
Happy Reading...
"Apa? jangan macam-macam kalian." ibu berseru seperti ibu tiri jahat yang tak mau mengabulkan permintaan anaknya yang ingin ikut acara tamasya sekolah, saat Dewa mengungkapkan keinginan Cintya melakukan Babymoon di Praha, sebuah kota di benua Eropa yang memiliki julukan The City of a Hundred Spires, kota dengan seratus menara.
"Dan kamu Dewa, jangan selalu berkata 'iya' dengan permintaan istri kamu itu." seolah tak cukup dengan kalimat ancaman, kini ibu mertua yang tampak lebih garang dari singa itu beralih menyalahkannya. dan Dewa hanya mampu menghela nafas pendek dan kasar menghadapi dua wanita yang bertolak belakang kemauannya.
Jika di turuti maka ibu akan marah, jika tak di turuti maka sang istri yang lebih marah. Dewa menjadi manusia paling menderita di antara dua wanita yang saling berseberangan itu.
"Tapi aku mau ke sana bu," rengek Cintya seperti biasa. "kakak juga mau kok, iya kan kak?" Dewa semakin. bingung menghadapi dua wanita berbeda generasi itu. semuanya seolah-olah berlomba mencari sekutu.
"Emang gak bisa di dekat sini saja, lagian kamu juga belum acara tujuh bulanan sudah mau keluyuran aja." cicit ibu cepat tanpa jeda, membuat Dewa harus menahan nafas sejenak menyaksikan perseteruan dua wanita tersayangnya itu.
"Ih, gak keren banget deh, masa iya Dewa Herlambang membawa istrinya babymoon ke ancol, malu dong." cicit Cintya tak mau kalah. "lagian kita juga belum Honey moon." protesnya sambil melirik ke arah Dewa yang hanya diam mendengarkan perseteruan keduanya.
"Siapa suruh kalian gak bulan madu?" cerca ibu bertubi-tubi.
"Kan keburu hamil bu," sanggah Cintya tak mau di salah kan.
"Siapa suruh buru-buru hamil, makanya apa-apa itu di pikir dulu," sarkas ibu semakin menenggelamkan Dewa dalam kekalutan.
"Kakak tuh yang paling semangat!" tuduh Cintya pada Dewa. tak ingin di salah kan sendiri atas terjadinya konsepsi pada dirinya.
Apa? yang tadi itu pernyataan apa tuduhan. ya ampun, segini amat nasib gue.
__ADS_1
Rona merah menjalari wajah Dewa hingga telinganya. pria itu sangat malu, pembahasan yang seharusnya tak terjadi malah menjadi topik utama dalam pertengkaran ini.
"Kak, bilang dong sama ibu, kakak kan yang paling semangat, kita lakuin itu entah berapa kali sehari."
Ya Tuhan, Dewa rasanya ingin menenggelamkan dirinya di bawah lantai marmer saja. kenapa istrinya bisa sevulgar itu. Dewa tak tahu lagi harus berkata apa, bahkan untuk menyangkal ucapan Cintya saja rasanya lidahnya kelu.
"Bocah gemblung, itu juga salah kamu, ngapain salahin suami kamu."
"Kak," rengek Cintya meminta dukungan.
"Apa sih cinta," masih dengan nada memanjakan khas Dewa, pria itu memilih pura-pura tak mengerti akan permintaan istrinya. padahal hanya dengan melihat raut muka cintya yang memohon saja, ia sudah merasa pedih.
"Bilang sama ibu, kalo kakak juga mau kita pergi." Cintya bahkan sudah hampir menangis.
Lagi-lagi hormon kehamilan yang harus di salah kan.
"Maaf Cinta, kakak gak mau pergi kalo ibu gak ngijinin."
"Kok gitu?"
"Kakak gak mau jadi malin kundang, kamu juga kan?"
"Gak ada hubungan!"
__ADS_1
"Ada, kita gak boleh durhaka sayang, kamu gak mau kan twins jadi anak durhaka."
"Jadi?"
"Ya udah, kita gak pergi."
"Kak!"
"Maaf, yang ini kakak gak berani bantah."
"Terus aku gimana?"
"Ya udah, terima nasib aja."
"Kakaaaaak!"
Dan panggilan panjang dari sang ibu hamil mengakhiri acara debat sore yang terakhir dengan kesepakatan babymoon akan terjadi setelah acara tujuh bulanan kehamilan Cintya.
*
*
*
__ADS_1