rayuan gombal mengedar.
"Cintya benci." bentaknya ketus
Ngamuk nih pasti...
"Maafin kakak ya dek," masih berusaha. Cintya menggeleng kuat.
"Terus kakak harus apa?" masih berusaha merayu.
Pria itu tertunduk lesu. tak akan mudah membuat gadis itu memaafkannya. Alex sungguh sangat keterlaluan. benar-benar mengibarkan bendera perang. membawa badut Ancol untuk disamakan dengan Cintya. benar-benar cari mati.
"Jadi itu Lucia kang seblak?" Dewa mendongak.
"Yang pesonanya tak terkalahkan!" Cintya mengulang kalimat pamungkas.
"Yang katanya sebelas dua belas dengan Cintya?" Dewa tak menjawab. memilih diam. jawab iya salah tidak makin salah.
"Belikan Cintya daster persis yang di pakainya," pinta gadis itu dengan suara meninggi.
"Apapun sayang." Dewa tersenyum merasa aman.
"Tapi belinya di tanah Abang."
"Dengan senang hati" Dewa sumringah
Tanah abang mah deket. batin dewa girang.
"Satu lusin,"
"Sebanyak yang kamu mau sayang, sama tokonya juga boleh,"
"Tapi belinya naik sepeda, goes sendiri, boncengan sama Alex."
"Mampus gue,"
***
wkkkk....
Selamat subuh, awali hari dengan bismillah...
Happy Reading...
__ADS_1