Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Ada yang lupa.


__ADS_3

Happy Reading...


Setelah Kepergian Rendra, di susul Dewa yang kembali ke kamarnya, sesosok perempuan yang juga ikut mendengarkan pertengkaran keluarga itu muncul dari balik kegelapan.


Isabel masuk ke ruang kerja Rendra. di sana, Graciella terduduk di lantai sedang menangis. setelah puluhan tahun berlalu, kini ia harus benar-benar mengakui kekalahan.


Sejak dulu, ia selalu meyakinkan dirinya bahwa ia telah menang. mendapatkan pria yang menjadi idamannya. meski selama itu pula Rendra bersikap dingin dan datar padanya. tak ada cinta yang menggebu dalam diri Rendra untuknya. seperti yang ia lihat pada gadis sederhana seperti Diana.


"Kau tahu, dia sangat polos dan apa adanya."


"Apa kau menyukainya Rendra?"


"Tidak."


"Lalu?"


"Aku mencintainya. Aku jatuh cinta padanya Grece, ha..ha..ha.. aku jatuh cinta pada Diana, bagaimana menurutmu."


Graciella membeku dengan pengakuan Rendra kala itu. hujan turun dengan derasnya seolah semesta pun merestui ungkapan cinta anak manusia.


Kilauan petir yang menyambar, seolah menggoreskan luka di hati Graciella. gemuruh di hatinya terwakilkan oleh gelegar petir yang saling menyambar di atas cakrawala.


Rendra tertawa lepas di bawah guyuran hujan untuk mengekspresikan kebahagiaan. tanpa tahu jika saat itu Graciela berlomba dengan langit untuk menumpahkan air ke bumi.


Tapi hari ini, malam ini Graciela merasakan sakit yang tak terperi. luka puluhan tahun lalu kembali tergores oleh satu orang yang sama. ia harus sadar jika pemaksaan yang di lakukannya hanya menghasilkan luka. bukan untuk dirinya saja. tapi orang lain. Rendra, Diana, dan juga Dewa. haruskah ia juga menyeret Cintya dan kedua calon cucunya untuk merasakan luka yang sama. Graciella harus di sadarkan sebelum terlambat.


"Tante, jangan seperti ini?" Isabel menenangkan. ia bisa merasakan kepedihan Graciella. memeluk tubuh tua Graciella.


"Tante harus apa Isabel, selama ini tante sudah berusaha yang terbaik untuk hubungan kami." isaknya menumpahkan kesedihan.

__ADS_1


"Sudah cukup, tante tak perlu melakukan apa-apa lagi." karena Isabel yang akan melakukannya. sakit hatimu harus ada yang bertanggung jawab. lanjutnya dalam hati. isabel mengeraskan rahang penuh Dendam.


"Kita akan kembali ke Spanyol secepatnya."


"Tentu tante, setelah Isabel menyelesaikan urusan kita disini." Isabel membantu Graciella untuk berdiri. dan mengantarnya ke kamar. wanita yang telah merawatnya sejak kecil itu terlihat sengat buruk dan berantakan. setelah itu ia kembali ke kamarnya.


"Cintya yang akan membayar semua ini. bukankah akan sangat menarik jika dengan satu tembakan dua burung yang akan mati, ha..ha..ha.." Isabel tertawa sendiri dalam kamarnya.


***


Pagi menjelang, Aktivitas penuh semangat di awali dengan kecupan sayang di kedua pipi Cintya dan ciuman hangat di bibir wanita yang tampak gembul itu.


"Cinta, hari ini kakak akan pulang telat. jadi jangan nakal dan jangan bikin onar." Cintya cemberut dengan ucapan Dewa. entah apa maksud dari kata onar. apakah karena ia memakai pakaian kurang bahan dan menggoda Dewa?


Ah sialan, padahal itu adalah misi penyelamatan untuk Dewa dari ulah si ulat bulu.


Tangan berjari lentik itu masih lincah mengaitkan kancing dari kemeja putih dan merapikannya. Cintya melanjutkan dengan memasang dasi. meski dengan bibir mode bimoli, tangannya masih luwes melilitkan benda panjang bercorak garis itu di balik krah kemeja Dewa. sebuah aktivitas wajib yang harus Cintya lakukan sejak Dewa mengucapkan kalimat akad di hadapan penghulu.


"Ini kok makin runcing kenapa?" Godanya dengan mendaratkan satu kecupan.


Cintya menipiskan bibirnya sedikit miring. tak tertarik untuk menjawab. ia hanya ingin Dewa peka jika saat ini dia sedang merajuk.


"Nanti pakai yang warna hitam ya?" ujar Dewa mengingatkan tentang pakaian tak beradab untuk menyambut kedatangan Dewa.


Enak saja, itu sih gara-gara aku melihat Isabel memasukkan obat ke dalam air.


"Kamu seksi banget." Dewa mengerling nakal.


Tapi akunya capek di tunggangi kuda.

__ADS_1


"Tiap hari juga kakak oke." Dewa meremas bulatan di bawah pinggang Cintya.


Akunya yang keok.


"Biar twins seneng di tengok papi tiap hari."


Kamu deh yang paling seneng.


Cintya mendengus sebal, Dewa masih tak merespon acara merajukanya.


"Kak, nanti pulang sore ya, aku kok ngerasa gak enak." keluhnya tanpa di buat-buat.


"Kamu sakit, kita kerumah sakit sekarang. kakak yang antar." ujar Dewa cepat. tanpa menunggu penjelasan Cintya ia meraih tubuh membuncit itu ke dalam pelukannya dan membopongnya.


"Tunggu ih, maen slonong aja." Cintya menepuk dada bidang Dewa.


"Kenapa lagi cinta."


Dewa berjalan cepat menuju pintu, karena panik ia sampai lupa semua hal.


"Pakai celana dulu."


Saking cemasnya, Dewa sampai lupa jika belum mengenakan apapun di bawahnya. handuk putihnya masih setia melilit di pingganganya tanpa lapisan lain di dalam nya.


"Innalillahi!" serunya, lalu menurunkan Cintya dan mendudukkannya di sofa.


***


Makanya bang, pagi-pagi tuh otaknya gak usah ngeres. lupa sama celana kan.

__ADS_1


__ADS_2