Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Tidak benci hanya Dendam.


__ADS_3

Happy Reading...


Sepuluh hari setelah pernikahan, kembali mereka melakoni aktifitas seperti semula. menjadi atasan dan bawahan, di kantor maupun di rumah dengan cara yang berbeda.


Jangan tanyakan seperti apa kehidupan pasangan yang jauh dari kata anteng itu. setiap menit setiap detik hanya gelak tawa dan perdebatan kecil yang terjadi.


Bahkan hanya hal kecil saja membuat keduanya menemukan alasan untuk saling menjahili.


Rumah yang biasanya hanya ditinggali oleh pria tua kesepian dan beberapa asisten rumah tangga itu kini tampak ramai.


Celoteh riang dari sang menantu baru membuat suasana ceria. bahkan kini papa Rendra dan mama Graciella memutuskan untuk tinggal lebih lama di sana. dan tentu saja itu membuat seseorang senang bukan main.


Sedangkan Dokter Lilian juga akan tinggal di sana atas permintaan kakek. dengan alasan Delon yang selalu ingin dekat dengan Dewa, Lilian tak kuasa untuk menolak. bahkan sekarang dokter anak itu memutuskan untuk mengajukan surat pindah kerja agar lebih dekat dengan keluarga nya. tak ada alasan lagi bagi lilian untuk terus bersembunyi.


Keberadaan Delon bukanlah hal yang harus di sembunyikan terus menerus.


"Cinta..." seperti biasa Dewa akan berteriak setiap tak menemukan Cintya di kamarnya.


"Cinta..." kembali Dewa meneriakkan panggilannya.


Dan sepertinya sang pemilik panggilan tak mendengar teriakannya.


"Nyonya.." teriaknya untuk yang ketiga kali.


"Apaan sih kak, pagi-pagi udah teriak, mau jadi tarzan?" sungut sang nyonya dari arah belakang.


"Dari mana sih pagi-pagi udah ngilang aja."


"Mau apa?" balas Cintya ketus.


"N*tek boleh?" sambil tangannya mengulurkan dasi agar Cintya memakaikannya.


"Cih!" dan setiap pagi kata itu tak pernah absen dari mulut sang nyonya muda.


"Jangan cah cih mulu, dosa nanti kalo gak nurut sama suami." Ujar Dewa dengan menarik pinggang istrinya agar lebih mendekat ke arahnya.


"Suami mesum maksudnya?"


"Mesum sama istri sendiri itu pahala loh dek, gak lupa kan?" tangan nakalnya tak pernah bosan untuk merambat ke bagian punggung saat mereka dalam posisi berhadapan.


"Emang kakak gak bosan apa tiap hari kayak gini. nempel terus kayak cicak." ujarnya. Cintya menggerak-gerakkan tubuhnya agar Dewa menurunkan tagannya. jika tidak, mereka akan berakhir di atas ranjang pagi itu. tak jadi ke kantor.


"Gak lah, ngapain bosan. biar Dewa junior cepet jadi." Kini tangan kekar itu beralih ke bagian wajah. menyelipkan rambut sang nyonya kebelakang telinga lalu mengelus pipi pipinya dengan punggung jarinya.


"Emang kakak udah siap punya anak?"

__ADS_1


Cintya menarik simpul terakhir dari ikatan dasi suaminya dan merapikannya.


Kini tangan berjemari lentik itu bertengger di belakang leher Dewa. sebuah rutinitas pagi yang selalu mereka lakukan. berciuman dalam dan panas


"Kenapa enggak, emang kamu gak pengen apa?"


Seulas senyum di bibir mereka seolah menyampaikan pesan bahwa mereka saling melengkapi.


"Ya pengen sih, tapi kan,," Cintya tak tahu harus mengatakan apa karena dirinya takut belum mampu untuk mengemban tugas mulia itu.


Bukankah menjadi orang tua mengharuskan seseorang itu siap lahir batin, dan nyatanya Cintya masih terlalu kekanakan dan ceroboh jika dia harus beralih profesi dari anak menjadi orang tua.


"Kenapa hm?" Tangan besar itu kini beralih mengusap bibir ranum istrinya dengan ibu jarinya. itulah salah satu cara Dewa menunjukkan cintanya.


