Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Kebenaran 1.


__ADS_3

Happy Reading...


"Bisa di jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?" Rendra berucap tegas. memandang Dewa, Cintya, Isabel dan Andika secara berurutan. "siapa di antara kalian yang. bersedia menceritakan.


" Biar saya pa," Isabel menyela cepat, ia sama sekali tak ingin membuang kesempatan untuk mencari pembenaran. apalagi Leo sebagai tersangka penipuan tidak berada di sana.


Keheningan masih membentang. mengambil alih suasana, memberi kesempatan pada isabel untuk mengolah kata. berusaha menempatkan dirinya sebagai pihak yang di rugikan.


Isabel menoleh penuh kebencian ke arah Cintya yang sedang bergelayut mesra, duduk bersandar di dada Dewa yang sedang memberikan usapan lembut di luar baju hamilnya.


Cintya sama sekali tak terusik, ia justru menyibukkan diri dengan meniup-niup kuku-kuku cantiknya. tanpa peduli jika Isabel saat ini memberinya tatapan mengancam. seolah dengan tatapannya saja ia berkata 'kau akan hancur '.


"Cintya pasti dengan sengaja mengatur untuk menjebak saya."


Emang!.


"Dia pasti dengan sengaja meminta Leo untuk meninggalkan saya."


Enggak ya!


"Dakba1 bn Lilian pasti juga membantunya."


Gak ada tuh!


"Cintya tidak menyukai saya dari awal dan Lilian hanya iri karena Leo akhirnya lebih memilih saya. Leo tahu jika saya lebih baik dari pada Lilian."


Sok iye.


"Dan dia,". tudingnya pada Andika "saya tidak tahu siapa dia, saya tidak mengenal pria itu." Isabel menutup Dramanya dengan sesegukan.

__ADS_1


Cintya hanya mencibir dalam hati tanpa repot-repot menyanggah tuduhan Isabel terhadapnya. jangankan untuk menyanggah, bahkan untuk sekedar peduli pun Cintya tidak melakujannya.


Dalam ruangan itu hanya suara Isabel yang mendominasi. Dewa juga tampaknya hanya lebih tertarik untuk menjadi pendengar dengan tangannya yang masih sibuk mengelus perut buncit yang terasa gerakan meliuk-liuk di dalam nya.


"Jadi semua ini memang sengaja mereka rancang untuk menjebak saya dengan pria asing itu."


Asing???


Masih dengan gestur tubuh yang sama, hanya saja Tampak sebelah alisnya saja yang sedikit terangkat.


Aura-aura mencekam masih melingkupi dalam ruangan itu, tapi hanya isabel yang merasakannya. ia sudah merasa resah saat Cintya sama sekali tak menyanggah tuduhannya. apa mungkin jika wanita hamil itu hendak mengakui kesalahannya atau mungkin Isabel harus bersiap untuk menghadapi drama yang lain.


Jujur, sebenarnya Isabel tidak sanggup jika harus beradu argumen dengan Cintya saat ini, karena Cintya pasti dengan mudah mematahkan argumen-argumennya. apalagi otak Cintya yang cepat sekali memikirkan ide untuk membuatnya kehilangan kata. Isabel hanya berharap papa Rendra mempercayai ucapannya. apalagi Leo tidak berada di tempat itu. dan itu cukup menguntungkan posisi Isabel sebagai pihak teraniaya. Leo pasti di anggap sengaja melarikan diri dan itu semakin menguatkan dugaan jika semua ucapan Isabel adalah kebenaran.


Kediaman semua orang dalam ruangan itu menerbitkan senyuman penuh kemenangan di sudut bibir isabel. gadis itu begitu rapi menyembunyikan senyum sinisnya dalam air nata yang terburai sambil menunduk.


"Kau keterlaluan sekali Cintya!" hardik mama Graciela berhasil membuat kepala Dewa dan Cintya mendongak. "apa kesalahan Isabel sehingga kamu memperlakukannya seperti itu."


"Dan kamu Dewa, kebaya kamu mendukung istrimu berbuat jahat pada Isabel." mama Graciella melemparkan tatapannya pada Dewa yang hanya bergeming di tempatnya, "Isabel itu saudara kamu Dewa, tak sepantasnya kamu memperlakukannya seperti itu, apalagi sampai mendukung istri kamu."


"Lilian juga saudara saya." seperti bom waktu yang siap meledak, Dewa mengucapkannya dengan sangat tenang.


"Tapi Leo lebih memilih Isabel, ingat itu!" selama nama Graciella tak mau kalah.


"Yang mama pikirkan cuma Isabel," Dewa menjeda ucapannya menunggu reaksi orang-orang di sekitarnya. "tapi mama lupa jika Lilian juga saudara Dewa."


"Leo jelas lebih tahu mana yang lebih baik!"


"Jadi mama menganggap Isabel lebih baik karena Lilian memiliki anak tanpa suami?"

__ADS_1


Isabel merasa sudah tidak baik-baik saja, sepertinya firasatnya kali ini salah jika Graciella mampu memberikan pertolongan. jika Dewa sudah berucap, maka mau tak mau mereka garus mendengarkan.


"Tentu saja, karena Lilian itu liar, tidak mampu menjaga dirinya dari lingkungan."


Wajah Dewa yang semula tenang, kini mendadak mengeras. ia sudah siap menumpahkan segalanya. tuduhan yang selama ini ia terima tanpa bantahan saat ini seperti lahar yang siap menerjang.


"Selama ini saya hanya diam, mendengarkan tuduhan kalian pada Lilian. itu bukan karena saya membenarkan ucapan kalian," masih dengan ketenangan yang sama Dewa berucap. "tapi karena saya tahu jika kalian tak pernah menganggap Lilian layak untuk di lihat. Lilian akan tetap menjadi yang paling bersalah."


"Kalian tak pernah tahu bagaimana Lilian berjuang untuk memantaskan diri agar pantas menyandang nama Herlambang. dan kalian hanya sibuk dengannya." Dewa menatap tajam kepada Isabel yang mendadak pucat.


"Tidak seperti itu Dewa."


"Jadi seperti apa Pa?!" suara Dewa naik satu oktaf. "seperti apa Papa memandang Lilian selama ini? Papa bahkan menuduh kami melakukan perbuatan hina."


"I_itu." Rendra tak mampu menjawab, karena selama ini pria itu meragukan Dewa dan Lilian.


"Papa tidak pernah tahu jika Lilian mengandung akibat perbuatannya!" Dewa mending tepat ke arah Isabel. membuat gadis itu mundur satu langkah karena Rendra yang juga memandangnya tajam.


Dewa beranjak dari duduknya, mendekat aje arah isabel yang tengah ketakutan.


"Dan bukan hanya itu, dia_"


"Kak!"


"Cinta..."


***


Jeng...jeng...jeng...

__ADS_1


Gantuuuuung...


__ADS_2