Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Si tukang seblak.


__ADS_3

Happy Reading...


"Lucia? kenapa Lucia?" Dewa mengucapkannya seringan kapas.


"Lu inget kan apa yang terjadi sama dia?"


"Gue inget gak akan lupa, terus apa hubunganya?"


"Kalo si Nonik tau gimana?"


"Gue udah ada perjanjian hitam di atas putih, jadi kalo dia macem- macem dia sendiri yang bakal rugi." Ucap Dewa masih tanpa beban.


"Lagian siapa suruh dia bohongi gue."


"Tapi kan Lucia masih bebas berkeliaran di sekitar elu, gimana kalo Lucia tiba-tiba minta pertanggung jawaban dari elu."


"Gue jamin dia gak akan sebodoh itu."


"Lucia kan...?" merasa melihat ada pergerakan dari ekor matanya, Alex tak meneruskan ucapannya. dia langsung teringat dengan seseorang yang juga berada di ruangan itu.


"Lucia, siapa Lucia?" tepat seperti dugaan Alex, suara sang Puteri yang telah terbangun membuat dua orang pria membeliak.


Alex gelagapan, Dewa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Cintya menatap bingung keduanya bergantian.


Sudah dapat di pastikan bahwa setelah ini akan ada drama ngoceh yang membuat telinganya harus memasang mode siap dengar dan mulutnya mode siap debat.


"Siapa Lucia?" ulang Cintya.


"Lucia itu,,," Dewa ragu untuk melanjutkan.


Alex di buat semakin ketar-ketir. setelah ini Dewa pasti akan menghabisinya.


Di lihatnya sebentar wajah gadis yang berhasil menaklukan singa buas di hadapannya. Alex menelan ludah, dirinya sangat yakin jika bosnya pasti akan mendapatkan masalah. sepertinya gadis ini tak akan mudah untuk di bohongi.


"Lucia itu penjual seblak yang menjadi inceran si Alex," ujar Dewa cepat. pria itu memberi kode dengan tatapan tajamnya. sedangkan Alex hanya nyengir sebagai jawaban. antara iya dan tidak.

__ADS_1


Cintya memperhatikan raut keduanya yang tampak sangat mencurigakan, karena tak biasanya Alex cengengesan seperti itu di kantor.


"Om tidak bohong kan?" Cintya memicing menatap curiga ke arah Dewa.


Dewa menelan salivanya dengan susah payah. seumur-umur belum pernah ia merasa ketakutan di bawah tatapan seorang gadis.


Apalagi dia hanyalah gadis kecil yang baru masuk ke dalam hidupnya. namun gadis kecil inilah yang membuat harinya menjadi berwarna.


"Enggak cil, gue gak bohongin elu, tanya aja si Alex," Dewa mendelik sembari mulutnya komat-kamit memberi kode.


Alex yang sangat senang jika Bosnya mendapatkan kesusahan dari gadis yang membuatnya bertekuk lutut itu pun dapat segera menangkap ide yang melintas di kepalanya


"Lebih tepatnya inceran kita berdua," Alex nyengir membuat Dewa kalang kabut.


Cintya mendelik tajam dengan kilatan amarah di matanya.


"Kok Cintya mencium bau-bau kebohongan di sini?" Cintya menoleh ke arah Dewa dan Alex bergantian.


"Lex, mau mati lu?" Dewa berucap tanpa suara.


Dewa terperangah, tidak di sangka asistennya ini berani menghianatinya.


Dewa nyengir garing, di lihatnya raut masam Cintya yang tengah berkacak pinggang. sudah dapat di pastikan setelah ini dia harus merangkai rayuan maut untuk meluluhkan gadisnya kembali.


"Jadi beneran dia tukang seblak?" Dewa mengangguk dengan wajah seperti orang tolol.


Di lihatnya Alex yang mengulum senyum menertawakan dirinya.


"Tapi Dia lebih suka sama rayuan gombalnya si Alex." Dewa berkilah.


Tak mau kalah, Alex pun harus dapat membuat bosnya mati kutu di hadapan gadis yang sedang memasang muka garang.


"Tapi kata bos, tak ada yang mampu mengalahkan pesona si Lucia. katanya dia sebelas dua belas sama dirimu Neng."


Dewa menutup mata. sungguh kali ini Alex tak dapat di maafkan.

__ADS_1


Cintya semakin meradang, emosinya kembali tersulut. belum genap dua puluh empat jam Dewa membatalkan perjodohan mereka, dan melamar dirinya bukan sebagai cucu eyang Herlambang melainkan menjadi pria dewasa yang akan bertanggung jawab sepenuhnya atas dirinya, kini dia harus mendengar calon suaminya memuji perempuan lain.


Ini penghinaan!


"Om,"


Dewa menggeleng kuat sebagai aksi pembelaan dirinya. melihat itu Cintya menjadi yakin jika yang di ucapkan Alex adalah benar.


Dengan muka kesal, Cintya meninggalkan meja kerja Dewa lalu melangkah ke meja kerjanya sendiri. dengan cepat gadis itu menyambar tasnya dan pergi berlalu dari ruang kerjanya yang di ikuti Dewa dari belakangnya.


"Cil," panggil Dewa namun Cintya tak hirau sama sekali. dengan menghentakkan kaki gadis itu terus melangkah masuk ke dalam lift yang kosong di ikuti Dewa di belakangnya. tak peduli tatapan karyawan yang mulai berdatangan pagi itu menyaksikan keduanya dengan pandangan heran dan penuh tanya.


"Cil,"


"Apa?" bentak Cintya garang.


"Elu cemburu?" Dewa mengulum senyum menyebalkan.


"Enggak!"


"Tapi kok marah?" Dewa semakin gencar merayu.


"Siapa juga yang marah?" Sergah Cintya tak terima.


"Itu mukanya cemberut?" Dewa menunjuk ke wajah gadis yang memang sedang memasang muka jutek.


"Biasa aja?" Cintya masih tak terima dengan tuduhan Pria yang tengah merayunya saat ini.


"Terus kenapa?"


"Cintya cuma gak suka di samain dengan tukang seblak!"


***


Jiaaahhh.... nggluethek!!! wkkk

__ADS_1


__ADS_2