Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Apa lagi sekarang.


__ADS_3

Happy Reading...


"Lo itu emang cocok sama bini lo. sama-sama suka aneh. plus nyusahin. bikin gue hampir gila." Alex kesal, sangat!


"Kuwalat lo ngatain orang hamil!"


"Gak ada cerita Dewa... orang hamil bisa bikin kuwalat."


"Ada bego, namanya orang hamil itu susah jadi apa-apa harus di turuti. do'anya terkabul. elo kalo gak nurut di kutuk sama Cinta."


Eh, teori dari mana, yang suami siapa sih?


"Kutukan nyonya cuma berlaku buat elo, suami oon!"


"Kan gue bayar elo, jadi elo lah yang mewakili gue."


Alex memutar bola mata.


Oh ya Ampun, bos Alex mulai gila. apa nanti Alex juga ikutan gila.


"Serah elo Wa, gue cabut aja. lama-lama di sini bisa bikin gue makin sinting."


Alex berlalu dengan membawa kekesalan dalam hatinya. otaknya sudah mengepul seperti kabel ruwet dan gosong menghadapai tingkah Dewa.


Sembilan bulan cepatlah berlalu. jika tidak pasangan sableng itu akan merontokkan rambutnya. hilang sudah ketampanan Alex yang paripurna. dan tak cocok lagi jadi Asisten Dewa yang notabene adalah pria tertampan di kotanya.


Sepeninggal Alex, Dewa melanjutkan pekerjaannya yang belum separuhnya terselesaikan. kendati hari telah beranjak siang.


Sesekali Dewa memasukkan butiran jagung ke dalam mulutnya. dan itu ia lakukan sepanjang hari kecuali jika ia sedang meeting. mulutnya tidak boleh sampai kehilangan rasa, jika tidak, ia akan berlomba dengan angin untuk secepatnya sampai ke toilet.


Separah itu Dewa, tapi sayang ia tak pernah menyadari bahwa dirinya lah yang mengambil sumpah itu.


Beberapa saat kemudian, pintu ruang kerjanya terbuka setelah di ketuk tiga kali.


Dewa telah mempersiapkan ocehan maut jika yang masuk adalah Alex. sudah jelas jika Dewa menyuruhnya mencari gudeg, jika ia sampai kembali itu artinya, Alex


mengabaikan perintahnya. Dewa pasti memberikan sanksi.


"Lagi sibuk lo?"


Leo masuk dengan menenteng sebuah paper bag di tangannya


"Bang, ngapain di sini, tumben?" itulah yang keluar dari mulut Dewa.


Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Gue kesini disuruh istri lo."


Mendengar kata istri, Dewa mulai khawatir. jika Leo sampai datang ke kantornya, pasti si istri bermulut ceriwis itu sedang mengadu yang tidak-tidak.


Tuh kan, Dewa mulai berpikiran buruk.


"Ada apa bang? apa dia mengeluhkan sesuatu atau cinta lagi ingin sesuatu?" Dewa berdiri dari singgasana nya dan menyongsong Leo ke sebuah sofa.


Mengabaikan pertanyaan dan raut khawatir Dewa, pandangan Leo tertumbuk pada benda bertutup di atas meja.


"Lo ngemil?"


Dewa mengikuti arah pandang Leo, tak peduli jika Leo pun akan menertawakannya seperti Alex.


"Kalo gak sambil ngemil, gue gak bisa kerja. mual, gak enak."


Leo terkekeh pelan. di pandanginya wajah Dewa yang tampak tak sebugar dulu. sedikit pucat dan tirus.

__ADS_1


"Emang lo gak berhenti sama sekali mualnya, sampe pucet gitu."


Dewa hanya tersenyum tipis mengiyakan. tapi dalam hatinya ia tak pernah menyesali penderitaannya. ia justru sangat bersyukur bisa merasakannya. tidak semua pria bisa merasakan hal yang terjadi seperti ini. bolehkah jika Dewa merasa dirinya spesial? turut andil dalam pembuatan dan penderitaan. jika perlu ia ingin merasakan hingga akhir.


