
Happy Reading..
"Ehem!"...
Suara deheman yang terdengar dalam kegelapan dari arah ranjang membuat Cintya gelagapan.
Seketika ia ia kebingungan untuk membuat alasan agar dirinya aman. tak urung pula ia mengolah otak agar menemukan ide yang pas buat meminimkan hukuman yang akan ia terima nanti.
"Dari mana lu dek?" Leo yang meski sudah tau dari mana Cintya hanya dengan melihat pakaian yang gadis itu kenakan tetap melontarkan pertanyaan yang tak akan di jawab dengan jujur.
"Emang lu gak takut apa lihat begituan?" Tanya Leo lagi.
Meski Cintya tak menjawab dengan suara. hanya mulutnya saja yang menampilkan cengiran khasnya. mungkin dengan begitu Cintya bisa sedikit meredam kemarahan Leo tatkala ia ketahuan kabur malam-malam hanya untuk menonton balap liar.
"Emang apa yang di takuti?" mengetahui kakaknya yang tak memarahinya seperti yang ada dalam pikirannya, gadis itu menjawab santai sambil berjalan ke arah sofa dan duduk selonjoran.
"Selain anak-anak yang begajulan, di sana ada banyak macam yang seperti itu. gimana jika salah satu dari mereka melakukan hal buruk sama lu, lu kan cewek.! cerca Leo dengan menurunkan intonasi suaranya. takut jika ibu atau kakeknya mendengar mereka ribut malam-malam.
"Ya gak mungkinlah, di sana kan rame udah kayak pasar malem." Alasan si gadis yang sebenarnya sangat tak masuk akal.
"Gak mungkin juga kan mereka perkosa Cintya di tengah keramaian." cicitnya lagi membuat mata Leo membola.
"Ya ampun mulut Lo dek!" Leo geleng kepala.
"Lagi pula siapa yang bakal lihat wajah Cintya yang cantik ini di sana, orang Cintya pake helm fullface. pasti mereka ngira Cintya ini cowok." Makin tak mengerti saja Leo dengan jalan fikiran gadis itu.
"Emang calon laki lu tahu lu suka nonton balap liar?" Mata Leo memicing. mencoba melihat reaksi dari wajah Cintya. namun sepertinya ia gagal. karena wajah Cintya yang tak menampilkan kekhawatiran sama sekali.
"Ya enggaklah! ngapain dia harus tahu. kita kan punya kehidupan masing-masing. jadi dia gak mungkin tahu masalah ini." Cintya tampak berfikir.
"Kecuali kakak yang ngasih tahu tu orang." Ucap gadis itu akhirnya.
"Sepertinya itu ide yang bagus!" Dengan santainya Leo meninggalkan gadis dengan setelan serba hitam itu yang nampak sedang mencerna ucapannya.
"Kagak usah jadi tukang adu deh!" Teriaknya karena Leo sudah berhasil keluar melewati pintu kamarnya sebelum bantal kursi berbentuk hati itu mendarat di punggungnya bahkan kepalanya.
Bodo ah, peduli apa sama si buaya cap cicak.
Ucapnya sambil berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum ia tidur menjemput mimpi.
***
Pagi menjemput, sinar sang mentari telah menerobos masuk melalui cela-cela jendela yang tak tertutup oleh tirai.
Semilir pagi yang tak begitu dingin menyapa gadis yang masih bergelung dengan dengkuran halusnya.
__ADS_1
Hoam!!!
Cintya menggeliat karena alarm di atas nakas memaksanya untuk membuka mata.
Tidur malam selama tiga jam terasa seperti enam puluh menit yang gadis dengan piyama hello Kitty itu rasa.
Jika dulu ia merasa bebas untuk melanjutkan tidur, tapi tidak dengan sekarang karena saat ini statusnya bukan mahasiswi lagi melainkan seorang karyawan.
Dengan malas dan mata setengah terpejam ia memaksa kakinya untuk melangkah ke kamar mandi untuk bersiap-siap karena pastinya gadis itu akan terlambat.
"Pagi!" Sapa Ibu dan Leo bersama.
"Pagi" jawab Cintya malas.
"Kamu kenapa Cintya?" tanya ibu sedikit khawatir.
Leo hanya melirik dengan sedikit tersenyum. dan kakeknya melihat Ekspresi Cintya yang sedikit lesu dengan alis berkerut.