"Bagaimana jika Cintya belum mampu merawatnya dengan baik." ujarnya takut-takut. takut jika Dewa mengartikan lain ucapan nya dan takut Dewa tersinggung.


"Bukankah kita sudah berjanji akan selalu sama-sama. dan kakak pasti akan bantu kamu rawat mereka." ujar Dewa meyakinkan.


"Mereka?" dahi Cintya berkerut dalam.


"Ya mereka."


"Mereka itu berarti lebih dari satu loh kak, emang kakak pengen anak kembar?"


Cintya melepaskan tautan tangannya dan bahu Dewa dan beralih ke meja rias untuk mematut diri.


"Baiklah terserah kakak, yang penting saat ini ada hal yang lebih penting yang harus Cintya lakukan." ujarnya.


Dengan gesit Cintya menyambar jas dan Tas kerja Dewa. lalu membawanya.


"Apa itu?"


"Membantu kak Leo sama Dokter Lilian memperbaiki hubungan mereka."


"Gimana jika Lilian menolak baikan sama si Abang Ketus?"


"Ih mulutnya gak boleh jahat."


"Bukan jahat tapi kenyataan."


"Terserah, yang penting usaha dulu."


"Serah elu dah."


Perdebatan sepanjang anak tangga itu terakhir tepat di undakan tangga terakhir bersamaan dengan kedua kaki Cintya yang terhenti.

__ADS_1


"Satu lagi." Cintya mencekal pergelangan tangan suaminya yang hampir melewatinya.


"Paan?"


"Harus bikin si ulat bulu itu kapok."


Sebuah rencana yang tersusun sempurna terbesit di otak di cerewet. bahkan dengan melihat senyumnya saja orang akan tahu jika rencananya tak akan main-main.


"Ulat bulu siapa maksud lo?" alis Dewa berkerut sempurna


"Siapa lagi jika bukan Isabel." ketusnya dengan menekankan nama Isabel.


"Gak perlu lah, biarin aja."


Sebuah kalimat yang akan membawa Dewa pada sebuah masalah. sepertinya pria itu lupa jika sang nyonya memiliki dendam kesumat pada wanita jelmaan ulat bulu itu. dan apa ini? Dewa mencegah sang nyonya untuk membalas kekesalannya? benar-benar cari perkara.


Tak apa jika sekali saja, mungkin Dewa sudah siap dengan konsekuensinya jika menghalangi niat dari wanita yang jauh dari kata kalem itu.


"Apa kakak sedang melakukan pembelaan sekarang?" ketusnya di barengi pelototan tajam.


Ah, sepertinya Dewa akan kehilangan nafsu makan pagi ini karena membuat mood ibu negara sedang memburuk.


"Jangan bilang kalo kakak akan diam saja melihatnya merusak hidup orang lain?" Cercanya lagi.


Dewa kicep tak berani membantah. memang benar yang di katakan Cintya bahwa perbuatan isabel yang menjadi penyebab Lilian kehilangan kehormatannya tak dapat di maafkan.


Jika dulu Dewa membiarkannya lantaran Isabel berada dalam perlindungan Mamanya, mungkin saat ini lah dirinya bertindak sebagai kakak yang baik buat Lilian.


"Bukan begitu, kakak gak bilang seperti itu. kakak hanya tak ingin gadis kecil kakak menjadi jahat karena terlalu membencinya."


Dewa berusaha melakukan pembelaan namun sayang, mood yang telanjur hancur itu tak dapat dengan mudah untuk di perbaiki.


"Cinta.."


Cintya berjalan tanpa menghiraukan Dewa dengan muka bertekuk. tak ada niat sedikit pun untuk mendengarkan penjelasan suaminya.


Tekadnya sudah buat Isabel harus di beri pelajaran. tak peduli Dewa setuju atau tidak.


"Jangan terlalu membenci seseorang, itu tak baik."


Baiklah Cintya melihat Dewa berada di titik tertinggi dari yang disebut menyebalkan.


"Cintya tidak membenci, hanya dendam."


Eh,,,

__ADS_1


***


jejaaakk


__ADS_2