
Haiii,,, aku balik lagi,,, bukan niat untuk ngeGhotshing kalian tapi beneran real Life nya lagi meminta perhatian.
Happy Reading..
Malam, waktu yang seharusnya di pergunakan oleh sebagian penduduk bumi untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. lain halnya dengan Dewa. pria itu justru saat ini sedang mengusap punggung dan menenangkan Cintya yang sedang meringkuk dan menangis.
Setelah Dewa tak berhasil untuk membuat Cintya mengurungkan niatnya, mengunjungi tempat yang menjadi tempat terkelam dalam hidupnya. selama lebih dari tiga puluh menit mereka di sana. berada di pinggir jalan seperti orang tak punya kegiatan, Dewa memaksa membawa Cintya pulang ke apartemen.
Bukan tanpa alasan ia membawa istrinya ke sana, itu karena ia tak ingin kakek atau siapapun banyak bertanya. terlebih lagi Dewa ingin melakukan sesuatu. Ya, memusnahkan bukti bahwa dirinya pernah berpenampilan urakan. dan sialnya Cintya yang malam itu tidak mengalami pingsan justru mengingatnya.
Dewa segera menyelinap masuk ke ruang kerjanya saat Cintya masuk ke dalam kamar mandi. dan ia segera menghapus semua foto-foto yang pernah Cintya lihat. bukan tidak mungkin Cintya akan mempertanyakannya lagi mengingat watak wanita hamil itu yang begitu kuat dalam pendiriannya.
Setidaknya hal itu akan membuatnya aman untuk sementara waktu. sebelum ia akan mengatakan apa yang sebenarnya. dan pastilah semuanya akan berakhir dengan keributan.
"Kak, tau gak, hari itu ayah baru pulang dari luar kota. namun ayah lupa tak membawakan aku kado. lalu kami pergi jalan-jalan berdua karena ibu menolak ikut. dan kak Leo memilih belajar di rumah. harusnya aku tak meminta apapun atau aku tak mengiyakan saat ayah mengajakku makan es krim. aku yang salah aku yang_ Hiks..hiks.." Cintya kembali tergugu. makin sulit bagi Dewa untuk menenangkannya. selain kesedihan yang mendalam, sepertinya saat ini nyonya muda itu sedang menumpahkan stok air matanya.
"Sudah ya, nangisnya. kasihan twins kalo maminya nangis terus. yang ada nanti mereka jadi ikutan cengeng." hibur Dewa tanpa memikirkan dulu kalimat yang keluar dari mulutnya.
Kalimat yang niat awalnya untuk menghibur kini harus ia telan kembali bersamaan dengan saliva yang enggan masuk ke tenggorokannya saat Cintya menatapnya tajam, memandang benci ke arahnya.
"Jadi aku cengeng gitu, jahat banget sih, bilang aku cengeng. ini aku lagi sedih tau gak. bukannya nenangin juga,"
Emang sedari tadi Dewa sedang apa? ngelawak atau parodi?.
Saat sedang sedih saja Cintya masih mengingat bagaimana caranya marah. apa mungkin Dewa yang mulai lupa jika istrinya mempunyai sifat yang lain dari pada yang lainnya.
Baiklah, jangan salahkan Cintya apalagi Dewa. salahkan saja hormon kehamilannya yang sedang naik turun.
"Bu_ Bukan, bukan itu. maksud kakak_" Dewa bingung harus berkata apa. saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa?" Cintya masih menuntut penjelasan. derai air matanya masih tak bersurut. justru semakin deras. membuat Dewa semakin bingung untuk menenangkan.
Dewa belum pernah sekali pun menenangkan wanita yang sedang hamil menangis. ia kurang pengalaman. ia bingung sendiri bagaimana caranya membuat wanita ini tenang. bukankah dulu Lilian juga hamil dan Dewa yang menjaganya, tapi tidak sesulit ia menghadapi Cintya.
