
Happy Reading...
Aku terkurung oleh rindu, berperang melawan waktu, hanya untuk memulai sebuah kisah.
Kisahku dan dirimu.
***
Belum sempat Cintya berkata, bibirnya sudah menjadi korban untuk yang kedua kalinya. namun kali ini dengan durasi yang lebih panjang dan melenakan.
Dewa mengusap bibir Cintya yang masih basah dengan ibu jarinya.
"Gue bilang juga apa, bibir gue manis kan?"
Mata bening Cintya menatap tajam, menembus manik abu-abu Dewa yang menenggelamkan. Cintya terbawa arus dalam keindahan di dalamnya.
"Mau lagi?"
Cintya membuka sedikit mulutnya yang semula terkatup, tanpa kata. Dewa kembali mendekat, serasa mendapat angin surga. tak mungkin pria dengan predikat Casanova akan menyia-nyiakan kesempatan. jiwa bisnisnya memerintah untuk mengambil kesempatan yang jarang-jarang terjadi.
Kecupan pertama, kena.
Kecupan kedua berhasil.
Kecupan ketiga sukses!
Ke empat, Tess!
"Ehm"' jerit tertahan dari mulut Dewa.
Satu gigitan, sempurna dari pemilik bibir mungil.
Dewa meringis.
Cintya mendelik
Pembaca, menganga.
Author, ngikik mirip nyai. wkkk
"Sadis lu cil," Dewa mengusap bibirnya, cairan asin membuatnya meringis perih.
"Dasar Soang. maen sosor aja," umpat Cintya ketus.
"Kok Makin turun level gue," Dewa terkekeh.
Cintya cemberut tak suka. Dewa justru semakin gencar menggoda merapatkan tubuh mereka.
"Gue bakal turutin hal yang elu mau."
"Apa?"
"Putusin perjodohan kita." ujarnya ringan tanpa beban, dan yang lebih menyebalkan adalah dia tersenyum setelahnya.
What the hell!
Setelah yang dia lakukan? cari mati!
Cintya menjauhkan tubuhnya, mendorong dengan kuat tubuh Dewa dan menghempaskannya. pandangannya sulit di artikan, antara kecewa dan terluka.
Mengambil langkah ke samping untuk bisa lepas dari tangan pemuda yang entah terjangkit virus apa karena seharian ia bertingkah aneh.
Baru beberapa langkah, tangan Cintya ditarik kembali, mengakibatkan gadis itu menabrak dada bidang pria itu kembali.
"Gue cuma minta elu percaya sama gue." kembali tatapan lembut itu terlihat.
Cintya masih diam, "Semua bakal baik-baik saja."
Masih tak bersuara.
"Impian Lo bakal terwujud, gue janji."
__ADS_1
Cintya tersenyum, hanya senyum kecil yang mengartikan semuanya
Dewa beringsut menuntun Cintya ke ranjang yang masih berantakan dan mendudukkannya. sejurus kemudian ia berjongkok, seperti seorang hamba di bawah titah sang ratu.
Tangannya terulur membawa kaki kanan Cintya ke atas pangkuannya. membuat pemiliknya terpekik karena terkejut.
Mata Cintya lekat memandang wajah Dewa yang tampak tak seperti biasanya. lebih romantis dan manis.
Tanpa di sadari gadis itu, Dewa telah melingkarkan sebuah benda lambang cinta yang kuat di kaki jenjangnya
Aku terkurung oleh rindu, berperang melawan waktu, hanya untuk memulai sebuah kisah.
Kisahku dan dirimu.
"Gue udah iket Elu, jadi elu gak akan bisa kabur lagi dari gue."
Cintya trenyuh, antara percaya dan tidak. bos somplak yang merangkap menjadi calon imam nya seromantis ini.
Oh, mungkin Dewa kesambet setan romantis saat mati lampu tadi. begitulah kira-kira pemikiran Cintya.
Kedua netra saling mengunci dengan tatapan beribu makna. Dewa dengan senyum teduhnya, senyum yang hampir tak pernah terlihat. karena biasanya hanya cengiran mesum yang menghias bibir tipis merah alaminya.
"Lu tahu berapa tahun gue simpen ini?" Cintya menggeleng.
"Gue udah siapin ini sejak enam tahun yang lalu."
"Hah!" Cintya terperangah.
"Gue dapet ini di Myanmar, sengaja buat seseorang yang gue tunggu." mata cantik itu semakin membulat.
"Cantik kan?" Cintya mengangguk.
"Seperti Elu, cantik dan kuat." gadis itu tersipu.
"Elu suka?" Gadis itu mengangguk malu-malu.
