
Happy Reading...
Cintya mulai memasang telinga dalam mode siap dengar, siaga satu. bersiap apapun yang akan Dewa katakan harus tertangkap oleh pendengarannya dengan sangat baik.
"Kita mulai?" Dewa mengulangi, Cintya mengangguk sebagai isyarat.
"Pada Zaman dahulu, hiduplah pangeran tampan yang di beri nama Dewa Herlamb..."
Dewa tak meneruskan ucapannya karena gadis yang tengah di peluknya sedang menatapnya dengan pandangan siap menerkam.
"Dewaa...." suara melengking memenuhi kamar dengan interior wah yang sudah persis seperti kapal pecah.
"Sendiko kanjeng ratu" Dewa menirukan gaya seorang abdi.
"Serius dong Om!" Cintya mendelik.
"Tadi udah serius elu malah teriakin nama gue," pasang muka melas.
"Bodo," Mode cemberut.
"Tuh kan, mulutnya gak sopan deh kamu dek," Dewa mengintip dari arah samping.
"Ya udahlah kalo gak niat cerita juga gak pa pa, gak rugi juga," Cintya hendak bangkit namun Dewa menahannya.
"Mau kemana?"
"Cari manusia yang bisa kasih limpahan cinta buat Cintya."
"Gue bisa kasih elu limpahan harta, kan enak tuh bisa bikin elu lebih bahagia?"
"Gitu ya?"
__ADS_1
"He"em, makanya elu sama gue aja."
"Oke deh, berangkat yuk," Ide negosiasi pun terlintas di otak si cantik.
"Kemana?" Dewa antusias.
"Ke KUA."
"Ngebet amat neng," Dewa terkekeh merasa menang.
"Bukannya Om bilang lebih cepat lebih baik?" Cintya membalas dengan tak kalah antusias, berkata penuh semangat.
"Emang pernah gue ngomong gitu?"
"Tuh kan bukti kalo Om udah Tua, suka pilon. pelupa?" Dewa nyengir.
"Ya udah gasskeun neng, hayuk,"
"Buat?" Dewa mengernyit tak mengerti.
"Bikin surat peralihan harta Herlambang plus surat cerai buat kita."
"Lah kok gitu sih beb." panggilan di ganti biar aman menurut Dewa.
"Menurut Cintya, yang paling bener tuh seperti itu."
"Gimana...gimana..." kali ini pria secerdas Dewa harus berfikir keras karena ucapan gadis tengil manja nan ceriwis itu.
"Kita nikah?" Cintya berkata setenang mungkin.
"Ya, terus" Dewa menyimak
__ADS_1
"Alihkan semua aset atas nama Cintya," masih dengan nada tenang
"Gak masalah," sangat ringan tanpa beban.
"Terus Kita bercerai."
"Lah kok gitu?" Mode kaget.
"Ya iyalah musti gitu, secara tadi Om bilang kalau harta om bisa kasih lebih dari pada cinta."
"Makin bingung gue cil." Dewa tampak berfikir keras, entahlah otak cerdasnya tak mampu mencerna ucapan gadis yang beberapa jam lalu ia buat menangis.
"Sederhananya ya Om, kalo kita bercerai itu kan auto seluruh harta Om kan jadi milik Cintya," Cintya menghentikan ucapannya, memberi jeda pria sableng di hadapannya untuk berfikir.
"Cintya jadi kaya raya tuh,"
"Astaghfirullah dek, kita bahkan belum qobiltu, elu udah niat jadi janda,ckkk ter la lu," Dewa pasang muka menyesal.
"Cantik, seksi, muda, kaya raya, pria mana coba yang gak akan ngantri buat jadi suami Cintya."
Dengan fasihnya Cintya mengabsen kelebihannya, meski belum semuanya menjadi kenyataan.
Dewa menelan salivanya susah payah. baru menyadari jika dirinya masuk ke dalam jebakan gadis cantik bermulut mungil namun eblas,
"Hal terakhir yang akan terjadi adalah, pewaris tunggal kerajaan Herlambang Auto akan jatuh miskin tinggal tampang doang yang tampan, kagak laku di jual." Dengan Santainya Cintya berkata. Dewa kembali dalam mode kalah omong.
"Bociiiil! tega bener lu ma gue," Dewa geram.
***
tereak terooos,,,
__ADS_1