Kutukan Cinta Sang Casanova

Kutukan Cinta Sang Casanova
Memaksimalkan waktu


__ADS_3

Happy Reading...


Hari ini Cintya dan kedua bayinya sudah di perbolehkan pulang. dan untuk seminggu ke depan Dewa hanya akan berada di rumah. menemani Cintya dan membantunya untuk mengurus si kembar karena pengasuh bayinya batu akan mulai bekerja minggu depan. dan itu semua atas permintaan Dewa. dengan dalih bahwa ia ingin menjadi orang tua yang sempurna, selama seminggu ia akan memaksimalkan waktu untuk menemani si kembar dan Cintya.


Semuanya terasa baru bagi Dewa dan Cintya. keduanya tak memiliki pengalaman apapun. mereka hanya menuruti nasihat dari ibu dan mama selebihnya mereka hanya mempelajari dari internet. termasuk cara memandikan dan merawat bayi mereka.


Untuk hal-hal yang lainnya, Cintya hanya mengandalkan nalurinya sebagai seorang ibu. saat si kembar menangis karena lapar ataupun saat mereka ingin di gendong dan di timpang, Cintya pasti mampu melakukannya. dan ia sangat yakin Dewa tak akan meninggalkannya. Dewa akan selalu di sampingnya. bahkan saat ini, Cintya yang lebih banyak tidur dan Dewa berjaga hingga dini hari.


Hari masih terlalu pagi, dan Dewa hanya terpejam selama tiga jam. dan sekarang matanya sudah kembali segar. ia sudah siap dengan tantangan baru dalam hidup nya. menjadi ayah yang sempurna.


"Aza sayang, please dong nak jangan nangis, nanti Mami marah," Dewa kelimpungan karena bayi perempuannya menangis kencang karena ulahnya.


Padahal Cintya sudah memintanya hanya menjaga bukan mengganggu tidur bayi itu.


Tapi bukan Dewa namanya jika membiarkan jarinya menganggur tanpa menoel-noel pipi bayi cantik itu.

__ADS_1


"Papi janji deh gak akan ganggu Aza lagi," Dewa masih berupaya untuk menghentikan tangis melengking itu. "diem bentar aja, nanti kakaknya bangun itu dek. kasihan nanti kakaknya." bujuknya lagi seolah bayi itu mengerti apa yang di ucapannya.


"Gimana kalo kita bikin kesepakatan, adek berhenti nangis, habis itu papi kasih hadiah." andai saja bayi berumur empat hari itu mampu menjawab, pastinya dengan lantang gadis itu akan menjawab 'No papi resek suka ganggu cewek.'


Dan bukan nya berhenti, bayi perempuannya itu semakin kencang menangis. dan Dewa yang sudah lelah membujuk pun akhirnya memilih untuk memanggil Cintya.


"Cinta,," panggilnya dengan suara sedikit keras "cepetan dong, ini adeknya nangis."


Cintya yang baru saja berendam harus kembali keluar dari air. padahal air hangatnya belum juga dingin dan dia harus segera menyelesaikan mandinya.


"Gak ada ya kakak iseng gitu, ini Aza emang lagi haus kali." kilahnya tak ingin di salahkan.


Tuh dek, mami kamu marah sama papi. kamu sih nangisnya kenceng banget. ucapnya lirih pada bayi yang kini meronta dalam box nya.


"Tadi kan dia anteng bobok, pasti kakak bangunin." ketus Cintya dari dalam.kamar mandi. bahkan Dewa bis membayangkan saat ini pasti istri cantiknya itu sedang mengerucutkan bibir.

__ADS_1


"Enggak sayang, tadi kakak cuma intip saja kok gak pegang, iya kan dek," Dewa meminta persetujuan dari bayi yang bahkan membuka mata saja masih kesulitan. sekonyol itu memang seorang Dewa.


"Gak percaya!"


"Kok gak percaya,tanya saja sama adeknya. ya kan Aza, tadi papi cuma intip doang sama cium dikit." Dewa harus mengigit lidahnya sendiri karena menyadari kekeliruannya. semoga saja Cintya tak mendengarnya.


"Dek, janji ya sama Papi jangan bilang sama Mami kalo tadi papa cium sedikit. bisa-bisa ngamuk tuh singa betina."


Setelah mengucapkan itu, Dewa memukul-mukul pelan paha bayi kecil itu untuk menenangkannya. tanpa menyadari jika ada wanita yang mungkin saja sedang kerasukan arwah singa betina.


"Jadi aku singa betina gitu?"


Emm...


***

__ADS_1


Baiklah, Dewa kamu harus siap jadi santapan singa lapar pagi ini.


__ADS_2