Kembali Dewa ingin merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan.


"Gue mual kalo pagi doang, tapi kalo gak ngemil gue gak enak."


"Tujuh bulan lagi bisa di pastikan otot-otot elo tenggelam."


"Maksudnya?"


"Pastinya elo bakalan gendut, ngemil terus." Leo menahan tawa.


"Gue gak makan ya, gak mungkin juga bisa gendut. tiap malem gue rutin olahraga."


"Omongan lo, kurang ajar." Leo mendengus.


Dewa nyengir. pembahasan tentang olahraga malam sangat sensitif bagi leo. tentu saja karena ia adalah pria baik yang tak suka jajan sembarangan.


"Lo belom bilang ada perlu apa ke tempat gue? jangan bilang cinta aduin gue macem-macem. gue gak ngapa-ngapain. tadi pagi gue anter dia mesam-mesem aja."


Terdengar nada kekhawatiran dalam ucapan Dewa. dan itu menyulut gelak tawa di bibir Leo.


"Segitu takutnya lo sama gue." Leo tersenyum miring.


"Gak ada Gue takut sama elo, gue cuma khawatir kalo nyonya marah. bisa-bisa gue main solo."


"Sialan! bisa gak sih lo gak bahas masalah itu sama gue?" kembali leo mendengus sebal. Dewa hanya nyengir garing. tentu saja ia sangat senang menggoda Leo.


"Ha..ha..ha...kasihan deh lo, makanya gerak cepat. lelet amat jadi laki. Lilian keburu di pepet spesialis jantung nooh." bukannya membantu, Dewa justru semakin membuat Leo ketakutan.


Suka sekali ia melihat muka datar Leo yang dingin memerah menahan emosi.


"Cepetan bilang ngapain kesini?" Dewa mengulang pertanyaan.


"Lo ngusir gue?"


"Kalo lo nganggep seperti itu ya terserah, yang penting gue gak ngomong."


"Gue cuma mau ngasih ini." Leo memberikan paperbag yang ia taruh di samping nya.


Dewa mengintip isinya dengan alis berkerut. di dalam nya ada sebuah kotak makan mini dan sebuah tumbler. "apa ini bang."


"Gue siang-siang di suruh balik ke rumah sama istri lo, cuma di suruh buat masakin makan siang buat elo, dan di anter sampai sini, suruh mastiin lo makan tuh makanan sampai habis. gue juga di minta buat Video lo lagi makan. takutnya lo buang katanya."


Ada rasa haru yang menyeruak dalam dada Dewa, rasanya tak percaya jika Cintya sampai mengkhawatirkan dirinya. meski sedikit ada rasa curiga yang tak dapat di pungkiri.


Dengan seulas senyum Dewa mengeluarkan isi dari dalam paperbag dan menaruhnya di atas meja kaca.


Dewa sudah bersiap dengan sendok di tangannya dan Leo dengan kamera di gawainya.


Leo tersenyum tipis, menimbulkan kecurigaan. "Tunggu apa lagi, cepetan makan gue juga masih harus balik kantor."


Dengan kecanggungan yang luar biasa Dewa membuka kotak makan tersebut perlahan dan matanya melotot sempurna saat ia melihat nasi yang di cetak bulat menyerupai manusia salju berias rempah sebagai mata hidung dan mulutnya. serta irisan omlet telor di kedua sisinya lengakap dengan kecap kemasan terselip juga di sana sebuah memo kecil. "Selamat makan suamiku."


Melihat itu Leo tergelak kencang apalagi melihat ekspresi Dewa yang melongo. makin pecah saja tawanya.


"Udah makan aja, daripada Cintya ngamuk. lagian gak buruk juga tuh makanan. gue tadi yang masakin telornya. tapi dia yang ngemas. jadi sumpah gue gak tau bentukannya seperti itu."


Leo masih menyelesaikan tawa kecilnya.


