Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Mengejutkan!


__ADS_3

"Bocil! ngapain lu di sini?" pertanyaan yang sebetulnya tak membutuhkan jawaban terlontar begitu saja.


Mungkinkah dia lupa jika beberapa menit yang lalu mereka sedang melakukan pertaruhan di atas sirkuit? sungguh pertanyaan yang bodoh dan sangat konyol.


Merasa familiar dengan suara itu, gadis yang ternyata adalah si calon makmum itu melotot dengan perasaan campur aduk. antara takut dan bingung. tak percaya dengan pendengarannya sampai akhirnya Dewa berjalan ke arahnya dan menarik tangannya untuk baik ke atas motor dan melesat jauh dari kerumunan.


"Berhenti.. berhenti.." Cintya memukul punggung Dewa bertubi-tubi.


Setelah beberapa ratus meter dari tempat semula, akhirnya Dewa menghentikan motornya, karena Cintya yang terus menerus memukul punggung Dewa seolah-olah dirinya sedang menjadi korban penculikan.


"Mau kamu bawa kemana aku? Mau nyulik aku atau mau nipu aku, gak mau ngasih uang taruhan?" cerca gadis dengan celana panjang dan jaket kulit berwarna hitam itu.


Dewa bergeming, tanpa melepas helm full face nya pria itu membiarkan Cintya mengoceh sambil melipat tangan di dada.


"Ngapain diam? apa selain penipu kamu juga bisu?" cerca gadis itu lagi.


"Sudah cukup ngomelnya? atau masih kurang?" Dewa melepas perlahan helm fullface yang menyembunyikan wajahnya.


Cintya kembali melotot. kali ini bukan hanya suaranya saja yang gadis itu kenali. namun wajahnya yang terpampang nyata di depan matanya membuatnya ingin segera menghilang dari tempatnya berdiri.


"Om!" Lirih Cintya nyengir. cukup takut sebenarnya namun ia berusaha menutupi kegugupannya.


"Apa lu cengar-cengir begitu?" bentak Dewa.

__ADS_1


"He... He.." Cintya tak menjawab. hanya tawa yang di paksa keluar saja yang terdengar.


"Kagak habis pikir sama gue, tenyata elu segila ini." Dewa menelisik tubuh Cintya dari atas sampai bawah Sambil memutarinya.


Cintya masih tak menjawab. lebih tepatnya tak tahu harus menjawab apa.


"Bilang sama gue, apa alasan elu bisa ikut beginian!"


"Nah Om juga ngapain ikut beginian?" Cintya tak mau begitu saja di persalahkan.


"Elu tanya gue?" Dewa menunjuk dirinya sendiri.


"Jangan samain gue sama elu!" bentaknya.


"Gue cowok bocii..l! jangan samain gue sama elu yang cewek! apalagi masih bocah!" bentaknya masih dengan nada yang semakin tinggi.


"Ya.. ya.. Cintya pengenlah merasakan sedikit bebas. melakukan keinginan Cintya. emang gak boleh?" Keringat dingin sudah keluar dari pelipis gadis yang rambutnya masih tergerai itu. sehingga melambai karena di permainkan oleh angin malam yang semakin mendingin.


"Jadi ini kebebasan yang sering elu omongin ke gue?" Cintya mengangguk.


"Menjadi pembalap liar di kehidupan malam?" Cintya kembali mengangguk.


"Apa orang rumah tahu masalah ini?" Cintya menggeleng.

__ADS_1


"Sepertinya gue harus pikir ulang tentang tawaran gue sama elu?" sambil menarik tangan gadis itu agar baik ke atas motornya Dewa berkata.


"Yang mana?" sepertinya Cintya lupa jika Dewa pernah mengatakan hal itu.


"Tawaran tentang ngasih kebebasan sama elu. dan membiarkan elu berbuat semau elu!" Dewa memutar kunci motornya lalu memacunya dengan Cintya yang sudah bertengger di atas motornya dan memeluk pinggangnya erat.


Dewa memacu motornya dengan kecepatan sedang dan Cintya masih memeluk erat pinggang pria itu.


Mungkin gadis itu sedang tidak sadar akan perbuatannya saat ini. jika dalam keadaan tertentu, pasti kata-kata dan gerakan jaga-jaga yang ia lontarkan.


"Cil, sejak kapan kamu main begituan?" tanya Dewa dengan sedikit memalingkan wajahnya. agar Cintya dapat mendengar suara nya.


"Sejak masuk perguruan tinggi. tapi berani ambil taruhan baru-baru ini saja" jawab gadis itu.


"Kalau dulu?"


."Kalau dulu cuma nonton aja sanya temen-temen"


"Temen cewek apa cowok?" tanya Dewa terdengar seperti sedang mengintrogasinya.


"Ya cowok lah! cuma Cintya doang yang perempuan." Jawab gadis itu yang membuat Dewa gusar dan secara tak sengaja menarik gas motor dengan sangat kencang. sehingga membuat motor yang sedang di tunggangi sepasang anak muda itu melesat cepat membelah jalanan malam yang mulai lenggang karena hari telah lebih dari larut.


.

__ADS_1


__ADS_2