
Kalian nunggu gak sih, aku sedih Lo kalo kalian pelit jempol.
Happy reading...
***
Satu jam yang lalu.
Brak!!
Cintya membuka pintu dengan keras. dan membuat seseorang yang bersandar di daun pintu itu terhuyung dan menabrak tubuhnya.
Tanpa melihat dan mempedulikan siapa yang menubruk tubuhnya, Cintya justru menajamkan mata melihat ke arah wanita yang berdiri kaku di depannya.
Tatapan tajam mengintimidasi, bahkan Dewa saja tertunduk karenanya.
Setelah puas memindai wanita itu dari atas sampai ke bawah, Cintya melihat ke arah Dewa.
Tatapan bengis ia lemparkan pada sang suami. mata Cintya yang menajam mengisyaratkan banyak hal. seolah menanyakan 'apa kalian merencanakan sesuatu?' dan dengan cepat pria itu menggeleng meyakinkan.
Kembali Cintya melayangkan pandangannya pada gadis berambut coklat yang tergerai dengan gaun tidur yang sangat pendek di hadapannya.
Cintya berjalan lebih dekat sambil bersidekap. dengan pandangan penuh ejekan dan cemooh yang tanpa di tutup-tutupi .
"Apa kau baru saja menawarkan kamar lain untuk suamiku nona?" tanya Cintya tanpa tedeng aling-aling.
Isabel terdiam mematung, ia terpojok dengan sangat buruk. pertanyaan Cintya tepat sasaran. gadis itu sampai tak mampu menjawab.
"Apa di negaramu kau bekerja sebagai seorang resepsionis?"
Isabel menggeleng, hanya itu yang bisa ia lakukan. tatapan tajam penuh intimidasi masih memburunya. seperti hendak menguliti hanya dengan satu kedipan mata.
"Lalu kenapa kau menawarkan kamar kepada suamiku?"
Kembali pertanyaan Cintya hampir membuat jantungnya meledak. gadis itu tak salah. ia mengatakan apa yang di dengarnya dengan sangat jelas.
"Apa selain tuli kau juga bisu Isabel?" kali ini bukan hanya jantung yang akan meledak bahkan harga dirinya pun terkoyak oleh ucapan pedas Cintya.
"Jangan bicara sembarangan, aku hanya kasihan pada sepupuku karena kau menguncinya di luar?" usaha membela diri, namun sayang musuhnya terlalu pintar dalam berdebat.
"Apa suamiku meminta bantuan mu?" lirikan maut kini beralih pada sang tersangka.
Dewa tergagap, meski bukan dia yang mendapat pertanyaan. dengan cepat kepalanya menggeleng melakukan pembelaan.
Begitupun dengan Isabel, gadis itu menggeleng dengan cepat. menyanggah ucapan Cintya agar terlihat benar.
Rasanya ia tak akan menang jika harus berdebat lebih lama. ia berada di posisi tak menguntungkan.
"Lalu bagaimana bisa kau berada disini? bukankah kamarmu berada di bawah."
"Aku tidak sengaja."
__ADS_1
"Apa kau mempunyai kebiasaan berjalan sambil tidur?"
"Tidak, aku haus aku hanya ingin ke dapur mengambil air."
"Dapur berada di bawah dan tempatnya tak jauh dari kamarmu. lalu kenapa kau bisa sampai di sini bahkan di depan kamar kami."
Dewa membelalakkan mata, ia bahkan sampai kesulitan menelan ludahnya sendiri.
Selama ini ia hanya tahu jika gadis kecilnya cerewet dan ahli membuatnya kesal. namun siapa sangka jika mencerca dan mengintimidasi musuhnya menjadi salah satu keahliannya.
"Aku tak sengaja melihat Dewa, dan.. dan..."
"Dapur cukup jauh dari sini. bahkan kami memiliki dapur mini untuk kami pribadi jika kau ingin mengatakan kebetulan melihat kakak berada di dapur."
"Aku..aku.."
Isabel tak berkutik, Cintya bukan gadis yang bisa di anggap remeh. dia bukanlah lawan yang sebanding. lidahnya terlalu lihai untuk membelitkan kata.
"Sudahlah, lupakanlah. aku tahu kau sangat memperhatikan kakak." Cintya berkata ringan namun menekankan di bagian kata memperhatikan hingga giginya beradu.