"ini isinya apa bang?" Sedikit curiga, Dewa mempertanyakan tentang minumannya.

__ADS_1


"Oh, itu air jahe manis. katanya buat nekan mual gitu."


"Elo yang bikin?"


"Bukan, ibu tadi yang bikin. tapi entah rasanya seperti apa." Leo tak melanjutkan ucapannya membuat Dewa merasa semakin curiga. tak enak hati. pasti akan ada sesuatu yang terjadi setelah ini.


Dengan menekan rasa mual yang tiba-tiba menyeruak, Dewa menghabiskan makannya dengan cepat. tak sempat baginya merasakan nikmatnya makanan itu. entah asin manis atau hambar. Dewa tak tahu. ia harus berlomba dengan rasa tak nyaman di perutnya.


Drama ini harus cepat berakhir, masa bodo jika setelah ini ia harus menghabiskan waktu di dalam toilet untuk menuntaskan muntahnya.


Di sambarnya tumbler berisi cairan yang katanya jahe manis itu. dan seketika itu Dewa melotot.


"Pedas banget!" Dewa sampai menjulurkan lidah. entah berapa banyak Jahe yang di rebus dalam air seratus mili ini, yang pasti tenggorokan Dewa sedikit panas hingga ke perutnya.


Dewa mengakhiri minumnya dengan bibir memerah. tapi ada kelegaan dari raut wajahnya. mualnya sedikit menghilang. mungkin bukan karena efek jahe, melainkan efek cinta dari yang membuatnya.


Setelah acara makan dan pengambilan gambar, Leo menegakkan tubuhnya dengan wajah serius.


"Ada yang mau gue ceritain sama elo." ujarnya serius.


"Ada apa?" pertanyaan Dewa masih terdengar biasa.


"Nanti pasti elo sering lihat Cintya tak mau di tinggal."


Dewa tersenyum tipis. ia sangat tahu, istrinya super manja.


"Tau gue, Cinta lebih manja dari sebelumnya." Masih terdengar datar tanpa keterkejutan.


"Bukan, bukan itu." Leo mulai serius dalam nada suaranya.


Dewa masih menyimak tanpa memberikan pertanyaan. ia menunggu hingga leo menyelesaikan ceritanya.


"Cintya bukan cuma takut kegelapan. ia juga mengalami trauma kecelakaan di tengah hujan yang menyebabkan ayah meninggal. dan mulai saat itu ia sering histeris dan takut di tinggal sendirian."


Dewa masih terdiam menyimak. ia juga sedang menggali memori tentang sebuah kecelakaan yang terjadi beberapa tahun silam.


"Mobil ayah mengalami pecah ban karena sekelompok pemuda yang melempar botol minuman di tengah jalan." Leo masih berada di tengah cerita. sementara Dewa mulai merasakan ketidak nyamanan dalam hatinya.


"Kami membawa Cintya ke psikiater untuk mengobati traumanya. tapi di saat tertentu ia masih bisa mengingat peristiwa itu. dan ia janji akan menemukan salah satu pemuda itu. dia bilang ingin memberikan pelajaran padanya. itulah yang masih ia inginkan hingga saat ini."


Dewa menelan ludah. perasaannya semakin memburuk saat ini. melebihi rasa mualnya.


"Jadi gue minta lo bersiap jika itu terjadi."


Dewa bergeming.


Bersiap? untuk apa atau untuk yang mana?


Dewa mulai merasakan ketakutan yang luar biasa.


"Gue cabut dulu. inget pesen gue. lo harus lebih sabar." Leo menepuk bahu Dewa sebelum selangkah.


Kini tinggalan Dewa dengan perasaan campur aduk.


Kecelakaan? mabuk? botol minuman?"


Tiga kata yang berputar dalam benaknya membuat kepalanya tiba-tiba merasa seperti di hantam palu godam.


"Ya Tuhan, apa lagi ini?"


***


Dewa... Dewa... ada apa hayooo

__ADS_1


__ADS_2