"Ngantuk!" jujur Gadis yang pagi itu memakai kemeja bahan siffon warna pink dusty dan celana panjang warna silver. membuatnya nampak seperti gadis kalem yang sangat tak cocok dengan kepribadiannya yang sering membuat onar.
"Ngantuk? memang kamu gak tidur semalam?" tanya ibu degan polosnya. karena memang tak tahu kebiasaan putrinya yang suka kabur-kaburan tengah malam.
"Tidur tapi kurang nyenyak." jawabnya sambil mengoles selai coklat pada selembar roti di tangannya.
"Tidak hanya capek saja."
"Apa calon suamimu memberi pekerjaan berat untukmu?" Tanya kakek.
Tentu saja pria tua itu mengetahui perihal pekerjaan Cintya karena memang dua orang tua itulah yang mengatur agar Dewa dan Cintya bisa saling mengenal. yaitu menempatkan mereka dalam ruang dan waktu yang sama setiap hari. tapi mereka tak pernah tau apa yang terjadi jika kedua orang yang seperti air dan minyak itu sedang bersama.
"Tidak seperti itu kek, dia.."
"Bu, Leo pergi dulu karena harus menemui seseorang dulu pagi ini." Leo pamit pada ibu sebelum Cintya menyelesaikan kalimatnya. niatnya hanya ingin menakuti di biang onar.
"Tunggu, Tya ikut!" Cintya berlari kecil mensejajarkan langkahnya dengan langkah lebar Leo.
"Tumben? biasanya suka nolak kalau di ajak bareng?"
"Tya gak mau kakak nemuin kak Dewa." Jawab Cintya.
"Pede banget anak kecil." cibir Leo.
"Kagak usah aneh-aneh sebelum Misi terakhir Cintya berhasil." Ucapnya sambil berlalu meninggalkan Leo.
"Gak jadi ikut nih ceritanya?" tanya Leo sedikit berteriak.
__ADS_1
"Kagak! pokoknya jangan macem-macem!" ancamnya.
"Emang gue gak ada pekerjaan mau nemui dia pagi-pagi gini, huh!" gumamnya sendiri karena Cintya sudah pergi dengan taksi yang sudah dia pesan sejak tadi.
Sesampainya di kantor, Cintya bisa bernafas lega karena Dewa yang belum sampai disana. padahal gadis itu sedikit berlari saat kakinya sudah sampai di lobi kantor.
Ufft... selamet..
Gumamnya setelah ia berhasil meredakan nafasnya yang sedikit ngos-ngosan.
Dan seperti biasa gadis itu langsung melakukan aktifitas hariannya. menyiapkan segala agenda untuk Dewa dan menyiapkan berkas-berkas serta laporan yang harus Dewa tanda tangani.
Namun sampai gadis itu telah selesai menyiapkan segalanya, sang bos pun tak menampakkan batang hidungnya.
Karena masih merasakan kantuk yang luar biasa, akhirnya gadis berambut panjang dengan jepit kupu-kupu itu menjatuhkan kepalanya di atas meja.
"Lu yakin entar malem." Dewa berjalan beriringan dengan Alex asistennya.
"Kenapa gak yakin?" Dewa menjawab sambil melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik.
"Kan lu udah lama gak turun langsung?" Alex memberikan opininya.
"Elu ngeremehin gue?" Pria berhidung mancung itu menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya. berhadapan dengan Alex yang juga duduk di kursi depannya.
"Emang lu yakin masih kayak dulu?" Alex terang-terangan merendahkan teman sekaligus bosnya.
Namun sebelum Dewa membalas ucapan Alex yang merendahkannya, pandangannya terpaku pada sosok cantik yang tengah tertidur di meja kerjanya.
Alex mengikuti arah pandangan Dewa dan matanya membulat lalu menahan tawanya.
"Imut banget ya kayak baby " Ucap Alex memandang lekat wajah cantik yang tengah tertidur itu. Dewa hanya tersenyum samar.
"Sleeping beauty!"
"Cil!.. Cil!.."Dewa membangunkan Cintya dengan menepuk pelan pipi mulus si putri tidur.
"Emmh!" Bukannya bangun, malah semakin membenarkan letak kepalanya.
Ada desiran halus saat melihat gadis yang kurang dari tiga bulan lagi menyandang nama belakangnya itu tengah terlelap.
"Udah pindahin sono, kasihan kagak nyaman gitu." Alex menyumbang kan ide.
Dan menghela nafas halus, Dewa akhirnya memindahkan si putri tidur ke kamar yang beberapa waktu lalu ia gunakan.
***
__ADS_1