
Happy Reading..
"Nandini! berhenti Nandini." Teriak seorang wanita tua berusia sekitar enam puluh tahun.
Gadis berhijab sederhana itu masih berlarian dengan membawa seekor anak kambing dalam pelukannya.
Nandini mempercepat langkah dengan sesekali berlari kecil. kali ini ia melewati persawahan saat padi baru di tanam. tanpa mempedulikan jika tanaman padi itu akan terancam pertumbuhannya. ia harus secepatnya sampai ke saung untuk tersembunyi.
"Monti, kau harus menyelamatkan aku." ucapnya pada kambing yang sedang ia gendong. meski Nandini tahu jika binatang itu tak akan mengeluarkan suara untuk menjawab nya, Nandini tetap mengajaknya bicara sepanjang mereka menyeberangi sawah.
"Tidak, kita harus menyelamatkan diri masing-masing. aku tidak mau menikah dengan juragan lele itu. kamu juga gak mau kan jadi kambing guling. padahal dia juragan lele kenapa harus mengorbankan kambing secantik kamu. ck!"
Nandini terus saja mengoceh sambil berdecak. gadis itu meluapkan kekesalannya lantaran ia di paksa menikah dengan juragan lele yang yang kata sebagian besar gadis di kampungnya sangat tampan, tapi Nandini tak melihat sedikitpun ketampanan dari wajah pria terkaya di kampung itu.
Kenapa? karena tahi lalat besar yang bertengger di atas hidungnya itu tampak seperti kotoran kambing yang tiap hari harus ia bersihkan. oh tidak ini mimpi buruk sepanjang masa jika Nandini harus melihatnya setiap hari. itu sama saja ia berada di kandang kambing selama dua puluh empat jam.
Apakah Nandini keterlaluan? anggap saja seperti itu karena nyatanya ia telah jatuh cinta pada pemuda desa lain yang merupakan petani biasa.
"Ah Monti, aku lapar sekali, tadi aku belum sarapan." keluh Nandini pada kambing yang ia turunkan di rerumputan.
Nandini mengusap-usap perutnya sambil memasang muka sedih. saat ini mereka berada di saung yang berada cukup jauh dari rumahnya. saung itu tampak bersih meski sedikit agak reot. itu membuktikan bahwa saung tersebut masih sering di gunakan.
"Nandu," Nandini menoleh dengan sedikit tersentak. reflek ia berdiri dan hendak berlari sebelum seorang pemuda muncul dari belakanganya.
Pria dengan kulit coklat namun terlihat terawat. ia memanggul cangkul di pundaknya dan tangan kirinya menenteng setandan buah pisang yang tak begitu banyak sisirnya.
"Kang Alam." Nandini sangat lega karena yang ia khawatirkan baru saja tidak terjadi. ia takut jika yang manggilnya adalah kakaknya yang tentu saja memihak si anak juragan lele.
"Kenapa kamu panik begitu." Pria bernama As'adil a'lam itu bertanya sambil mendudukkan tubuhnya di samping Nandini.
Tandan pisang yang ia bawah ia turunkan di atas teras saung. sedangkan cangkul yang sejak tadi ia panggul ia letakkan di samping saung.
Untuk beberapa saat mereka berdua saling terdiam.
"Din.."
"Kang,"
__ADS_1
Mereka berdua saling memanggil nama bersama tanpa di komando. lalu keduanya saling terdiam.
Setelah beberapa saat mereka saling menoleh.
"Aku..." kembali.kesuanya bersuara secara bersamaan
"Kamu dulu." pinta Alam kepada Nandini.
"Akang aja dulu." tolak Nandini karena ia merasa apa yang aka ia ucapkan tidaklah terlalu penting
"Aku akan berangkat ke kota. melanjutkan studi. Abah yang menyuruh." tutur Alam dengan suara sedikit terseret.
Nandini terdiam mendengar penuturan Alam. Baru saja ia ingin mengatakan dan meminta tolong agar Alam melakukan sesuatu untuk membatalkan rencana pernikahan yang di inginkan ayah Nandini. Perjodohan dua pihak yang tak mampu Nandini tolak.
Semilir angin segar di tengah sawah yang seharusnya menyegarkan kini serasa tak berguna bagi Nandini. Kembali ia merasakan sesak di dada. Dan ia teringat kembali pada masalah yang ia hadapi.
"Akang jadi berangkat?"
"Iya."
Memang rencana itu sudah pernah mereka bicarakan. Tapi Nandini tak tahu jika harus secepat ini perpisahan mereka.
"Kapan?"
"Besok"
"Kenapa harus secepat ini?" batin Nandini ingin bertanya. Namun apa daya, ia merupakan orang yang tak berhak untuk mencegah.
"Kenapa?" tanya Alam setelah karena melihat Nandini terdiam.
"Tidak apa-apa." jawab Nandini memaksakan senyum.
"Kamu gak ingin mencegahku?"
Apa itu sebuah permintaan? Kode? Atau bualan saja? Karena memang Alam yang sangat suka beromong kosong dan bercanda.
"Tidak akan!"
__ADS_1
Timpal Nandini berlagak cuek. Padahal dalam hati ia masih belum rela kehilangan teman mainnya.
"Kenapa kau jahat sekali Nandu?"
Nandini tersenyum sekilas. Nandu adalah panggilan kesayangan dari Alam untuknya.
Perasaan sedih ya g tadi ia rasakan kini sedikit terkikis. Ya, mereka bersahabat meski umur Alam lebih tua darinya. Ia lebih pantas menjadi kakak Nandini daripada temannya.
"Belajar yang benar ya kang, nanti setelah jadi dokter kembalilah ke sini.akang punya hutang banyak di sini."
"Aku tak pernah berhutang Nandu, Abah masih mampu membiayai ku, jadi aku gak mungkin punya hutang." kesombongan yang di dasari candaan sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Termasuk saat ini. Alam tidak benar-benar memamerkan kekayaan keluarganya meski Abah ya adalah orang terkaya di kampung.
"Bukan pada aku, tapi pada desa ini." jawab Nandini dengan cepat. Mematahkan kesombongan pura-pura pemuda di hadapannya.
"emang desa ini pernah kasih aku uang?" masih dalam candaan.
"Lebih dari itu."
Alam menghitung-hitung dengan jarinya. Rasanya ia tak pernah mengambil hasil bumi yg bukan milik keluarganya di desa ini.
"Aku punya hutang apa Nandu, aku ambil milik Abah saja bukan milik kepala desa."
Nandini mendadak cemberut karena ia mendengar kata kepala desa yang otomatis ia teringat pada si tompel.
"Kenapa tuh muka? Kok jadi mirip monti?"
Bugh!
Tanpa ba-bi-bu Nandini memukul bahu alam di ikuti gelak tawa pemuda itu.
"Kenapa?"
"Aku mau nikah besok."
***
Hai..hai.. Hai..di lanjut lagi ya cerita si Jeki,,, maaf udah buat kalian menunggu sangat lama.
__ADS_1
Lots of luv mek sableng