Isabel sontak mendongak, menelisik wajah datar Cintya yang terkesan dingin.
Namun ia harus sadar, jika dirinya ular maka Cintya adalah bunglon yang mampu beradaptasi di manapun tempatnya berpijak.
"Aku rasa kau hanya ingin mengetahui seberapa mesra dan saling terbukanya kami, benarkan?" Cintya menampilkan senyum termanis namun itu terlihat sangat menakutkan.
Di dekatinya Isabel yang masih mematung. hingga kedua ujung jari kaki mereka beradu.
"Kau akan melihat bagaimana cara kami saling mencintai dan terikat." Cintya berbisik lirih tepat di depan telinga Isabel.
"Kau bukanlah tipe perempuan yang mampu membuat suamiku puas, hanya aku yang mampu. hanya aku yang di pujanya karena hanya aku yang di cintainya. akulah siang dan malamnya. Cintya Adisti Herlambang." ulangnya dengan smirk di sudut bibirnya.
Dewa masih membeku di tempatnya. melihat raut muka masam Isabel, dalam benaknya pria itu bertanya, apa yang di bisikkan istrinya kepada perempuan itu. dengan membayangkannya saja Dewa bergidik.
Cintya mengendurkan injakan kakinya, membuat Isabel sedikit mengendur. lalu si cantik nan cerewet itu berbalik menghampiri Dewa dengan senyum tercantiknya.
"Kakak, Cintya gak bisa tidur tanpa kakak, maaf ya?" ujarnya manja. di kalungkannya kedua tangannya ke leher kokoh Dewa dan bersandar mesra pada dada bidang suaminya, membuat sang pria merasa bangga karena istrinya tak bisa jauh darinya.
"Iya Cinta, sekarang mau tidur kan?" Dewa membalas pelukan gadisnya dan membelai rambutnya dengan sayang.
"Kakak temani?" Cintya mengangguk dalam pelukan Dewa.
"Ya udah, kita tidur sekarang " ajak Dewa hendak berbalik tapi Cintya menahannya.
"Kenapa?"
"Gendong." pintanya manja.
"Siap yang mulia." Dewa sudah siap dengan mengangkat tubuh istrinya. tapi Cintya kembali menahannya.
"Kenapa lagi?"
__ADS_1
"Cium?" ujar gadis itu dengan rengekan manja khas dirinya.
Dewa sumringah, di sambarnya bibir mungil istrinya, lalu mencecap dan mengulum hingga ciuman itu menjadi panas dan semakin menuntut.
Tak mempedulikan di sana masih ada manusia yang meradang melihat adegan live di depannya. dengan tangan terkepal dan wajah yang memerah menahan kesal.
Dewa membawa masuk gadis dalam gendongannya tanpa membuat tautan bibir mereka terlepas dan menutup pintunya dengan kakinya hingga menimbulkan bunyi dentuman yang sangat keras.
Isabel berbalik dan meninggalkan kamar tertutup itu dengan menghentakkan kaki.
Dan saat itulah pergulatan panas mereka di mulai.
***
Dewa bersandar pada headboard dengan Cintya yang berada dalam pelukannya. tubuh mereka sama-sama polos. pergulatan panjang nan panas yang mereka lakukan beberapa menit yang lalu benar-benar merontokkan tenaganya. bahkan untuk sekedar memakai kembali pakaiannya pun Cintya tak sanggup.
"I love you." ucap Dewa sambil mendaratkan ciuman di kening istrinya.
"I love you more, engkong " timpal Cintya dengan suara sangat mesra hampir mendesah.
"Kok engkong?"
"Kan emang tua" jawabnya Nyengir.
"Tapi masih hot kan?" Cintya mengangguk.
"Makin hot!" jawab Cintya membuat Dewa tergelak.
"Kamu juga makin hot."
"Benarkah?" Dewa mengangguk meyakinkan.
"Biasa saja."
"Enggak, buktinya tadi minta ciuman dulu di depan pintu."
" Oh, itu... itu supaya pelakor murahan itu tau batasannya."
"Kenapa kamu bisa menyebutnya pelakor?"
"Karena dia selalu berusaha menarik perhatian om."
"Kok tau?"
"Ya Taulah, dia udah Cintya kunci sejak pesta kita malam itu.
Flashback on.
Bersambung...
***
__ADS_1
Next pagi, semoga gak lupa.
jejaaak,