Dewa tersenyum, beralih mencium kaki jenjang itu dengan kasih sayang.
"Ini gratis kan? gak potong gaji?"
"Elah cil, lu ngerusak momen romantis gue!"
Dewa kesal. langsung berdiri dan menyambar kemeja dari dalam lemari yang sana dan memakai dengan cepat.
"Cintya cuma takut entar ini di hitung kredit sama Om," Cintya membelai benda yang melingkari pergelangan kakinya dengan seulas senyum. Dewa dapat melihatnya dengan jelas lewat pantulan kaca.
"Kita pulang, gue mau masalah ini cepat kelar" Dewa menggamit pundak Cintya dengan tangan kanannya. sementara tangan kirinya meraih tas tangan gadis itu dan membawanya.
Romantis sekalee.
"Apapun yang gue katakan nanti, elu diem aja, gue cuma minta elu percaya sama gue."
Senja benar-benar telah mengalahkan teriknya siang. jalanan tampak lenggang sore itu. mobil Dewa berpacu dengan pelan. seolah mendukung sang tuan yang sedang menikmati getaran hati atas membuncahnya sebuah perasaan.
"Kok diem?"
"Maunya elu gue ngoceh?"
"Om masih punya hutang penjelasan sama Tya,"
"Tentang?"
"Kisah percintaan Om "
"Yakin mau denger?" Cintya mengangguk.
"Gak takut cemburu?" gadis itu menggeleng kuat.
"Mau tau kisah cinta monyet apa cinta gorila?"
."Homosapiens juga oke?"
__ADS_1
"Eitdah, jelek amat kisah gue." Dewa menghirup nafas siap untuk bercerita.
"Terkisahlah.."
"Gak pake drama, cepetan!" bentak Cintya yang yang sangat tau kebiasaan Dewa.
"Ini juga baru mulai cerita Cil, diem napa!"..
"Oke,"
"Cerita ini di awali saat gue berumur empat belas tahun."
Cinta diam.
"Gue bertemu dengan gadis kecil dalam sebuah pesta, dia sangat cantik dan manis."
Cintya senyum-senyum.
"Gadis kecil itu mengalihkan perhatian gue, intinya Dewa ter pe so na"
Seerrr... Dada Cintya berdesir.
"Lalu gue melihat dia lari ke dalam gedung yang pembangunannya belum sempurna. Gue keliling cari dia dalam kegelapan. gue lihat dia menangis sendirian. dia ketakutan dan gemetaran "
Cintya Dejavu, ia seperti mengingat momen itu.
"Lalu gue bawa dia balik dengan menggendongnya."
"Kakak, makasih ya udah tolongin Adisty, kakak mau kan jagain Adisty selamanya?"
"Iya, Kakak janji jagain kamu selamanya."
Dewa tersenyum, suara gadis kecil berusia delapan tahun terekam jelas dalam memory ingatannya. dengan pandangan penuh arti Dewa menoleh ke arah Cintya. tampak gadis itu sedang melamun.
"Dan gue akan melaksanakan janji gue sekarang. ujar Dewa dalam hati.
"Kok Cintya seperti pernah mengalami itu?" Cintya memandang Dewa dengan raut wajah bertanya. Dewa hanya tersenyum tipis. sangat tipis hingga Cintya tak menyadarinya.
"Lalu hubungannya apa dengan Om yang tidak mau terlibat perasaan cinta?"
"Kagak ada."
"Isshhh... cerita panjang lebar ternyata zonk." Cintya mendesis marah.
"Gue gak bohong Cil, kan gue udah bilang suatu saat gue bakal cerita. sabar napa?"
"Sebahagia Om sajalah,"
Mobil Dewa telah masuk ke pelataran rumah keluarga Mahendra. Suasana temaram karena hari beranjak malam.
Dewa dan Cintya keluar dari mobil dan,
Bugh!
Satu pukulan mendarat mulus di rahang yang sedang berbulu halus itu.
Leo memandang penuh amarah, apalagi melihat penampilan Cintya yang mengenakan kemeja putih milik Dewa.
"Apa yang udah lu lakuin ke adek gue?" cerca Leo penuh emosi.
Dewa menyeringai, "Menurut Lo?" Dewa berkata santai.
"Brengsek!, lu bener-bener cari mati sama gue !" umpat Leo garang.
***
Udah biarin Dewa sama Leo berantem, masalah mereka tak akan pernah selesai.
kita intip yuk tali apa di pake buat ngikat Cintya.
__ADS_1
Cantik juga, Dewa lumayan Romantis batu Ruby yang melambangkan Cinta dan kekuatan.
jejak nya gengs....