
Happy Reading...
"Apa kakak menyembunyikan sesuatu?"
Dewa membeku, mata yang baru saja ingin ia pejamkan, ia paksa buka kembali. dan tentunya otak cerdas Dewa sudah dapat menjangkau ke mana arah pembicaraan istrinya.
Cintya masih terdiam menunggu, jemari tangannya bertumpu di atas dada bidang Dewa yang terbuka. di sana ia dapat merasakan degupan kecil melalui indra perabanya. pasti saat ini Dewa sedang gugup.
"Iya," jawabnya ringan. dan itu cukup untuk menumbuhkan kernyitan dalam di dahi Cintya.
Dewa menyorot Cintya dengan pandangan sulit di artikan. manik abu-abunya memandang lekat menembus manik hitam Cintya yang berkaca-kaca dalam satu garis lurus.
Jadi benar, Isabel tak berbohong. dan Om tak mengingkari atau menyangkal.
"Apa?"
"Kamu."
"Hah!"
Bukan waktunya untuk terbuai Cintya, ayolah. batinnya mengingatkan.
"Katakan."
"Apa yang mau kamu tahu?" tanya Dewa dengan suara lirih. terdengar kepasarahan dalam tiap kata. mungkin ini lah saat yang Dewa sebut sebagai waktu penghakiman. di benci dan di tinggal kan.
Tak masalah, selama Cintya masih memperbolehkan dirinya melihat dari jauh. setidaknya itu tidak terlalu. buruk. di tenggelamkannya wajahnya dalam ceruk leher Cintya, mengisyaratkan kepasrahan. hembusan nafas lelah terdengar. Dewa akan menerima apapun hukuman atas kesalahannya, selama itu bisa membuat Cintya memaafkannya.
"Itu om kan?"
Tanpa menjawab dengan suara, Dewa hanya mengangguk dalam perpotongan leher Cintya, menghirup wangi rambut bumil yang membuatnya hampir gila jika tak menghirupnya sehari saja.
Tak perlu terkejut, Isabel sudah mengambil keterkejutannya. Cintya hanya perlu membuat perhitungan kecil saja. anggap saja jika ia sedang bermain-main. seperti biasa. karena marah pun percuma. lelaki yang sudah membuat ayahnya meninggalkannya adalah pria yang kini berstatus sebagai suaminya.
Bagus sekali permainan nasib, apa ini memang takdir agar Cintya tak memiliki pilihan lain selain memaafkan.
__ADS_1
"Maaf." lirih Dewa teredam kulit leher Cintya. bahkan saat seperti ini, Dewa pun masih dengan berani bersentuhan dengan wanita yang mungkin saja setelah ini akan menjelma menjadi siluman singa.
Cintya hanya mampu mengatupkan rahang. Dewa sama sekali tak menyangkalnya. apakah ini tandanya memang Dewa menganggap masalah itu adalah hal biasa, tawuran, kenakalan remaja dan tak perlu menyesal meskipun ada korban.
"Kenapa tak mengatakannya, mungkin akan lebih baik aku mendengar Om yang mengatakannnya dari pada orang lain."
Tak begitu sulit, Cintya hanya ingin mendengar sebuah pengakuan. apa salahnya mengaku dari awal dari pada itu di manfaatkan oleh orang lain.
"Maaf." ulang Dewa sekali lagi. kini. bukan hanya tangannya yang mendekap erat tubuhnya, kakinya pun menindih kaki Cintya hingga untuk bergerak pun Cintya tak kuasa.
Dewa cukup tahu tabiat istrinya, Cintya bisa saja menerjang saat marah. dan itu sangat tidak bagus untuk kandungannya. mungkin dengan memeluknya akan bisa mengendalikan amukan Cintya.
"Antar aku pulang." ujar Cintya datar.
Dewa terkesiap, Cintya tak melakukan apapun yang ada dalam pikirannya. tapi Dewa tak begitu saja merasa aman justru sikap dingin istrinya lebih mengkhawatirkan.
"Nanti, setelah kamu pulih kita pulang ke apartemen."
"Aku mau pulang ke rumah ibu." di situlah Dewa tersadar, lebih baik ia mendengar Cintya meneriakinya dan mencercanya. dari pada kata-kata datar yang terdengar lebih menakutkan.
"Bukankah aku sudah pernah bilang, aku tak akan memaafkan orang yang menyebabkan ayah pergi meninggal kan aku."
Cukup, Dewa lebih baik mengubur dirinya hidup-hidup dari pada pendengar ungkapan kebencian Cintya, apalagi air mata yang berurai itu. Dewa seperti tersayat.
"Apa yang harus kakak lakukan, kakak tidak sengaja melakukannya." ujarnya getir.
Bolehkah jika Dewa meminjam pintu ajaib doraemon agar dapat kembali ke masa lalu? dan membuat semuanya tak terjadi.
"Tak perlu lakukan apapun karena aku hanya ingin pulang ke rumah ibu dan jangan coba temui aku sebelum isabel pergi dari sana. aku tak suka melihatnya." ujarnya ketus dengan menghempaskan tangan yang menindih perutnya.
Bukankah tadi ada yang bilang tak perlu melakukan apapun, tapi ada perintah untuk mengusir Isabel.
Dewa melongo takjub. tentu saja karena Cintya yang selalu berkata, ah sudahlah!
"Apa tak ada pilihan lagi?"
__ADS_1
"Tidak!"
"Kalau kakak kangen bagaimana?"
"Bodo."
"Kalau adek yang kangen gimana?" sedikit lebay, bolehlah di coba. siapa tahu Dewa selamat kali ini.
"Gak akan!"
"Yakin?"
"Yakinlah! Tya benci sama om."
"Iya gak papa, tapi jangan lama-lama ya benci nya, kasihan Twins nanti kangen papi, gimana?"
"Twins akan dapat papi baru secepatnya."
"Oh, Whaaaat?" Kini Dewa yang harus berteriak. "Kok gitu?"
"Apa? Cintya benci Om dan tak akan memaafkan Om."
Eh, apa seperti itu orang yang katanya benci.
"Baiklah." Dewa berujar pasrah. turuti sajalah yang penting malah ini cepat selesai. tak ada pilihan lain, mendebat Cintya untuk saat ini tak akan membuahkan hasil. yang ada hanya akan memperburuk keadaan mengingat Cintya yang sungguh teguh dalam pendiriannya. dan saat itu juga Dewa mengantarkan Cintya pulang ke rumah keluarga Mahendra.
"Kalau sudah puas, kamu telpon ya, nanti biar kakak jemput."
Kok gitu amat gak nyoba nyegah gitu, pura-pura bilang jangan, plis gitu, atau apa kek. awas kamu Dewa Herlambang. Cintya mengeram dalam hati.
"Gak perlu. aku mau tinggal di rumah ini se la ma nya."
***
Sumpah! aku kehilangan mood, boleh tidak aku libur nulis. gak banget feelnya.
__ADS_1
Eh, kalian readers tercinta aku, help me, bagian mana yang harus aku revisi. coment please!!!