"Ayah pasti tak akan suka jika putri kesayangannya menangis terus." semoga tak salah lagi. ia bahkan menggigit lidahnya sekarang.
"Jadi aku harus tertawa bahagia gitu?" protesnya sengit.
Tuh kan Dewa salah lagi harusnya dulu ia tak belajar tebar pesona pada semua wanita yang mengakibatkan dirinya memiliki julukan Buaya cap cicak yang tidak mempercayai Cinta. dan sialnya sang pembawa cinta sendirilah yang mematahkan Philopobianya.
Harusnya dulu ia belajar menenangkan wanita menangis saja, daripada sekarang ia kesulitan sendiri. Dewa kurang berpikir saat itu.
"Ya, baiklah, nangis saja sampai puass, kakak akan temani." Sedikit geram namun Dewa berusaha sangat keras untuk tidak menampakkan.
"Kok seneng banget sih lihat aku nangis, jahat deh!"
Oh My God, demi seluruh ko*dom di dunia ini yang tak pernah Dewa sentuh, harusnya ia memakainya saat dulu memutuskan menikahi wanita cantik super cerewet dan sedikit labil. biar tak perlu terjadi kehamilan dini seperti ini. bolehkan jika ia mengeluh saat ini. jika boleh, bisakah hormon kehamilan Cintya di beri pengaman agar tidak naik turun seenaknya. Dewa pusing.
"Ya sudah sih terserah kamu mau apa, biar kakak duduk di sini saja. menonton dan mendengar." ujarnya pasrah.
__ADS_1
"Emang aku sedang akting apa?" sambil menyeka air mata dan ingus saja wanita hamil itu masih bisa menyalak.
Ya Tuhan, penderitaan ini kapan akan berakhir.
Mungkin jika Cintya sudah mengetahui kebenaran tentang Dewa yang terlibat malam itu, Drama penderitaan ini akan berakhir dan terganti drama tangisannya sendiri.
"Terus mau apa dong? bilang aja mau apa kakak turuti semuanya." Dewa pasrah, terserah Cintya akan menyuruhnya apapun akan ia lakukan. yang penting ia tak melihat air mata itu mengalir terus-terusan.
"Mau peluk." ujarnya manja.
"Oh, peluk?"
"Hah, apa? peluk?" Cintya mengangguk, meringsek ke dalam dada bidang yang mulai tak bisa ia jauhi.
Peluk doang pakai drama nangis bombai. kenapa gak langsung ngomong aja sih. bikin pusing aja.
"Jangankan cuma peluk, yang lain juga kakak oke." tentu saja Dewa oke, apapun yang berkaitan dengan peluk memeluk, Dewa siap lahir batin.
"Kak, inikan ulang tahunku, aku sudah tidak pernah meminta apapun setelah kejadian malam itu. tapi hari ini aku memintanya." Cintya mendongak untuk menjangkau pandangan Dewa yang juga sedang membalas menatapnya.
"Kamu ingin apa cantik?" Dewa mengusap pipi gadisnya dengan ibu jarinya. menghapus jejak air matanya.
"Bantu aku menemukan mereka." Pinta Cintya dengan serius.
"Untuk apa?"
"Membuatnya merasa seperti apa yang Cintya rasakan. ketakutan dan kehilangan."
Dewa memandang intens Cintya. manik mata bening yang masih menyisakan basah itu seakan menyeret Dewa dan menenggelamkannya. bagaimana Dewa bisa menolak keinginannya, sedangkan tawa istrinya adalah segalanya.
Cintya adalah poros hidupnya. terlalu berlebihan memang. tapi itulah pilihan Dewa. menjadikan Cintya sebagain tujuan hidupnya. tempatnya berpulang dari segala rasa lelah dan penatnya hidup. menjadikannya semangat saat ia sedang terombang-ambing oleh badai kehidupan.
Cintya menjadi alasan untuknya hidup. mengembalikan semua yang hilang dengan cerianya. mampu menciptakan tawa yang selama ini Dewa buang. dan kini Cintya secara tidak langsung meminta untuknya menjauh. Dewa lebih baik mati.
"Kamu tidak kasihan padanya, bagaimana jika ia telah memiliki keluarga. anak-anaknya pasti akan sedih."
Baiklah alasan yang logis dan juga konyol. Dewa sedang menceritakan keadaan dirinya.
"Ayah juga punya keluarga dan juga anak-anak. dan mereka tak memikirkan itu."
Mana ada orang tawuran pakai mikir, kalau ujian sekolah baru mikir.
"Bisakah kita melupakan masalah ini saja biar ayah juga tenang. pasti ayah juga tak akan suka melihat kesayangan nya mendendam."
Cara merayu yang profesional.
"Apa benar ayah tidak suka? bagaimana jika ayah juga menginginkannya."
Memijit ujung hidungnya, Dewa menghembuskan nafas pendek. tentu saja istrinya tak akan mudah menerima pendapatnya. harusnya ia sadar jika istrinya adalah jago balap, jago mengendalikan dirinya dan juga jago ngeyel.
__ADS_1
"Sayang denger kakak ngomong ya, takdir seseorang tak ada yang tahu. kematian sudah pasti bagi yang bernyawa hanya saja mungkin caranya yang berbeda. dan ayah mungkin di takdir kan mengalami kecelakaan itu. dan yakinlah jika Tuhan lebih menyayanginya. dan kamu bisa melepaskan dendam dalam hati kamu agar ayah juga bahagia di sana."
Huh, sejak kapan Dewa bisa berkata bijak. bukankah itu aneh. kemana dirinya yang slengekan dan juga mesum.
"Tapi aku masih gak terima. pemuda itu, aku ingat dia yang melempar botol dan mengenai kaca mobil. dan akhirnya ayah. kehilangan pandangan. dan_"
Dewa memeluk erat tubuh istrinya hingga suaranya tenggelam di dada Dewa.
"Cukup jangan di teruskan." Gue udah tau ceritanya. gue yang lempar mobil ayah tepat di kaca depan. lanjutnya dalam hati.
"Kakak akan lakukan apapun biar kamu senang." meski harus mendekam di penjara. dan menjadi orang yang paling kamu benci.
"Sekarang sudah malam, tidur ya?" Dewa mencium kening Cintya hangat dan dalam. menumpahkan segala rasa yang ada dalam hatinya. cinta dan rasa bersalahnya.
"Gak mau, aku lapar."
"Mau makan?" Cintya mengangguk manja.
"Oke, mau apa biar kakak minta bibi siapin." Cintya tampak berpikir dengan mata memicing dan jarinya mengetuk-ngetuk keningnya.
Dewa sabar menunggu, tentu saja harus sabar. apa ada pilihan lain selain bersabar.
Sudah malam nyonya, gak usah drama. gerutunya tertindih lidah.
"Maunya lontong sayur."
Whaaaaat???
"Mana ada, ini tengah malam neng!"
Haduh!! mampus deh gue.
"Tapi maunya itu."
Dewa mengurut dada, harus lebih sabar menghadapi kenyataan. kenyataan jika istrinya adalah wanita super. super cantik, super manja, super cerewet dan entahlah.
"Bisa di ganti yang lain?" tawarnya cari aman.
"Gak mau."
Baiklah, seperti nya Dewa harus mulai memikirkan bisnis baru. yaitu bisnis kuliner makanan kampung agar memudahkan para suami yang mengalami nasib seperti dirinya.
Sepertinya Dewa Kualat karena sering membuat susah Alex.
***
Garing ya???
Dari pada kalian kangen si sableng ya kan?
__ADS_1
Gimana, apa Dewa harus menyerahkan diri ke mulut singa??? atau Dewa bohong saja.